Bahaya bagi Ekonomi Indonesia - ARUS DERAS CAPITAL INFLOW KE PORTOFOLIO

Jakarta – Derasnya arus modal asing masuk (capital inflow) dalam bentuk investasi portofolio yang mencapai Rp 33,8 triliun selama Januari hingga minggu kedua April 2013 (year to date), menurut sejumlah pengamat, dapat berbahaya bagi ekonomi Indonesia yang saat ini lagi dirundung defisit neraca perdagangan belakangan ini.

NERACA

Menurut data Bank Indonesia (BI), capital inflow tersebut berbentuk investasi portofolio mencapai Rp 33,8 triliun itu terinci dalam portofolio saham Rp 18 triliun dan sisanya Rp 15,7 triliun dalam investasi surat berharga negara (SBN).

Selain itu, menurut Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, juga terdapat capital inflow yang masuk ke instrumen global bond US$3 miliar yang diterbitkan pemerintah Indonesia. Dengan demikian BI yakin tidak akan kekurangan dolar AS (dollar shortage). “Dengan begitu, pada kuartal II-2013, surplus neraca modal akan jauh lebih besar,” ujarnya kepada pers, pekan lalu.

Sedangkan kondisi neraca pembayaran Indonesia (NPI) untuk kuartal I-2013 yang akan dirilis pada awal Mei 2013, Perry menegaskan, kondisi inflow yang cukup banyak ke portofolio akan menambah surplus di sisi neraca modal dan finansial.

Secara terpisah, ekonom LIPI Latief Adam menilai kalau derasnya arus modal asing dalam bentuk portofolio memang dapat berbahaya untuk ekonomi Indonesia. Pasalnya, investasi yang berbentuk portofolio mempunyai sifat yang sangat likuid dan ini bisa berbahaya jika setiap saat dapat ditarik kembali keluar dari Indonesia.

Lebih jauh lagi dia mengungkapkan, derasnya aliran modal asing masuk ke Indonesia terutama dalam bentuk portofolio, disebabkan oleh dua faktor. Pertama, karena memang Indonesia cukup menarik dan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi dari krisis ekonomi global, sehingga banyak investor asing memindahkan investasinya ke negeri ini.

\"Beberapa faktor yang membuat Indonesia menarik yakni karena tingkat imbal hasil yang ditawarkan oleh instrumen finansial Indonesia masih cukup menarik, juga semakin membaiknya rating sejumlah bank besar yang kian dekat dengan peringkat investasi (investment grade), faktor perbedaan suku bunga antara Indonesia dengan suku bunga global yang masih besar serta ekspektasi dari apresiasi nilai tukar upiah.Sementara faktor pendorong yakni adanya ekses likuiditas global dan lambatnya pemulihan ekonomi di Amerika Serikat dan kekhawatiran krisis ekonomi di Eropa,\" ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Walau demikian, Latif mengingatkan semakin tingginya capital inflow ke Indonesia juga menimbulkan suatu keadaan yang dikenal dengan surge, yaitu terjadi suatu lonjakan disebabkan adanya peningkatan secara tiba-tiba dan signifikan pendanaan luar negeri (external financing) terutama dari private flow ke Indonesia.

Akan tetapi, menurut dia, kemungkinan adanya surge yang terjadi ini juga diikuti dengan keadaan yang lazim dikenal dengan sudden reversal, yaitu proses pembalikan modal asing secara tiba-tiba ke luar Indonesia. “Kondisi ini dapat dijadikan sebagai suatu sinyal awal terjadinya krisis finansial atau penggelembungan ekonomi (bubble economy) di suatu negara,” ujarnya.

Guru besar FE Univ. Brawijaya Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika mengatakan bahwa Indonesia seharusnya fokus pada pengembangan investasi domestik. “Janganlah kita itu terus memberikan fasilitas investasi asing dan lalai mengembangkan investasi domestik,” ujarnya saat menanggapi fakta membanjirnya capital inflow dalam bentuk portofolio itu.

Dia tidak memungkiri adanya kemungkinan tersebut, meski kecil, bahwa modal asing bisa saja ditarik tiba-tiba. Misalnya ketika krisis Eropa puluh, maka ada kemungkinan modal asing tersebut keluar dari Indonesia dan masuk ke Eropa. Kalau sudah begitu, skenario terburuk adalah nilai tukar rupiah melemah akibat permintaan dolar yang tinggi. “Namun ini tidak akan berpengaruh terhadap inflasi,” ujarnya.

Sektor Tertentu

Staf ahli Menko Perekonomi Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, derasnya arus modal asing dalam bentuk portofolio yang berpotensi akan mengancam bubble economy dan menekan inflasi, jika arus modal asing dalam bentuk portofolio itu masuk hanya ke sektor tertentu secara besar-besaran.

