BI: Kenaikan BBM Sebabkan Inflasi 0,79%

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengatakan apabila kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Bersubsidi benar-benar terjadi, maka akan menyebabkan penambahan inflasi sebesar 0,79%. Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo menuturkan, sedangkan kalau hanya harga premium saja yang mengalami kenaikan, maka dampak inflasi mencapai 0,76%. “Yang kita hitung adalah harga ganda (dual price). Yaitu, harga (BBM) untuk mobil pribadi sebesar Rp7.000 per liter, baik premium maupun solar. Yang menjadi asumsi kita adalah jika (kebijakan) diterapkan di lima kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya dan Denpasar,” kata dia di Jakarta, Jumat (26/4) pekan lalu.

Lebih lanjut Perry menjelaskan, apabila pemerintah menaikkan harga BBM untuk semua jenis kendaraan pribadi dan umum, misalnya dinaikkan Rp1.000 per liter, maka dampak langsung terhadap inflasi sebesar 0,62%. “Tapi itu tergantung apakah tarif angkutan ikut naik atau tidak. Kalau naik, ada penambahan inflasi 0,78%. Lalu, kalau ada dampak tidak langsung terhadap komoditas lain menyebabkan tambahan inflasi 0,23%. Jadi total inflasi sebesar 1,63%,” jelas dia.

Perry mengakui jika harga BBM naik akan menyebabkan defisit transaksi berjalan menurun, tetapi masih belum terjadi surplus. “Sejak tahun 2011 sampai sekarang, konsumsi dalam negeri meningkat sehingga untuk memenuhi kebutuhan diperlukan impor. Jadi harus diyakinkan bahwa surplus neraca modal cukup untuk membiayai defisit,” tambahnya.

Terkait survei pemantauan harga untuk inflasi, Perry mengatakan hasilnya menunjukkan deflasi minus 0,04%. Jika dihitung year to date (ytd) inflasi sebesar 2,39% serta inflasi year on year (yoy) sebesar 5,64%. “Inflasi disebabkan harga bawang merah sebesar 0,15%, masih relatif tinggi. Tapi sudah jauh lebih rendah dibandingkan bulan Maret yang sebesar 0,44%,” terang dia.

Selanjutnya kalau dari harga jeruk, menyebabkan inflasi 0,09%. Untuk komoditas lain yang mengalami deflasi, seperti cabe merah dan cabe rawit sebesar 0,01%, beras 0,05%, dan bawang putih sebesar 0,15%. Perry berpendapat, turunnya inflasi bahan-bahan pangan tersebut disebabkan kemampuan pemerintah dalam mengatasi permasalahan pasokannya yang sempat terganggu pada triwulan I 2013. “Kita memperkirakan untuk April ini, inflasi month to month (mtm) kembali pada pola deflasi. Prediksi kita moderat. IHK (Indeks Harga Konsumen) akan deflasi 0,04% di bulan ini. Kalau pun terjadi inflasi, dikisaran 0,01%, dan jika terjadi deflasi sebesar 0,09%,” ucapnya.

Masih terkendali

Perry meyakinkan kalau inflasi yang disebabkan harga bahan-bahan pangan itu masih terkendali. Apalagi sesuai dengan pola musimannya bahwa musim panen masih akan berlangsung pada bulan ini sampai Juni 2013 mendatang, sehingga tekanan-tekanan inflasi sampai Juni masih akan tetap rendah. “Sementara tekanan inflasi akibat adanya kenaikan biaya pendidikan atau biaya lainnya bisa terjadi pada bulan Juli, seperti ada penyesuaian pada biaya kontrak atau sewa rumah. “Tahun ini kita perkirakan inflasi akan bertambah karena awal bulan Juli sudah masuk bulan puasa,” imbuhnya.

Tekanan inflasi dari kenaikan bahan-bahan pangan tersebut bersifat temporary atau sementara. Oleh karena itu, dampaknya terhadap inflasi inti tidaklah besar. “Kalau ada kenaikan harga, jelas yang akan ada dampak langsung yang menaikkan (inflasi) lebih kepada kenaikan administrated prices. Sebagai informasi, pemerintah mulai 1 Mei 2013 mendatang akan menerapkan kenaikan harga BBM Bersubsidi untuk kendaraan pribadi berpelat hitam, dari Rp4.500 per liter menjadi Rp6.500-Rp7.000 per liter. Sementara untuk kendaraan roda dua dan angkutan umum harganya tetap di Rp4.500 per liter. [ria]

Related posts