ADB Kucurkan Pembiayaan Rp215 Triliun di 2012 - Kawasan Asia

NERACA

Jakarta - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menyetujui bantuan pembiayaan sebesar US$21,57 miliar atau sekitar Rp215 triliun sepanjang 2012 untuk operasi pembiayaan di berbagai kawasan di Asia. Berdasarkan keterangan tertulis ADB di Jakarta, Sabtu (27/4), disebutkan bahwa sepanjang 2012, operasi pembiayaan berkonsentrasi di lima areal inti yaitu infrastruktur, lingkungan, kerja sama dan integrasi regional, pengembangan sektor finansial, dan pendidikan.

Berbagai bantuan ADB tersebut fokus dalam tiga kunci agenda pembangunan yang mencakup pertumbuhan inklusif, pertumbuhan berkelanjutan secara lingkungan, dan integrasi regional. Terkait dengan integrasi regional, ADB berupaya untuk mempererat hubungan antara negara, termasuk mendukung Dana Infrastruktur ASEAN. Sebagaimana telah diberitakan Kantor Berita China, Xinhua, laporan ADB memperkirakan bahwa negosiasi antara ASEAN dan enam mitra dialog untuk Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP) yang dimulai tahun lalu di KTT Asia Timur di Kamboja bisa meningkatkan pertumbuhan secara signifikan pada 2025 mendatang.

\"Sebuah kesepakatan perdagangan RCEP pada akhirnya akan menciptakan blok perdagangan bebas terbesar di dunia, dengan implikasi ekonomi mendalam bagi ekonomi dunia,\" tulis laporan itu. Dalam grafik perbandingan negara-negara mitra diproyeksikan perolehan pendapatan dari RCEP pada 2025, diukur dengan perubahan dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara pada 2007, Brunei Darussalam datang dengan kenaikan tertinggi enam persen. Vietnam berada di urutan kedua dengan lima persen sementara Korea Selatan diperkirakan menjadi negara ketiga yang akan memperoleh keuntungan dari kemitraan, dengan kenaikan sebesar hampir empat persen pada PDB. Malaysia merupakan negara keempat paling diuntungkan dari RCEP dengan perolehan pendapatan diperkirakan sedikit di atas tiga persen, dan Thailand datang berikutnya dengan proyeksi pendapatan sedikit di bawah tiga persen.

India, negara anggota ASEAN lainnya, Jepang, China, Indonesia dan Australia semua diproyeksikan untuk melihat kenaikan satu persen pada PDB mereka dari perjanjian perdagangan. Ketika selesai RCEP akan menjangkau 16 negara dengan pasar gabungan lebih dari tiga miliar orang dan PDB gabungan sekitar US$19,78 triliun berdasarkan angka 2011. Negosiasi telah dimulai dengan perjanjian resmi kemungkinan akan ditandatangani pada 2015 mendatang. Sebelumnya, ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 bertumpu pada tiga performa penentu, yaitu konsumsi swasta, penanaman modal, serta pemulihan perdagangan global. ADB juga mengungkapkan, konsumsi swasta diharapkan tumbuh cepat di tahun ini sejalan pertumbuhun lapangan kerja, kenaikan upah minimum hingga 30%, kenaikan gaji PNS tujuh persen, serta kenaikan ambang batas penghasilan kena pajak penghasilan.[ardi]

BERITA TERKAIT

Akseleran Fasilitasi Pembiayaan Kepada Pelaku Usaha Hipmi Jaya

      NERACA   Jakarta - Mengusung semangat dalam memberikan kemudahan akses pembiayaan sebagai wujud percepatan inklusi keuangan, PT…

Naik Rp1,25 Triliun, Banggar Tetapkan Anggaran Subsidi Energi Rp157,79 Triliun

      NERACA   Jakarta - Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR menyetujui alokasi subsidi energi sebesar Rp157,79 triliun…

CIMB Niaga Rilis Obligasi Rp 1,012 Triliun

Danai ekspansi bisnisnya, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) telah menetapkan bunga tiga seri obligasi senilai Rp1,012 triliun. Dengan demikian,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kredit Komersial BTN Tumbuh 16,89%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mencatatkan penyaluran kredit komersial hingga Agustus 2018 mencapai sekitar…

CIMB Niaga Syariah Dukung Pembangunan RS Hasyim Asyari

      NERACA   Jombang - Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) menyalurkan…

Jamkrindo Syariah Kuasai Pasar Penjaminan Syariah

      NERACA   Jakarta – PT Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) Syariah mencatatkan kinerja yang cukup mentereng.…