“Saat ini belum menimbulkan tekanan inflasi dan kekhawatiran lainnya. Penggelembungan ekonomi bisa terjadi jika itu masuk ke sektor properti secara besar-besaran misalnya, kemudian harga properti terlalu tinggi,” jelasnya, akhir pekan lalu.

Yang sebaliknya dikhawatirkan, menurut dia, apabila harga saham sudah lebih tinggi di atas fundamental ekonomi yang setelah dihitung kemungkinan akan terjadi koreksi yang tajam sehingga dapat menimbulkan kepanikan. Namun, dari derasnya arus modal asing yang masuk saat ini, dalam bentuk investasi langsung dan dalam bentuk portofolio cukup berimbang. “Investasi portofolio juga tumbuh cepat dengan inflow yang sehat karena investasi yang masuk terbukti tidak cepat keluar.” ujarnya.

Karena itu, dia menilai, hal yang perlu dilakukan pemerintah yaitu mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara positif dan kondusif serta menjaga fiskal moneter dengan baik. Pasalnya, kondisi Indonesia saat ini memiliki prospek yang bagus dengan investment grade-nya sehingga menjadi pilihan pihak penanam modal. “Selama pemerintah bisa mempertahankan hal itu dan menjaga fiskal moneter dengan baik serta melakukan pembangunan infrastruktur , pertumbuhan investasi bisa semakin baik,” ujarnya.

Defisit Anggaran BI

Menurut data BI, defisit anggaran tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2011 mencapai Rp16,89 triliun. Sementara pada 2012, bank sentral memproyeksikan defisit anggaran sebesar Rp21,57 triliun.

Realisasi defisit Rp16,89 triliun itu lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang ditetapkan Rp32,5 trilliun. Defisit terjadi karena beban operasi moneter di mana salah satu tugas BI yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan rupiah pada 2011 ini menjadi faktor penggunaan anggaran yang besar.

Sementara untuk 2012, BI memprediksi defisit anggarannya mencapai Rp21,57 triliun. Sedangkan permodalan BI diperkirakan akan turun menjadi Rp21,73 triliun atau rasio modal BI mencapai 1,37%.

Pengamat pasar modal Farial Anwar menilai defisit anggaran BI rawan terhadap turbulensi kondisi pasar modal dan nilai tukar rupiah. Jika terjadi bersamaan maka akan berdampak negatif bagi perekonomian Indonesia. “Guncangan terhadap pelemahan rupiah yang tidak terukur, pasar modal menurun tajam, pelarian dalam jumlah besar ke dollar,” ujarnya kepada pers belum lama ini.

Menurut Direktur Currency Management Group ini, jika 2012 modal BI ada di titik dua triliun rupiah, kondisi tersebut membebani pemerintah karena harus menginjeksi anggaran besar. Dari alasan itu, cukup sulit membendung arus deras capital inflow.

“Kita (Indonesia) bodoh, tidak belajar dari pengalaman, dan tak berdaya menghadapi gempuran hot money dari asing,” kata dia. Sejak awal kemunculan capital inflow lebih banyak merugikan ketimbang menghadirkan manfaat di negara-negara yang sedang berkembang.

Tetapi, seharunya Indonesia menyadari bahwa pada 1997 pernah krisis ekonomi, ironisnya kesulitan itu hanya dikendalikan oleh beberapa spekulator di pasar modal “Kita ini seolah-olah sangat mengagungkan asing, padahal uang panas begini tidak ada manfaatnya,” cetus Farial.

Faktanya, para investor spekulan itu tidak pernah berniat serius membangun pabrik di Indonesia. Negara juga tak diuntungkan oleh keuntungan profit penjualan produk kerjasama. \"Thailand dan Malaysia tegas tak mau membiarkan diserbu hot money, sebab mereka tahu untung ruginya,” ujarnya.

Menurut ekonom LPS M. Dody Ariefianto, derasnya arus modal asing yang masuk dalam bentuk portofolio ke Indonesia belum akan menyebabkan penggelembungan (bubble) perekonomian dalam waktu dekat, karena pada saat ini negara kita masih membutuhkannya.

“Tidak menyebabkan bubble, karena kita butuh arus modal masuk. Karena transaksi berjalan kita masih defisit, yang berarti di dalam negeri ini masih kurang dolar AS, khususnya untuk memenuhi impor. Jadi dengan adanya modal masuk itu, akan bisa jadi penyeimbang bagi neraca pembayaran Indonesia,” katanya.

Walau capital inflow tersebut lebih banyak masuk ke dalam obligasi dan saham, hal itu tidak akan berdampak langsung terhadap inflasi, namun memang akan menurunkan suku bunga di pasar obligasi sekunder. ria/lia/iqbal/iwan

Related posts