BBM Naik Tidak Pengaruhi Indeks BEI - Hanya Sentimen Sementara

NERACA

Jakarta – Belum adanya kepastian pemerintah bakal menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi, memberikan dampak berarti bagi pelaku usaha karena tidak adanya kepastian. Namun sebaliknya, sentimen ini dinilai positif bagi pelaku pasar karena indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak terkoreksi.

Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, adanya kebijakan pemerintah atas kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut hanya akan berdampak sementara di lantai bursa, “Ada kemungkinan investor untuk mengambil aksi wait and see untuk sementara waktu di sembaringi dengan melihat kinerja perusahaan yang beban produksinya meningkat setelah harga BBM dinaikkan,”katanya di Jakarta, Selasa (30/4).

Menurutnya, pelaku pasar akan menunggu tapi tidak akan lama. Pasalnya, dampak kenaikan BBM pada kinerja perusahaan juga diperkirakan tidak begitu berdampak besar. Dirinya, menilai untuk beberapa saat indeks diperkirakan akan fluktuatif tapi akan tetap bergerak positif. Karena, meski ada penurunan kinerja perusahaan akibat naiknya ongkos produksi hal tersebut dinilainya masih bisa ditutup dengan sentimen positif investor luar negeri yang masih menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama investasi mereka.

Kata Ito, dengan naiknya harga BBM subsidi merupakan langkah positif yang diambil para investor dapat memperbaiki postur ekonomi negara. Sedangkan kalau dilihat dari sisi kinerja emiten, walaupun ada kenaikan ongkos produksi, hal tersebut diperkirakan tidak terlalu berdampak signifikan. Meski ada perlambatan, diprediksi hanya terjadi sebentar karena sebagai proses penyesuaian.

Sementara itu pada kalangan pengusaha kali ini, dia menilai pengusaha sudah jauh lebih siap dan sudah mengkalkulasi dampak ledepannya serta mencari solusi untuk tetap meningkatkan kinerja mereka, “Intinya sih, kebijakan itu sebenarnya sudah bisa diapresiasi positif oleh kalangan pengusaha. Saya yakin pasti mereka sudah memiliki antisipasi tersendiri terkait ini,”ujarnya.

Sebelumnya, menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 14,119 poin (0,28%) ke level 4.985,633. Sementara Indeks LQ45 turun 2,27 poin (0,27%) ke level 846,165. Pelaku pasar khawatir naiknya harga BBM subsidi bisa mendorong inflasi serta beban operasional emiten. Tingginya beban ini ujung-ujungnya berpengaruh terhadap laba perusahaan terbuka.

Aksi jual pun muncul setelah SBY berencana mengumumkan kenaikan BBM Subsidi di acara Musrenbangnas kemarin. Saham-saham berbasis komoditas terkena koreksi cukup dalam. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 86.345 kali pada volume 2,596 miliar lembar saham senilai Rp 3,273 triliun. Sebanyak 64 saham naik, sisanya 153 saham turun, dan 112 saham stagnan.

Selanjutnya, menutup perdagangan Selasa sore, indeks BEI ditutup menguat 34,319 poin (0,69%) ke level 5.034,071. Sementara Indeks LQ45 melonjak 8,685 poin (1,02%) ke level 857,120. Aksi borong jelang penutupan mendorong indeks menembus posisi intraday dan penutupan tertinggi sepanjang masa. (bani)

BERITA TERKAIT

KPK Hanya Klarifikasi LHKPN Tiga Pejabat Maluku

KPK Hanya Klarifikasi LHKPN Tiga Pejabat Maluku NERACA Ambon - Tim Komisi Pemebrantasan Korupsi (KPK) hanya mengklarifikasi Laporan Harta Kekayaan…

Jumlah Desa Mandiri di Jabar Hanya 0,67 Persen

Jumlah Desa Mandiri di Jabar Hanya 0,67 Persen NERACA Bandung - Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jawa Barat…

PRODUKSI SARUNG TENUN IKAT NAIK

Pekerja melipat sarung tenun di sentral kerajinan tenun ikat khas Kediri, Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019).…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Passpod Melesat Tajam 319,63%

Kuartal pertama 2019, PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) atau Passpod berhasil mencetak pertumbuhan laba melesat tajam 319,63% menjadi Rp…

Dulu Rugi, Kini BIPI Untung US$ 8,61 Juta

NERACA Jakarta - PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) berhasil mengantongi pendapatan US$16,04 juta di kuartal pertama 2019. Realisasi ini…

PTPP Realisaikan Kontrak Baru Rp 10,75 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan April 2019, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp10,75 triliun. “Sampai dengan…