Indonesia Impor 250 Juta Lampu Tiap Tahun

Rabu, 01/05/2013

NERACA

Jakarta - Indonesia masih mengimpor 250 juta unit lampu hemat energi (LHE) sepanjang 2012 dari total kebutuhan LHE yang mecapai 320 juta unit. Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian,Budi Darmadi mengungkap kapasitas produksi nasional semestinya 200 juta unit dari 15 industri dalam negeri. Tapi, jumlah pasokan baru sekitar 70 juta.

Budi mengatakan kekurangan pasokan 130 juta unit LHE dari 15 industri lampu hemat energi di seluruh Indonesia itu kemudian dipenuhi lewat impor. "Makanya kita cegat (produk LHE) impor itu dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kalau pembelian dari pemerintah, harus ada tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yaitu konten lokal di atas 40 %," kata Budi di Jakarta, kemarin.

Pengembangan dari industri LHE dalam negeri, menurut Budi, yaitu penerapan teknologi "light emitting diode" (LED) yang sudah dimulai lima industri."Lima industri itu masih kecil, tapi ini teknologi lampu masa depan. Kami berpikir akan ada pengenaan bea masuk (untuk LED impor-red). Harmonisasi pos tarif yang mana, itu belum pasti," jelas Budi.

Lebih lanjut Budi mengatakan bea masuk untuk LED impor digunakan untuk menjamin pasar industri LED dalam negeri yang ditarget memasok 15 juta unit atau sekitar 2 % dari kebutuhan pasar pada 2013.

Kemenperin mencatat pertumbuhan industri elektronika pada Februari 2013 meningkat 20 persen dibanding periode yang sama pada 2012. Penjualan per Februari 2013 tercatat Rp2,4 triliun, lebih tinggi daripada periode yang sama tahun 2012, yakni Rp2,07 triliun.

Untuk meningkatkan pertumbuhan industri lampu light-emitting diode (LED) dalam negeri, Kementerian Perindustrian mempertimbangkan untuk memberikan market garansi kepada industri lampu LED.

Produk Lokal

Budi berharap, industri lampu LED dalam negeri diisi oleh produsen lokal. Pengembangan produk lampu LED dalam negeri memerlukan jaminan pasar agar tidak didominasi oleh impor. “LED adalah lampu masa depan, jauh-jauh hari harus kita tahan. Nah, kami berpikir bahwa paling tidak ada pengenaan bea masuk lah agar industri yang investasi LED terjamin pasarnya,” ujarnya.

Menurutnya, ke depan industri lampu kompak floresensi (lampu hemat energi/LHE) akan beralih memproduksi lampu LED yang memiliki pasar yang potensial. Adapun sepanjang 2012, konsumsi lampu LHE di Indonesia mencapai 320 juta unit. Sementara, kapasitas produksi nasional mencapai 200 juta unit.

Seharusnya, Indonesia bisa menyumbang 200 juta unit, namun sayang Indonesia baru bisa menyuplai sekitar 70 juta unit. Artinya, ada sekitar 130 juta unit kapasitas yang tidak terpakai. “ Impor LHE juga masih besar, kita berusaha mencegah dengan adanya standar nasional Indonesia (SNI),” lanjutnya.

Oleh karena itu, dia berharap, industri lampu LED bisa menggantikan industri lampu LHE. Mengenai, kapan pengenaan bea masuk Lampu LED bisa diterapkan, Budi belum bisa mengatakannya.“Ini kan usulan dari asosiasi, belum diharmoniasi, belum juga dibicarakan dengan pihak Kementerian Keuangan. Namun, kita antisipasi ke depan agar LED kita maju maka ada semacam market garansi,” tegasnya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) John Manoppo optimis pasar industri lampu LED akan tumbuh. Tahun ini, pasar lampu LED diperkirakan mencapai 15 juta unit. “Tahun ini dengan 15 juta unit bisa mengurangi impor sekitar 2%, apalagi nanti beberapa tahun lagi, akan mendominasi seperti dulu LHE berkembang,” kata John.

Dia menceritakan, lampu LHE mulai digunakan pada 2002 dan saat ini sudah mendominasi pasar hingga 95%. Karena itu, sebelumnya, Aperlindo juga meminta kepada pemerintah untuk bisa membatasi impor lampu dari China pasalnya perusahaan lokal sudah sangat mampu memproduksi dan yang lebih parahnya lagi banyaknya produk lampu masuk ke Indonesia tanpa bea masuk.

John mengatakan industri lampu nasional memerlukan dukungan pemerintah antara lain pengenaan tarif untuk impor LED asal China sebesar 15%. Dia mengatakan paling tidak sudah ada empat perusahaan Tanah Air yang memiliki kemampuan memproduksi LED, dengan kapasitas produksi sampai 15 juta unit. Akan tetapi, sampai saat ini, pasar Indonesia yang masih besar dikuasai produk asing.

Paling tidak, kata John, di China produsen LED mendapat subsidi pemerintah sampai 50%. Sehingga produk tersebut pasti akan banyak diekspor, termasuk ke Indonesia. "Saya tidak minta subsidi, saya hanya minta agar industri dalam negeri didukung, dengan pemberlakuan bea masuk," katanya.