Butuh Modal, Garuda Gelar Rights Issue Tahun Ini - Danai 24 Pesawat Baru

NERACA

Jakarta – Bisnis industri penerbangan membutuhkan biaya yang cukup besar untuk peremajaan dan menambah armada baru, terlebih ditengah persaingan bisnis penerbangan yang cukup pesat. Maka untuk menambah modal ekspansi bisnisnya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berencana menerbitkan saham baru atau rights issue dan juga penerbitan surat utang (Obligasi).

Direktur Utama Garuda, Emirsyah Satar mengatakan, rencana rights issue ini masih dikaji dan termasuk meminta persetujuan kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan berikutnya, “Nantinya dana dari aksi korporasi ini, salah satunya akan digunakan untuk mendatangkan pesawat baru,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menyebutkan, jumlah saham baru yang akan diterbitkan sebanyak 10% di semester II-2013. Menurut Direktur Keuangan Garuda, Handrito Hardjono, persreoan akan melepas sekitar 3 miliar lembar saham dari total saham 22 miliar.

Diperkirakan total dana yang diraih dari pelaksanaan rights issue ini adalah US$ 200 juta.Untuk obligasi, kata Handrito Hardjono, Garuda bakal menerbitkan obligasi dengan nilai sekitar Rp2 triliun dengan jangka waktu 5 tahun. Saat ini perseroan telah mendaftarkan izin pra efektif kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kemudian bertindak sebagai penjamin emisi, Garuda menunjuk PT Mandiri Sekuritas dan PT Bahana Securities. Asal tahu saja, opsi mendapatkan pendanaan dari kedua skema tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal perseroan di 2013 yang besarnya sekitar US$400 juta.Anggaran tersebut rencananya akan direalisasikan untuk kebutuhan penambahan 24 pesawat di sepanjang tahun ini.

Tunda Dividen

Selain itu, hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) juga menyetujui penundaan pembagian dividen kepada pemegang saham hingga tahun 2016. Alasannya, Garuda masih harus memenuhi kewajiban utangnya.

Tahun 2013 ini saja, maskapai pelat merah ini harus membayar utang jatuh tempo senilai US$ 60 juta atau setara Rp 570 miliar, “Tidak bagi dividen, kita masih ada kewajiban yang harus dilunasi hingga 2016. Jadinya kita nggak akan bagikan deviden dulu,\"ungkap Handrito Hardjono.

Menurutnya, Garuda memiliki kewajiban utang yang harus dipenuhi. Kewajiban ini, merujuk pada perjanjian dengan para kreditur sejak tahun 2012. Tercatat ditahun 2012, perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 110,8 juta atau meningkat 72,6% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang senilai US$ 64,2 juta.

Disamping itu, perseroan juga berencana akan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) anak usahanya PT GMF Aero Asia dengan melepas 10%-20% saham ke public dan target dana yang dihimpun US$ 100 juta.

Saat ini, perseroan mengklaim tengah melakukan kajian terkait IPO anak usaha dengan melihat kondisi pasar terlebih dahulu dan semester kedua tahun ini sudah bisa IPO. Dana hasil IPO sendiri akan digunakan untuk membangun hanggar pesawat dengan nilai US$50 juta.

PT Garuda Indonesia Tbk juga merobak jajaran direksi dengan mengangkat Erik Meijer menjadi Direktur Komersial perseroan yang baru menggantikan Elisa Lumbantoruan. Diklaim perseroan, sekitar 98% atau mayoritas pemegang saham telah setuju untuk menunjuk Erik sebagai Direktur Komersial yang baru. (bani)

Related posts