Dampak Kenaikan BBM, Pasar Obligasi Bakal Seret - Ditaksir Transaksi Turun 4%

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, tidak hanya memberikan dampak pada kenaikan harga barang tetapi juga pasar obligasi. Pasalnya, rencana kenaikan BBM memicu penurunan transaksi harian obligasi.

Menurut analis dari PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo, isu kenaikan harga BBM memang mempengaruhi pasar obligasi di Indonesia. Bahkan dia memperkirakan akan ada penurunan volume transaksi sebesar 2%-4% sampai akhir Mei 2013 akibat adanya isu tersebut, “Yang pertama, isu itu sangat mempengaruhi dan memberikan dampak negatif terhadap para pelaku pasar. Karena investor obligasi jangka panjang akan melihat apakah perekonomian suatu negara akan stabil atau tidak ke depannya,”katanya di Jakarta, kemarin.

Khususnya di Indonesia, lanjutnya, kenaikan harga BBM itu akan berpengaruh sekali terhadap kondisi perekonomian makro. Pasalnya, investor bisa jadi akan pindah dari obligasi ke saham, sehingga IHSG naik pesat sampai 5000 dan jika saham tidak bagus investor bisa pindah untuk membeli uang dan itulah market cycle.

Soal yield obligasi masih akan tetap di kisaran 2%-4%, tapi volume penjualan dan pembeliannya yang akan berkurang. Ini akan terjadi pada khususnya obligasi pemerintah seperti SUN. \"Maka itu, para pemangku kepentingan, seperti DPR, Menteri ESDM, Menko harus memberikan stimulus kepada pasar, misalnya dengan menurunkan harga bahan-bahan pokok, menjaga kestabilan BI Rate, mengendalikan inflasi, sehingga pasar obligasi juga akan bisa membaik ke depannya,\"ujarnya.

Sementara analis Obligasi dari Lembaga Penilai Efek Indonesia, Fakrul Aufa mengungkapkan, rencana kenaikan BBM telah memicu koreksi pada perdagangan obligasi sekitar 50% dalam dua pekan kemarin. “Saat ini rata-rata perdagangan harian hanya Rp3 triliun-Rp4 triliun, padahal normalnya Rp7 triliun-Rp8 triliun sehari,”ungkapnya.

Menurutnya, saat ini investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. Karena dengan terjadinya kenaikan BBM secara otomatis akan memicu kenaikan inflasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi potensi naiknya yield akibat inflasi. Maka emiten disarankan untuk segera melakukan penerbitan obligasi karena saat ini yield masih cukup rendah.

Terjadinya kenaikan yield, lanjut dia, sejauh ini dapat diimbangi seiring kembali masuknya asing di pasar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih terbilang positif sehingga diperkirakan peluang terjadinya gagal bayar di tahun ini tidak akan terlalu besar. (ria)

BERITA TERKAIT

Polisi Imbau Masyarakat Hubungi Hotline untuk Transaksi Properti Aman

Polisi Imbau Masyarakat Hubungi Hotline untuk Transaksi Properti Aman   NERACA Jakarta - Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar…

Naiknya BI Rate Bikin NIM Bank Turun

  NERACA Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate hingga 1,75 persen turun menurunkan marjin…

Difasilitasi, IKM Furnitur Sukoharjo Tembus Pasar AS

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin aktif memacu pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

Kinerja Keuangan Melorot - ANJT "Kencangkan Ikat Pinggang" di Operasional

NERACA Jakarta – Terkoreksinya pencapaian kinerja keuangan PT Austindo Nusantara Tbk (ANJT) di paruh pertama tahun ini, menjadi pertimbangan emiten…

Pasar Respon Positif Nota Keuangan 2020

NERACA Jakarta – Pidato nota keuangan negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan presiden Joko…