Bank Gelap Rentan aksi Penipuan - Tidak Ada Jaminan

Tak dapat dipungkiri, tingkat keuntungan yang dihasilkan oleh bank-bank di Indonesia jelas sangat menggiurkan, baik dari sisi perolehan laba tahun berjalan maupun dari sisi margin. Tak ayal kondisi itu justru membuat siapa saja, termasuk lembaga yang bergerak seperti bank gelap (shadow banking) semakin menjamur di negeri ini.

Lembaga keuangan mikro yang beroperasi seperti bank yang menghimpun dana dan menyalurkannya berupa kedit atau investasi ini, memiliki kesan tersendiri di hati para nasabahnya. Pasalnya, walaupun bunga pinjaman yang diberikan terbilang tinggi jika dibandingkan dengan bunga pinjaman di bank, shadow banking sering menjadi alternatif satu-satunya bagi masyarakat kecil dalam memperoleh bantuan dana.

“Persis seperti praktek dari sebuah bank, tapi tanpa memiliki izin praktek seperti sebuah bank. Karena itu namanya Bank Gelap,” ujar Praktisi perencaana keuangan, Safir Senduk.

Bank Gelapsecara tradisional sudah ada sejak dahulu sebelum diperkenalkan sistem perbankan yang sekarang ini. Dengan menggunakan syarat yang tidak sulit dalam mendapatkan pinjaman kredit, maka masyarakat banyak yang beralih kepada praktik Bank Gelapini. Namun, perlu dicermati masyarakat bahwa shadow banking tidak mempunyai payung hukum dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), maka akan memberikan dampak negatif kepada masyarakat

Hal ini dapat dilihat dari tindak-tindak kejahatan seperti penipuan kerap terjadi dalam praktik lembaga dengan bunga pinjaman yang dapat mencapai 90% ini. Seperti keterlibatandebt colectordalam penagihannya. Tindak kejahatan lainnya yang terjadi adalah raibnya uang nasabah karena dibawa kabur oleh pelaku bank gelap. Akibatnya, tak sedikit nasabah yang merasa dirugikan.

Penipuan investasi berkedok koperasi, MLM dan lembaga keuangan mikro adalah salah satu masalah yang sering muncul dari buruknya praktik Bank Gelap. Seperti tindakan penipuan oleh “Koperasi Langit Biru” yang telah menggalang dana dari 140 ribu nasabah sejak tahun 2011. Masih hangat dalam ingatan publik, betapa meresahkan dampak “Koperasi Langit Biru” yang merupakan bentuk shadow banking dimana koperasi ini tidak memiliki izin mendirikan koperasi simpan pinjam yang menghimpun dana masyarakat.

Koperasi ini hanya memiliki izin mendirikan badan usaha dan investasi. Sayangnya, meski penawaran investasi dianggap tidak masuk akal tetapi banyak masyarakat yang tergiur. Pada akhirnya, kejanggalan koperasi ini muncul melalui laporan nasabahnya yang merasa dirugikan. Maka jelas terlihat disini sistem shadow banking tidak mempunyai jaminan yang baik bagi nasabahnya

“Bank Gelap sebaiknya diwaspadai, mengingat banyak pelaku bank gelap yang kabur membawa uang nasabah,” kata Safir.

BERITA TERKAIT

Persoalan Muamalat di Mata KSSK, Sistemik atau Tidak?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Bank Indonesia (BI) menilai, persoalan Muamalat (PT Bank Muamalat Indonesia) terkait dengan kinerja keuangannya mulai dari masalah…

Saham Bank Agris Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), saham PT Bank Agris…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…

Pemerintah Permudah Bank Ekspansi di Asean

Pemerintah berupaya mempermudah kesempatan perbankan nasional untuk melakukan ekspansi di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Malaysia dengan mendorong ratifikasi protokol…