Mengepak Sayap Hingga ke 40 Negara - YANDRAMIN HALIM, MANAGING DIRECTOR PT FABER-CASTELL INTERNATIONAL INDONESIA

YANDRAMIN HALIM

Mengepak Sayap Hingga ke 40 Negara

Awalnya menjadi tempat menggarap skripsi, akhirnya jatuh hati dan sampai mati. Itu barang kali yang terjadi antara Yandramin Halim dengan Faber-Castell. Nama itu kini identik dengan produk Faber-Castell International Indonesia (FCII).

“Saya memang tua di sini,” kata Yandramin, managing director PT FCII, saat ditemui di kantornya di Sentra Latumenten, Jakarta Barat, belum lama ini. Dari tangan dinginnya, FCII kini mampu mengeruk keuntungan lebih dari Rp 500 miliar setahun. Bahkan, Halim pun sudah mampu mengepakkan produk FCII hingga ke 40 negara di Asia, Afrika, Eropa, juga Amerika Latin.

“Produk FC Indonesia bahkan juga dipakai di Jerman, jadi sebetulnya, pensil kita kualitasnya sama dengan pabrik di Jerman, tapi harganya tentu lebih murah,” tuturnya. Kini FCII mempunyai dua pabrik, yaitu di Narogong dan Kawasan MM2100, Cikarang. Produk dari Indonesia banyak dipakai di Afrika, sebagian Amerika Latin, dan Eropa. Cabang FC terbesar ada di Brazil dan Jerman. Tapi pertumbuhan Indonesia di Asia tertinggi.

Bahkan ada satu produk FCII yang boleh diekspor ke negara lain, sedangkan produk yang sama di negara lain tak boleh diekspor, kecuali untuk negerinya sendiri. Itu mengapa? Menurut Halim, sapaan para staf di CFII, karena Faber-Castell di Indonesia adalah satu dari tiga negara yang telah memiliki mesin pabrik paling canggih. Dua lainnya, di kantor pusat di Jerman dan di Brazil.

Karena itu tak mengejutkan jika beberapa kali CFII berhasil menyabet penghargaan di Tanah Air. Tahun ini saja, FCII memperoleh sembilan kategori produk terbaik dari Frontier Consulting Group untuk jenis alat tulis. Tujuh produk yang memperoleh penghargaan sebagai ‘Top Brand for Kids’ masing-masing adalah pensil warna, pensil hitam, pensil mekanik, cat air, krayon, penghapus, spidol warna.

Cair air dan pensil mekanik juga menyabet penghargaan Top Brand for Teens. Top Brand for Kids merupakan hasilkan melalui survei pasar kepada 500 anak dan 1.000 orang tua di 5 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan. Walaupun tak ada data resmi, namun dari laporan tim pemasaran, produk FC telah menjadi market leader di Indonesia.

Prestasi lainnya, pada 2007-2008 menyabet penghargaan Investment Award. Penghargaan Marketing Award diperoleh selama tiga tahun berturut-turut pada 2008-2010. Selama dua tahu, yaitgu pada 2009-2010 mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri).

“Ini merupakan bentuk kepercayaan konsumen atas kualitas produk Faber-Castell,” ujar lulusan teknik mesin ITB pada 1989 ini. Halim berharap, penghargaan itu harus bisa menjadi motivasi bagi seluruh bagian di Faber-Castell untuk terus bekerja keras. Tumbuh bersama masyarakat Indonesia dan terdepan hingga ke seluruh dunia.

Halim pun memiliki tim khusus pengembangan yang mampu menciptakan produk yang bahkan bisa dipakai seumur hidup. Salah satu hasil inovasinya adalah connector pen, spidol warna yang jika sudah habis isinya bisa dipakai untuk merancang mainan. Connector pen juga dirancang sebagai alat menggambar model sidik jari. “Inovasi itu diakui di seluruh dunia,” tutur pria berkacamata minus itu.

Mengapa memilih FC?

Ada beberapa alasan mengapa Halim betah di CF. Menurut dia, saat ini pabrik FC di Stein, Jerman, sudah memasuki generasi ke-8 dan kini sudah memiliki pabrik di lebih dari 20 negara. “Ini sangat langka,” kata Halim yang sudah diakui sebagai anggota keluarga Faber-Castell.

Lalu, ini bagian dari kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, FC memiliki hutan tanaman industri (HTI) sendiri.

Kini giliran Halim dipercaya untuk mengembangkan usaha di Singapura, Filipina, China, dan Jepang. Faber-Castell merupakan salah satu produsen alat tulis tertua di dunia yang didirikan pada 1761 di Stein, Jerman. Perintisnya adalah Kaspar Faber dari Nuremberg, dekat Stein, Jerman. Kini usaha itu dipimpin oleh generasi ke-8, yaitu Count Anton Wolfgang von Faber-Castell.

Yandramin Halim sendiri bergabung di sana sudah sekitar 30 tahun. Berawal, FC sebagai tempat menyusun skripsi tentang mesin pengering. Setelah lulus memang tak langsung bergabung ke FCII, tapi berlabuh lebih dulu di sebuah perusahaan selama beberapa tahun.

Prinsip yang dikembangkan Halim adalah bagaimana kita mampu membuat produk papan atas atau trend setter. Kesan pertama, produk itu mahal. Tapi, kata dia, menjadi tidak mahal jika dibandingkan kualitas yang dihasilkan, baik secara lingkungan membuat produk ramah lingkungan, tidak beracun, dan dengan standar keselamatan yang tinggi.

Pada Juli 2003 Faber-Castell bergabung dengan “United Nations Global Compact Scheme”. Hal ini bertujuan memberikan standar global yang umum bagi karyawan, terutama di bidang hak asasi manusia, standar pabrik, dan lingkungan.

Dia menyontohkan, membeli pensil yang harganya Rp 3.000 lebih murah, tapi ternyata mudah patah, tentu harus membeli barang itu berkali-kali. Sebaliknya, membeli produk berkualitas yang harganya lebih mahal, tapi awet, tidak mudah patah, tentu cukup membeli sekali dipakai berkali-kali. “Kalau gonta-ganti malah ketemunya jadi mahal,” ujar pria yang lebih sering berada di luar negeri ini.

Di tangan Halim, kini Faber-Castell telah memiliki empat pabrik. Yaitu, PT Faber-Castell International Indonesia yang memegang operasional Sales & Marketing di Indonesia dan mengoperasikan pabrik marker. Lalu, pabrik pensil PT A.W Faber-Castell Indonesia. Dua lagi, PT Pencil Leads Indonesia dan PT Indo Bagus Slat adalah pabrik penghasil bahan baku yang mendukung pabrik pensil.

FC pertama kali masuk Indonesia pada 1999 melalui PT Faberindo Perkasa. Namun pada 2005, Faberindo diambil alih seluruhnya oleh Faber-Castell melalui FCII. Pabrik di Indonesia itu merupakan pindahan dari pabrik yang ada di Argentina. Sebagian pabrik di Jerman juga kami tutup dan kami pindahkan ke sini. Bahkan, tiga tahun lalu, pabrik di Australia kami tutup dan juga kami pindahkan ke sini. “Saya bersyukur ada rekan kerja, kolega, dan tim yang baik sehingga kami sekarang bisa sukses di pasar ekspor dan lokal,” kata Halim. (saksono)

Related posts