Willem-Alexander Pun Paham, Raja Harus Berhemat

Oleh Yanti Mualim, Mantan Redaktur di Radio Nederland Siaran Indonesia, tinggal di Hilversum, Belanda

\"Boleh pukul Alex, tapi jangan sampai mati, karena dia harus jadi raja,\" begitu canda Pangeran Friso mengenai kakaknya, Willem-Alexander, yang pada 30 April 2013 esok resmi menjadi raja Belanda.

Ucapan itu menggambarkan betapa para putra keluarga kerajaan Belanda kurang suka pada kedudukan sebagai raja, kata Renate Rubenstein dalam buku, yang diterbitkan ketika putra mahkota Willem-Alexander genap berusia 18 tahun.

Willem-Alexander Claus Ferdinand lahir pada 27 April 1967 di kota Utrecht sebagai putra pertama Putri -ketika itu- Beatrix dan Pangeran Claus.

Bersama orangtua dan dua adiknya, Johan Friso dan Constantijn, ia dibesarkan di istana Drakensteyn, jauh dari keramaian dan perhatian media.

Ketika pada 1980 Putri Beatrix menjadi ratu, keluarga kerajaan itu menempati istana Huis Ten Bosch di kota pemerintahan Den Haag.

Sebagai murid, Willem-Alexander tidak cemerlang. Pada usia remaja, ia meninggalkan Belanda dan memilih bersekolah di Wales. Menurut pengakuannya pada penulis Renate Rubenstein, ia menganggap diri orang tidak sulit.

Willem-Alexander kemudian juga mengambil kuliah sejarah di Rijksuniversiteit Leiden hingga tamat pada 1993. Bersama teman-temannya, pangeran muda itu menikmati masa mahasiswa di Leiden, bahkan sempat mendapat julukan \\\\\\\"pangeran bir\\\\\\\".

Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia mulai menghadapi persiapan lebih serius sebagai putra mahkota. Ia mendapat ijazah sebagai penerbang, mengikuti pendidikan Angkatan Darat di Breda, kemudian menjalankan masa dinas militer di Angkatan Laut.

Ketika pada 1997 sang pangeran genap berusia 30 tahun dan berbicara dalam wawancara dengan NOS (organisasi penyiaran publik Belanda), ia menjelaskan perubahan dalam dirinya.

Pada awalnya, ia mengaku enggan menjadi raja, karena akan banyak menghadapi batasan, tapi sekarang, ia yakin bahwa itu sudah menjadi takdirnya, sehingga ia beniat menjalankan tugas tersebut sebaik mungkin, ketika waktunya tiba.

Selanjutnya, ia mengatakan akan mendalami Tatakelola Air, yang dipandang bagus dan menjadi ciri khas Belanda. Pangeran itu ampuh menarik perhatian antarbangsa, terlebih dengan keahliannya di bidang air. Di kancah internasional pun, Willem-Alexander banyak mengangkat masalah air bersih dan sanitasi sebagai usaha mengentaskan orang miskin.

Willem-Alexander juga pencinta olah raga. Sebagai anggota International Olympic Committee, ia sangat aktif. Pada suatu saat, ia dikecam karena secara spontan ikut berjingkrak-jingkrak dengan tim Belanda, yang berhasil meraih medali emas pada pertandingan Olimpiade.

Namun, dunia olah raga Belanda menghargai antusiasme pangeran muda ini. Menjelang pergantian tahta, Willem-Alexander melepaskan semua jabatan tersebut.

Pada 28 Januari 2013, ratu Beatrix mengumumkan rencana turun tahta pada akhir April, tapi Willem-Alexander dan istrinya -Maxima- sudah mengetahui rencana tersebut sejak setahun lalu. Rencana tersebut menjadi rahasia mereka bertiga dan baru diungkap kepada media melalui wawancara dengan NOS dan RTL (penyiaran komersial) pada 17 April.

Sekitar lima juta warga Belanda menyaksikan wawancara disiarkan melalui televisi itu. Pangeran Willem-Alexander, yang bersanding dengan Putri Maxima, menurut pemirsa Belanda tampak sudah siap menggantikan ibunya.

Dari hasil jajak pendapat biro Ipsos, tercatat 91 persen dari orang Belanda melihat Willem-Alexander akan menjadi raja baik, dan 93 persen memperkirakan Maxima akan menjadi ratu yang baik. Hingga kini, Maxima adalah anggota keluarga kerajaan terpopular, bahkan lebih popular daripada Ratu Beatrix.

Dulu, ketika terbetik berita Putra Mahkota Willem-Alexander menjalin hubungan dengan gadis pirang bertubuh tinggi semampai bernama Maxima Zorreguieta, rakyat Belanda mempertanyakan siapa dia?

Penampilan Maxima, yang simpatik dan murah senyum, langsung memikat rakyat Belanda, tapi suara \\\\\\\"miring\\\\\\\" mulai lantang ketika terungkap latar belakangnya.

Maxima adalah putri Jorge Zorreguieta, mantan menteri muda pertanian Argentina semasa kekuasaan Videla 1976-1981. Penguasa itu dituding melakukan banyak pelanggaran hak asasi manusia. Penganiayaan, penculikan bayi dan ribuan warga hilang tanpa bekas adalah lembaran hitam dalam Perang Kotor itu.

Walaupun mungkin tidak terlibat langsung pada pelanggaran itu, Jorge Zorreguietaia adalah pejabat di bawah Videla.

Willem-Alexander tetap kukuh pada pendiriannya akan menikah dengan Maxima. Walaupun latar belakang ayahnya membayangi Maxima, banyak orang berpendapat bahwa anak tidak ikut bertanggungjawab atas perbuatan orangtuanya.

