Jepang Tawarkan Teknologi Peringatan Bencana

Rabu, 01/05/2013

NERACA

Jakarta - Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, Yoshitaka Shindo, menjelaskan bahwa pihaknya menawarkan teknologi terbaru dalam peringatan bencana tsunami. "Kami menawarkan kepada Indonesia sebuah teknologi dalam menanggulangi bencana tsunami. Karena Indonesia dan Jepang sama-sama rawan terhadap bencana gempa bumi yang bisa mengakibatkan tsunami," ungkap Shindo dalam konfrensi pers di Jakarta, Selasa (30/4).

Shindo mengungkapkan bahwa Indonesia dan Jepang telah menjalin kerjsama sejak 40 tahun yang lalu. Kedatangan perwakilan pemerintah Jepang kabinet baru ini, kata dia, merupakan untuk menjalin dan mempererat kerjasama kedua hubungan negara. Menurut dia, perlindungan masyarakat merupakan tanggung jawab pemerintah. "Saat ini, Jepang sedang berusaha keras mengurangi bencana sehingga negara lebih tahan terhadap bencana," ujarnya. Teknologi yang ditawarkan, menurut Shindo, akan berfungsi sekitar 30 menit setelah terjadi gempa yang berpotensi tsunami. "Nantinya teknologi ini akan sinkron dengan televisi dan handphone sehingga setiap masyarakat bisa mengetahui terjadinya gempa dengan kekuatannya berikut dengan potensi terjadinya tsunami," tambahnya.

Dia mengakui bahwa teknologi ini telah diperkenalkan kepada Kementerian-Kementerian terkait seperti Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan juga Badan Meteorologi, Klomatologi dan Geofisika (BMKG). "Hampir semua mengapresiasi teknologi ini sehingga kami siap untuk mengembangkannya," tukas Shindo.

Namun demikian, untuk pengoperasian teknologi tersebut dibutuhkan listrik yang cukup. Sedangkan di daerah-daerah terpencil yang berdekatan dengan pantai jarang ada saluran listrik. Oleh karena itu, tambah Shindo, pihaknya akan menggunakan teknologi matahari untuk pelaksanaannya. "Untuk daerah terpencil, kami akan siapkan teknologi solar cell. Kalau Indonesia mau, kami akan siap untuk mengembangkannya," imbuh dia.

Lebih lanjut lagi diungkapkan Shindo, untuk biaya penerapan teknologi belum dikaji. Namun, untuk penerapannya tidak terlalu sulit pasalnya penggunaan teknologi ini dasar-dasarnya telah diterapkan oleh Indonesia. "Nantinya peringatan bencana akan didapatkan oleh pengguna handphone dan nantinya akan muncul di running text televisi secara otomatis sehingga nantinya bisa ada persiapan dari masyarakat dan akan mengurangi jatuhnya korban lebih banyak," katanya.

Indonesia, kata dia, memiliki ribuan masjid yang bisa dimanfaatkan sebagai peringatan dini kepada masyarakat. "Indonesia memiliki ribuan masjid sehingga bisa dimanfaatkan untuk pengunguman kepada masyarakat sekitar akan terjadinya bencana," tambahnya. Dia juga mengatakan bahwa kalangan anak-anak jauh lebih terjaga dari pada orang dewasa ketika terjadinya bencana. Hal itu terjadi ketika pendidikan anak sejak dini diisi dengan penanggulangan bencana. "Terbukti di Jepang pada gempa 11 Maret 2012 kemarin yang sebagian besar adalah orang dewasa sedangkan anak-anak karena telah mendapatkan pengetahuan sehingga tidak bertindak ceroboh," katanya.

Masterplan BNPB

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menyusun masterplan pengurangan risiko bencana Tsunami dengan melibatkan berbagai institusi terkait serta perguruan tinggi. Setidaknya terdapat empat program besar dari pelaksanaan masterplan Tsunami yang segera disusun itu. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, empat program yang dimaksudnya itu adalah, pertama penguatan rantai peringatan dini, kedua pembangunan dan peningkatan tempat evakuasi sementara, ketiga penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana, dan keempat pembangunan kemandirian industri kebencanaan.

"Masing-masing dari program besar ini memiliki sejumlah kegiatan, misalnya penguatan rantai peringatan dini Tsunami dilakukan dengan kegiatan pembangunan dan pengembangan sistem peringatan dini nasional dan daerah yang terintegrasi, sirine utama, sirine peringatan dini dengan teknologi sederhana di tingkat lokal berbasis komunitas, pemantauan pasang surut dengan teknologi sederhana dan penyediaan sarana dan prasarana informasi dan komunikasi peringatan dini termasuk prototype sensor bawah laut," papar Sutopo.

Sedangkan beberapa lokasi yang harus dibangun untuk evakuasi antara lain, shelter evakuasi vertikal, pembangunan jalur dan tangga evakuasi, pembuatan rambu evakuasi dan papan peringatan. Kemudian, pengembangan greenbelt untuk mitigasi Tsunami. Selain itu penyusunan peta jalur evakuasi, sosialisasi dan diseminasi tempat evakuasi sementara (TES) juga harus dilakukan. Sedangkan untuk programm kapasitas kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan menyusun peraturan, pedoman, petunjuk teknis kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana gempabumi dan Tsunami.

"Pembangunan dan penguatan Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini, penyusunan rencana penanggulangan bencana dan rencana kontijensi berbasis komunitas, pengembangan Desa Tangguh, pembentukan dan penguatan relawan penanggulangan bencana," papar Sutopo. Selain itu, pemenuhan kebutuhan logistik dan peralatan penanggulangan bencana juga harus menjadi perhatian. Ditambah dengan penyediaan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan bencana yang dilengkapi dengan pelatihan dan simulasi. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan kebencanaan harus terus dilakukan. "Dalam program kemandirian industri kebencanaan dapat dilakukan melalui kegiatan, pengembangan teknologi instrumentasi pemantauan dan pendeteksi gempa bumi dan Tsunami. Selain itu pembuatan prototipe dan ujicoba instrumentasi pemantauan dan pendeteksi gempa bumi dan Tsunami," pungkas Sutopo. [bari]