Penyaluran Kredit BNI Tumbuh 21,6% - Triwulan I 2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk membukukan penyaluran kredit sebesar Rp200,5 triliun di triwulan I 2013, atau tumbuh 21,6% dari periode sama tahun lalu senilai Rp164,8 triliun. “Kita mencatat pertumbuhan kualitas kredit yang baik,” tutur Gatot Mudiantoro Suwondo, Direktur Utama BNI di Jakarta, Jumat (26/4) pekan lalu. Dia mengatakan, kredit subsidiary tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi, yakni 54,9% year on year (yoy), dari Rp5,6 triliun menjadi Rp8,6 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. Hanya saja, lanjut Gatot, komposisi subsidiary ini hanya 4,3% terhadap total kredit. Dilanjutkan pertumbuhan kredit korporasi sebesar Rp83,7 triliun, naik 43,5%, dari jumlah di periode sama di 2012 sebesar Rp58,3 triliun.

“Untuk segmen kredit lainnya tumbuh sekitar 10%-30%,” tambahnya. Namun, kata Gatot, masih ada beberapa penurunan penyaluran kredit, khususnya di segmen kredit medium, internasional, dan retail. Kredit medium turun 16,7% (yoy), dariRp27,8 triliun menjadi Rp23,1 triliun. Kredit internasional juga menurun 21,5% (yoy), dariRp7,4 triliun ke Rp5,8 triliun.

Turunnya penyaluran kredit di segmen ini, diakui Gatot, lantaran perseroan tengah fokus pada foreign direct investment (FDI) dan remitansi. “Kita memang membatasi kredit internasional,” tegas Gatot. Kemudian, kredit retail ikut-ikutan turun 11,1% (yoy), dariRp3 triliun menjadi Rp2,7 triliun. Dia mengatakan hal ini disebabkan adanyaperbaikan sistem proses pada bisnis wirausaha. Pada kesempatan yang sama, Direktur Retail dan Konsumer BNI, Darmadi Sutanto, menambahkan perseroan memang sempat memberhentikan kredit retail karena produknya yang tidak bagus dan rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) yang tinggi.

Namun diakui Darmadi, kalau kredit retail ini dijual kembali. Dengan demikian, pertumbuhan kredit sektor retail berangsur membaik. Akan tetapi, perseroan masih berpacu lantaran ada hapus buku bagi perbankan BUMN.NPL kredit retail juga mulai bergerak lebih baik. “Dahulu, rasio kredit macet di retail sempat mencapai 13%. Tapi saat ini sudah di angka 8%. Secara keseluruhan, NPL BNI juga tercatat membaik. Pada kuartal I 2012, NPL gross sebesar 3,6%, sementara di periode sama tahun ini menjadi 2,8%,” ungkap Darmadi.

Fokus dana murah

Untuk dana pihak ketiga (DPK), BNI berhasil menghimpun Rp242,93 triliun di triwulan I 2013, meningkat 21,3%, dari Rp220,87 triliun di periode sama tahun lalu. Gatot menjelaskan bahwa pihaknya memang sedang berfokus pada dana murah (CASA). Porsinya tercatat tumbuh dari 60% menjadi 66,5% terhadap total DPK. Dengan begitu, diharapkan biaya dana (cost of fund) akan menurun. “Kami fokus pada peningkatan dana murah (CASA), di mana CASA naik 22,1% atau Rp29,22 triliun bila dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan dana murah ini yang membuat cost of fund kita menurun. Contohnya dari 3,2% pada triwulan pertama 2012, kini menjadi 2,3% pada triwulan pertama tahun ini,” jelas Gatot.

Laba bersih perseroan tercatat sebesar 34,3%, dari Rp1,54 triliun di triwulan I 2012 menjadi Rp2,07 triliun di triwulan I 2013. “Pendapatan operasional kami yang tumbuh baik merupakan hasil dari perbaikan kinerja, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan menjaga kualitas kredit serta peningkatan pada sisi fee based income,” ucapnya. Gatot menyebut pendapatan operasional BNI meningkat 25,7%, dari Rp5,1 triliun di periode sama 2012 menjadi Rp6,5 triliun di triwulan I 2013. Hal ini bersumber dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp4,29 triliun, naik 22,7%, dari perolehan di periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 3,4 triliun. Sedangkan, pertumbuhan pendapatan non bunga naik 31,8%, dari Rp1,7 triliun pada triwulan I 2012, menjadi Rp2,24 triliun pada periode sama tahun ini. Terakhir, pendapatan operasional sebesar Rp6,529 triliun serta laba sebelum pajak mencapai Rp2,560 triliun.[ria]

Related posts