Kecaman segera berhenti ketika Maxima secara terbuka menyesali masa bakti ayahnya untuk penguasa sesat.

Ayah Maxima tidak diperkenankan menghadiri pernikahan putrinya pada Februari 2002.

Setelah menikah, dalam waktu singkat, Putri Maxima merebut hati rakyat Belanda dan menjadi anggota keluarga kerajaan, yang dicintai rakyat.

Willem-Alexander dan Maxima dikaruinai tiga putri, yakni Amalia, Alexia dan Ariane.

Sebagian besar dari rakyat Belanda mendukung kerajaan, tapi ulah keluarga Oranje itu tidak luput dari kecaman. Salah satu contohnya adalah tindakan Willem-Alexander dan Maxima, yang menuai kritik pedas ketika mereka membangun rumah megah di tengah alam perawan di semenanjung Machangulo, Mozambik.

Rakyat Belanda menganggap pasangan kerajaan itu tidak pantas mendirikan perumahan sangat mewah di negara miskin. Kegiatan itu justru akan meningkatkan pendapatan penduduk setempat, kata mereka menangkis. Namun, kecaman terus mengalir. Mereka pada akhirnya menjual rumah itu dan membeli rumah liburan di pantai Portocheli di Yunani. Nilai rumah untuk berlibur itu diperkirakan bernilai 4,5 juta euro.

Kekayaan keluarga Oranje senantiasa diguncingkan. Menurut majalah niaga \\\\\\\"Quote\\\\\\\", harta kekayaan keluarga itu 800 juta euro.

Pangeran Willem-Alexander dan putri Maxima menerima tunjangan sekitar 500.000 euro setahun.

Sebagai raja, Willem-Alexander akan menerima 825.000 euro setahun dan pendapatan tersebut bebas pajak. Kenyataan itu dimasalahkan Nieuw Republikeins Genootschap (asosiasi republiken Belanda). Republiken itu bukan hanya memasalahkan uang, melainkan juga bentuk negara kerajaan. Mereka menginginkan kepala negara dipilih rakyat, bukan yang naik tahta berdasarkan atas keturunan.

Wajib membayar pajak pendapatan juga harus diberlakukan bagi raja. Kalaupun dipotong pajak pendapatan, penghasilan raja masih jauh lebih tinggi daripada pendapatan perdana menteri.

Sejak beberapa tahun lalu, di Belanda berlaku yang disebut norma Balkenende (nama mantan perdana menteri). Menurut norma itu, tugas dan tanggungjawab perdana menteri sangat berat, sehingga harus digaji sepadan. Gaji perdana menteri Belanda 144.000 euro setahun. Tugas raja tidak lebih berat daripada perdana menteri, mengapa gajinya berlipat ganda?

Laman perhimpunan republiken itu menerbitkan perbandingan gaji setahun beberapa kepala negara: presiden Jerman 199.000 euro; presiden Obama 300.000 euro; raja Spanyol 150.000 euro. Berbeda dari kepala negara Belanda, mereka membayar pajak.

Di samping gaji raja, negara setiap tahun mengeluarkan jutaan euro untuk membayar anggota kerajaan, petugas perawat istana, penjagaan keamanan, biaya perjalanan dan seterusnya.

Dalam wawancara terakhir dengan NOS dan RTL, wartawan bertanya apakah Willem-Alexander paham akan kritik terhadap gaji raja dan biaya kerajaan, yang demikian tinggi. Ia menjawab sangat mengerti dan menyatakan hanya menerima yang ditentukan dalam undang-undang dan diputuskan parlemen. Calon raja itu juga mengerti bahwa setiap orang mempunyai hak melakukan protes.

Wawancara itu penting, karena memberi kesempatan rakyat Belanda berkenalan lebih dalam dengan calon raja dan sebaliknya.

Dari ulasan pakar komunikasi, Pemantau Kerajaan, hingga politisi dapat disimpulkan bahwa Willem-Alexander dan Maxima menyiapkan wawancara itu dengan cermat. Penampilan Maxima bergaun biru terlihat anggun dan sederhana di samping suaminya, Willem-Alexander, yang berdasi biru terlihat serasi. Sangat jelas peran utama dalam wawancara itu adalah Willem-Alexander, bukan Maxima.

Wawancara dalam suasana santai itu dihargai banyak orang. Dari negara tetangga Belgia, yang juga kerajaan, datang tanggapan bahwa wawancara sesantai dan seterbuka itu tidak mungkin terjadi di Belgia.

Menurut hasil jajak pendapat Ipsos, 64 persen dari orang Belanda melihat Willem-Alexander sebaik Ratu Beatrix. Ketenaran Maxima lebih tinggi daripada suaminya.

Lebih dari 1.000 wartawan mancanegara akan meliput peristiwa besar pada 30 April 2013 di Amsterdam itu.

Liku-liku kehidupan Maxima di kerajaan Belanda menjadi sorotan media Argentina. Sekurang-kurangnya, tiga alasan mereka berbangga. Pesepakbola terbaik saat ini adalah Lionel Messi, Paus baru adalah Franciskus dan Ratu Belanda adalah Maxima. Ketiganya dari Argentina.

Selain dari Argentina, banyak wartawan dari berbagai negara akan meliput hari bersejarah itu.

Amsterdam juga menjadi tuan rumah, yang menjamin keamanan tamu negara. Walikota Amsterdam Van der Laan mengatakan kotanya siap dengan keamanan ketat, namun pesta di Amsterdam adalah pesta terbuka. (ant)

Related posts