Gerakan Peduli Sesama

Oleh: Prof. DR. H. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang

Hal yang menarik yang dapat kita dengar di banyak tempat adalah mulai muncul gerakan peduli sesama. Gerakan itu di antaranya didorong oleh semangat beragama. Mereka merasa terpangil untuk peduli dan memperhatikan terhadap mereka yang lemah. Gerakan itu bentuknya macam-macam. Misalnya, dalam bidang pendidikan ada sekelompok orang yang memberikan pelayanan terhadap mereka yang tidak mampu mengenyam pendidikan dengan mendirikan sekolah gratis, memberi beasiswa dan aneka rupa lainnya.

Dalam bidang pendanaan, ada sementara orang yang memprakarsai pengumpulan dana, misalnya melalui dompet dhuafa’, lalu hasilnya digunakan menolong orang-orang yang tidak mampu, baik untuk keperluan pendidikan, biaya hidup atau lainnya.

Bahkan, masih terkait dengan gerakan peduli sesama, akhir-akhir ini di DKI Jakarta, ada sebuah yayasan yang menikahkan secara massal bagi orang yang tidak mampu hingga mencapai 4000 pasang suami isteri.

Kejadian itu tentu menarik sekali. Saya kebetulan ketemu salah seorang panitia penyelenggara pernikahan massal itu. Dalam kesempatan bertemu itu, ia menyatakan merasa sangat gembira atas keberhasilan menolong orang banyak tersebut.

Ia menceritakan tentang pelaksanaan kegiatan tersebut. Dalam pelaksanaan pernikahan masal tersebut, masing-masing pasangan diberi biaya, mulai untuk transport, sewa pakaian kemanten, hingga uang saku, dan biaya untuk mendapatkan akta nikah.

Kegiatan tersebut tentu sangat terpuji dan memang sangat diperlukan oleh mereka yang sedang membutuhkannya. Namun sayangnya kegiatan semacam itu belum tumbuh dan berkembang di sem ua kalangan, artinya masih dilakukan oleh orang yang jumlahnya terbatas.

Sebaliknya, masih banyak orang yang sebenarnya telah berkelebihan, namun hatinya belum tersentuh tatkala melihat penderitaan orang lain, hingga melakukan kegiatan peduli sesama seperti itu.

Umpama di negeri ini, orang-orang yang sudah berlebih menaruh perhatian pada yang lemah, maka tidak akan terjadi kesenjangan, kebodohan dan kemiskinan. Sayangnya gerakan peduli seperti itu masih dilakukan oleh sebagian orang yang jumlahnya belum terlalu banyak. Masih banyak orang yang baru merasa puas tatkala berhasil mengumpulkan harta untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya. Sebaliknya, belum banyak orang yang memandang bahwa kepuasan juga bisa diperoleh dari kegiatan memberi atau peduli terhadap sesama.

Kitab suci al Qurán memberikan peringatan sedemikian tegas terhadap perlunya memperhatikan orang-orang yang lemah. Disebutkan bahwa orang yang tidak memberi makan terhadap orang miskin dan memperhatikan pada anak yatim disebut sebagai pendusta agama. Peringatan dengan sebutan sebagai mendustakan agama, kiranya merupakan seruan yang amat keras, hingga perlu mendapatkan perhatian saksama.

Memang sudah ada sementara kaum muslimin yang peduli terhadap seruan itu. Mereka mendirikan panti asuhan anak yatim, menyantuni terhadap fakir miskin dan lain-lain. Namun lagi-lagi, belum dilakukan secara masal oleh banyak orang, hingga berhasil menyelesaikan persoalan tersebut secara tuntas. Akibatnya, masih banyak orang terlantar, anak-anak tidak terdidik, peminta-minta di berbagai tempat di jalan-jalan dan lain-lain. Persoalan sosial seperti itu akan semakiin berkurang manakala ada gerakan peduli sesama. Wallahu a’lam. (rektor.uin-malang.ac.id)

Related posts