Produk Lokal Bakal Kian Sulit Bersaing

Dana Riset Minim

Rabu, 01/05/2013

NERACA

Jakarta - Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin mengungkapkan bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan produk hanya mencapai 0,07% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Artinya, ke depan, pengembangan produk akan semakin sulit bersaing dengan produk lainnya. Dana penelitian ini vital. Negara ini akan sulit berkembang apabila dana research-nya minim," ungkap Bustanul di Jakarta, Selasa (30/4).

Ia pun mengeluhkan bahwa pemerintah seakan tidak peduli terhadap penelitian pengembangan produk. Menurut dia, pemerintah lebih mudah mengeluarkan dana untuk iklan dari pada dana penelitian. "Pemerintah lebih rela mengeluarkan Rp50 triliun untuk iklan dari pada untuk penelitian dan pengembangan. Padahal riset ini akan jadi penopang ekonomi Indonesia," tambahnya.

Menurut dia, potensi untuk penelitian di Indonesia cukup baik karena Indonesia memiliki 35 ribu doktor yang mampu berkontribusi banyak terhadap riset baik untuk pengembangan produk maupun kebijakan dibidang ekonomi dan politik. "Pada dasarnya bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) harus dimanfaatkan dengan baik sehingga hasilnya bisa diterapkan," ucapnya.

Bustanul menjelaskan bahwa Indonesia bisa belajar dari pemerintah Brazil yang telah berhasil mengembangkan program penelitian dan pengembangan dengan mendorong penelitian dibidang pertanian yaitu terfokus pada kedelai. "Brazil yang dulunya sebagai importir kedelai, namun karena dari sisi risetnya bisa mengembangkan produk kedelai maka saat ini Brazil telah berhasil sebagai salah satu eksportir terbesar di dunia," tambahnya.

Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Nuramaliati Prijono mengatakan bahwa peningkatan dana riset diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam sains serta memperkecil risiko kecolongan sumber daya alam hayati dan publikasi ilmiah. Ia menjelaskan dengan minimnya dana riset membuat Indonesia harus bergantung pada kerjasama asing. "Dalam penelitian taksonomi misalnya, Kalau dana, tenaga ahli dan fasilitas tidak ada, maka sampel (berupa bahan hayati) harus dibawa ke luar negeri," ucapnya.

Sampel hayati sebenarnya sah-sah saja dibawa ke luar negeri. Dalam aturannya, sampel hanya bisa digunakan untuk keperluan identifikasi dan tidak bisa diberikan pada pihak lain. Sampel dapat dibawa setelah disertai dengan Material Transfer Agreement (MTA). Tapi, kenyataan kadang tak semanis perjanjian. Pengalaman sebelumnya, ada kasus dimana spesimen yang dikoleksi di Indonesia dibawa ke luar negeri, diberikan ke pihak lain, diidentifikasi serta dipublikasikan tanpa menyertakan nama peneliti Indonesia.

Lili mengungkapkan perlunya dana riset untuk mendukung pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia. "Kalau dana mendukung, risiko untuk kecolongan itu bisa dikurangi karena kita bisa melakukannya sendiri. Negara-negara seperti India dan Malaysia itu bisa mengundang peneliti asing ke negaranya karena dana dan fasilitasnya memadai," kata Lili. Dana riset Indonesia kini masih sangat minim, kurang dari 1% dari APBN. Negara lain memiliki dana penelitian hingga 2-3% dari total anggaran.

Sebatas Prototipe

Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhamad Hatta beralasan bahwa banyak penelitian di Indonesia hanya sebatas prototipe, sehingga hasil penelitian belum berdayaguna. "Jumlah penelitian dan riset yang dihasilkan peneliti Indonesia cukup banyak tetapi banyak yang hanya sampai prototipe," ujarnya.

Mesristek yang juga guru besar pada Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin itu, Minggu menyatakan harapannya hasil penelitian agar dikembangkan sehingga mampu menghasilkan karya nyata dan dikembangkan secara massal agar hasilnya dapat dirasakan masyarakat maupun pihak terkait.

Menurut dia, hasil penelitian jangan sampai hanya menjadi dokumen yang disimpan di atas meja dan rak-rak buku atau di laboratorium tanpa dikembangkan sesuai arah dan tujuan penelitian. "Jangan sampai, hasil karya peneliti yang ternyata bagus diambil pihak lain dan diakui sebagai karya mereka sehingga harapan kami, setiap penelitian dikembangkan hingga akhir," pesannya.

Oleh karena itu, kata dia, Kemennegristek mendorong setiap peneliti agar mengembangkan hasil penelitiannya salah satu melalui program insentif riset Sistem Inovasi Nasional (Sinas). Dijelaskan, insentif riset Sinas adalah instrumen kebijakan berupa pendanaan riset melalui peningkatan sinergi, produktivitas dan pendayagunaan sumberdaya penelitian dan pengembangan nasional.

"Anggaran yang disiapkan untuk mendanai setiap penelitian mencapai ratusan juta sehingga diharapkan setiap peneliti memanfaatkan program nasional ini agar penelitiannya selesai hingga tuntas," ujarnya.