Kalau Tak Siap, Jadi Negeri Konsumtif - Sofjan Wanandi:

Sofjan Wanandi:

Kalau Tak Siap, Jadi Negeri Konsumtif

Kalangan pengusaha berharap pemerintah mempunyai program yang jelas, terarah, dan terukur untuk mempersiapkan diri menyongsong diwujudkannya Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Sebab, jika programitu gagal, dikhawatirkan Indonesia yang kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia itu bukan menjadi negara industri yang maju, tapi menjadi negara yang konsumtif. Rakyat dan pemerintahnya lebih menyukai membeli barang-barang luar dari pada memproduksi sendiri menjadi barang yang lebih berkualitas dan terjangkau.

Demikian rangkuman pendapat Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dari hasil wawancaranya dengan Neraca. Berikut petikannya.

Apa yang Anda bayangkan dengan rencana menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2915?

Kalau kita masih punya sistem yang buruk, kita gagal berproduksi, kalaupun berproduksi kalah kualitasnya dengan produk impor. Kita hanya akan jadi pasar saja. Pabrik-pabriknya ada di luar negeri tapi menjualnya ke Indonesia. Itu sangat rugi besar, nggak ada lapangan kerja. Saat ini saja masih ada 4-7 juta angkatan kerja kita yang menganggur.

Lalu apa usul Anda sekarang?

Agar industri-industri dalam negeri kita efisien dan berkualitas, yang mari kita tingkatkan kualitas dan skill para buruh kita. Kita kasih training-training agar mereka mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi. Itu perlunya BLK. Saat ini saja, untuk satu pekerjaan, kita butuh dua orang, padahal di China cukup seorang saja. Sekarang ini, 65% angkatan kerja kita masih lulusan SD dan SMP. Kalau pekerja kita berkualitas, sudah pasti mereka juga akan digaji tinggi.

Programnya seperti apa?

Pemerintah punya program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Tapi sayang, alat-alat yang dipakai sudah kuno dan ketinggalan. Bahkan ada yang sudah berumur 30 tahun, masih dipakai. Yang pasti ketinggalan dan lulusannya tidak kompetitif. Dari awal saya usul, BLK itu kasih ke kita, swasta. Sudah barang tentu, peralatan yang di sana akan disamakan dengan yang ada di pabrik-pabrik sekarang, sudah sangat modern. Jadi pemerintah sebagai regulator tinggal mengawasi saja. Saya yakin akan menghasilkan pekerja yang skill-nya tinggi. Sudah pasti, gajinya juga tinggi.

Seberapa canggihnya industri kita saat ini?

Pabrik-pabrik kita sudah mempunyai mesin yang canggih-canggih. Contohnya di industri otomotif, baik mobil maupun sepeda motor, lalu industri elektronik, tak kalah dengan luar negeri.

Bagaimana dengan kualitas produk kita?

Pada umumnya masih kalah, jadi harus ditingkatkan dulu kualitas sumber daya manusianya, juga peralatannya. Karena itu, kita memang perlu standarisasi produktivitas kerja. Itu mutlak ada karena akan member nilai tambah bagi pekerja dan juga pengusaha. (saksono)

Related posts