Satu atau Dua Harga, Kuota BBM Pasti Jebol - Hanya Dialokasikan 46 Juta Kiloliter di 2013

NERACA

Jakarta - Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan dengan penerapan dua harga maupun satu harga tetap membuat kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) jebol dari yang ditargetkan mencapai 46 juta kilo liter di 2013 ini.

\\\"Baik dengan kebijakan dua harga BBM subsidi maupun satu harga BBM subsidi, volume BBM subsidi saat ini bisa saja melebihi. Ini pengaruh dari pertumbuhan ekonomi,\\\" ujar Anggota Komite BPH Migas, Ibrahim Hasyim, di Jakarta, Senin (29/4).

Ibrahim menjelaskan jika pemerintah menempuh berbagai cara untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi baik lewat pengendalian sistem Information Technology (IT) tetap tak bisa menahan laju kebutuhan konsumsi BBM. Hal itu terjadi lantaran pertumbuhan kendaraan yang setiap tahunnya selalu meningkat sehingga konsumsinya ikut meningkat. “Akibatnya kuota BBM tak dapat terbendung. Kendala teknis ini yang akan membuat jebolnya kuota BBM subsidi,\\\" terang Ibrahim.

Untuk itu, ia meminta agar seluruh stakeholder turut serta memproyeksikan kebutuhan energi setiap tahunnya. Pasalnya para stakeholder ditingkat daerah mengetahui secara real konsumsi BBM didaerahnya dan bisa dijadikan salah satu perhitungan dalam menetapkan kuota BBM. \\\"Kita perlu mengundang Pemda untuk membuat kebutuhan energi bruto sehingga memperbaiki kebutuhan BBM subsidi di tiap daerah. Nah kebutuhan ini kita sampaikan,\\\" tutur Ibrahim.

Seperti diketahui, pemerintah berencana menerbitkan mekanisme dua harga BBM subsidi. Namun belum lama ini usulan ini kembali dikaji karena akan menyulitkan ke depannya. Presiden dalam keterangan tertulisnya, merencakan akan mengambil opsi satu harga BBM subsidi untuk menekan konsumsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Namun demikian, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengatakan, jebolnya konsumsi BBM bersubsidi pada tahun ini bukan dikarenakan perhitungan yang salah. Ia mengatakan, besarnya konsumsi BBM itu telah sesuai dengan perhitungan semula. Karen menyatakan, Pertamina telah memperhitungkan meningkatnya pertumbuhan ekonomi hingga pertumbuhan jumlah kendaraan yang ada setiap tahun. \\\"Bukan kesalahan perhitungan, kan pertumbuhan itu harus dicocokkan,\\\" kata Karen.

Ia menambahkan, jumlah kuota BBM bersubsidi ditentukan bersama atas kesepakatan antara Pertamina, BPH Migas, SKK Migas, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta DPR. \\\"Kalau kita sebenarnya sudah tahu pertumbuhannya berapa,\\\" ujarnya.

Menteri ESDM Jero Wacik juga memastikan bahwa konsumsi BBM bersubsidi pada tahun ini akan jebol lagi dari 46,01 juta kiloliter (kl) menjadi 48,5 juta kl. Dalam rapat dengan DPR sebelumnya, Pertamina pernah memperkirakan bahwa kuota BBM bersubsidi akan mencapai 48 juta kl pada 2013. Jumlah ini ditentukan atas dasar perhitungan Pertamina karena konsumsi BBM bersubsidi pada 2012 sudah mencapai 45,2 juta kl.

Namun, DPR akhirnya menyepakati konsumsi kuota BBM bersubsidi pada tahun ini sebesar 46,01 juta kl. Hal ini berdasarkan perhitungan di mana kuota BBM bersubsidi setiap tahun selalu bertambah. Pada 2012 saja, sudah ada pengajuan tambahan kuota sebanyak tiga kali, yaitu dari semula hanya 40,1 juta kl, menjadi 44,04 juta kl, dan akhirnya disepakati naik kembali menjadi 45,2 juta kl.

Tamabahan Kuota

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menjelaskan bahwa pihaknya akan meminta tambahan kuota BBM berusbisidi kepada DPR. Nantinya, Permintaan ini akan diproses pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P). \\\"Ya walaupun dilakukan dua harga BBM subsidi, kuota BBM subsidi tetap jebol sekitar 48 juta KL, sementara kuotanya 46 juta KL, jadi seandainya nanti kita hitung tentu akan bersama-sama mengubah APBN-P dengan DPR,\\\" katanya.

Dikatakan Susilo, apalagi sejak awal pemerintah meminta kuota BBM subsidi kepada DPR sebesar 48 juta KL namun hanya disetujui 46 juta KL. \\\"Sementara konsumsi kita sudah 45 juta KL, ekonomi kita tumbuh 6%, tentunya kebutuhan BBM subsidi lebih tinggi,\\\" ujarnya.

Ia beralasan bahwa rencana pemerintah yang akan meminta tambahan kuota BBM subsidi bukan berarti pemerintah dan Pertamina tidak bisa mengontrol konsumsi kuota BBM subsidi. \\\"Tidak ada yang salah, ini karena mobil tambah banyak, industri tambah maju, ekonomi tambah tumbuh. Siapa bilang kita tidak mempertimbangkan hal itu, kalau tidak dibatasi ya gimana pasti jebol lebih besar bisa 53 juta KL,\\\" tandasnya.

Anggota Komisi VII DPR Ismayatun menganggap heran dengan permintaan pemerintah untuk penambahan kuota BBM bersubsidi. Untuk itu, ia akan meminta penjelasan pemerintah mengapa kuota BBM bersubsidi terus jebol.

Terkait dengan rencana kenaikan BBM, sebelumnya, pengamat perminyakan Kurtubi menilai bahwa Presiden SBY selaku kepala negara yang memutuskan kebijakan BBM bersubsidi masih mencla-mencle. Pasalnya puluhan studi dan kajian tentang BBM bersubsidi telah disampaikan kepadanya, namun hingga kini Presiden masih tidak tegas dalam memutuskan kenaikan harga BBM. \\\"Presiden masih mencla-mencle padahal puluhan studi dan kebijakan telah disampaikan. Tapi lagi-lagi SBY dan pemerintah tidak bisa memutuskan dengan tegas,\\\" kata Kurtubi.

Related posts