Astra Anggarkan Belanja Modal Rp15,5 Triliun - Tingkatkan Infrastruktur

NERACA

Jakarta-PT Astra International Tbk (ASII) mengganggarkan belanja modal terkonsolidasi sebesar Rp15,5 triliun di tahun dari belanja modal terkonsolidasi di tahun lalu sebesar Rp13 triliun. Peningkatan anggaran tersebut seiring dengan rencana perseroaan untuk meningkatkan infrastruktur. “Capex lebih banyak ke infrastruktur. Yang bergeser dari sektor alat berat, UNTR akan turun diambil alih infrastruktur, agribisnis, sedang otomotif tetap on.” jelas Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto, di Jakarta, Kamis (25/4).

Belanja modal untuk infrastruktur, lanjut dia, antara lain akan digunakan untuk mengambil alih pelabuhan di Kalimantan Timur yaitu Iskal dengan investasi tahap awal sebesar Rp600 miliar. Perseroan juga akan menyelesaikan pengambilalihan tol Mojokerto yang dilakukan 1,5 tahun lalu. Dalam pengembangan usaha pembangkit tenaga listrik, saat ini perseroan sedang menjajaki investasi di pembangkit listrik untuk Hydro dengan kapasitas 200 MW, dan ikut dalam tender PLN.

Alokasi belanja modal di sektor otomotif, kata dia, akan tetap mengalami peningkatan yaitu menjadi Rp8,4 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp7 triliun. Hal tersebut didasarkan pada kondisi pasar otomotif yang dinilai masih akan bergairah di tahun ini. Perseroan akan menggunakan belanja modal di sektor otomotif ini untuk Astra otoparts dan penambahan outlet. Sampai dengan kuartal pertama 2013 ini, belanja modal yang telah direalisasikan mencapai 15%-17%.

Kinerja Perseroan

Sepanjang kuartal pertama 2013, PT Astra International Tbk mencatatkan koreksi laba bersih sebesar 7% atau menjadi Rp4,3 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,3 triliun. Sementara untuk laba per saham menjadi Rp106 per saham. Dia menilai, dalam jangka pendek pun kinerja perseroan masih akan terpengaruh oleh beberapa faktor eksternal usaha. “Prospek Indonesia tetap positif, meskipun dalam jangka pendek keuntungan Astra akan dipengaruhi oleh kenaikan biaya tenaga kerja, melemahnya harga komoditas, persaingan industri otomotif.” jelasnya.

Salah satu faktor yang akan berpengaruh terhadap industri otomotif, kata dia, yaitu adanya peraturan uang muka minimum pada pembiayaan otomotif syariah dengan perkiraan koreksi 5-10%. Namun, hal ini tidak berdampak pada kinerja kuartal pertama 2013. “Diberlakukan pada 1 April. Peraturan tersebut diperkirakan akan berdampak pada penjualan motor di semester pertama.” ucapnya.

Pihaknya mencatat, total penjualan mobil nasional meningkat sebesar 18% menjadi 296 ribu unit. Sementara untuk penjualan mobil grup astra, antara lain Daihatsu, Toyota, dan isuzu mengalami kenaikan 7% menjadi 155 ribu unit, dengan pangsa pasar sebesar 52%.

Rilis Produk Baru

Sepanjang kuartal pertama 2013, Astra meluncurkan tiga model baru dan lima model facelift. Astra Daihatsu Motor juga telah menyelesaikan pembangunan pabrik baru di Kerawang dengan total kapasitas produksi 120 ribu unit per tahun. Dengan demikian, kapasitas produksi secara keseluruhan mencapai 460 ribu unit per tahun.

Disebutkan Prijono, pada kuartal pertama 2013, laba bersih otomotif mencatatkan laba bersih sebesar 10% menjadi Rp2,2 triliun dari Rp1 triliun yang berasal dari perseroan dan anak-anak perusahaan serta kontribusi dari perusahaan asosiasi dan jointly controlled entries di bidang otomotif sebesar Rp1,2 triliun. Untuk divisi alat berat dan pertambangan turun sebesar 26% menjadi Rp0,7triliun.

Divisi Agribisnis turun sebesar 6% menjadi Rp0,3 triliun. Dari divisi infrastruktur dan logistik mengalami penurunan sebesar 19% menjadi Rp124 miliar. Sementara dari divisi teknologi dan informasi turun sebesar 22% dibandingkan kuartal pertama 2012. Salah satu divisi yang mencatat kenaikan yaitu divisi pembiayaan. Divisi ini mencatatkan kenaikan sebesar 23% atau menjadi Rp1 triliun.

Total pembiayaan melalui bisnis pembiayaan Astra ini terdiri dari Federal International Finance (FIF), Astra Credit Companies (ACC), dan Toyota Astra Financial Services (TAFS) mengalami pertumbuhan sebesar 6% atau menjadi Rp132 triliun. Pencapaian tersebut termasuk pembiayaan melalui joint bank financing. (lia)

Related posts