Ketika Anak Terjebak Stereotip Gender

Oleh: Miarti, Direktur PG dan TK Zaidan Alam Mandiri

Ayah bunda! Baik secara sadar maupun tidak, kita seringkali memiliki penilaian sempit tentang perbedaan karakter anak laki-laki dan perempuan. Misalnya, anak laki-laki cenderung dipandang pemberani, mendominasi, ceroboh, nakal.

Sebaliknya, anak perempuan cenderung dipandang cengeng, pemalu, sensitif dan kurang percaya diri. Dampaknya, anak laki-laki sering dianggap tidak pantas ketika menangis, dan anak perempuan sering dikatakan tidak wajar ketika melakukan hal-hal seperti memanjat, bermain sepeda dan lain sebagainya.

Padahal sesungguhnya, yang namanya sifat itu tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Artinya, baik laki-laki maupun perempuan berpotensi untuk memiliki kesamaan sifat. Dalam hal ini, sifat pemberani bukan hanya milik anak laki-laki dan sifat lembut pun bukan hanya milik anak perempuan. Sifat-sifat tersebut sejatinya dimiliki oleh masing-masing jenis. Karena baik laki-laki maupun perempuan berkebutuhan terhadap sifat lembut maupun pemberani.

Bisa dibayangkan, apabila anak laki-laki terlanjur dibentuk untuk menjadi seseorang yang benar-benar berjiwa pemberani tanpa mengindahkan sifat lembut yang seharusnya melekat dan mengarakter dalam jiwanya. Bagaimanakah kelak ketika ia telah dewasa dimana ia harus menghadapi sebuah fragmen kehidupan seperti istri melahirkan. Bagaimana bisa ia mampu berempati atau membantu istrinya yang sedang bertaruh nyawa, atau dalam kehidupan sehari-hari misalnya. Ketika sang anak menghadapi sebuah kenyataan dimana salah seorang temannya kecelakaan atau dicemooh oleh hampir seluruh temannya, akankah empatinya itu hadir, akankah ia mampu melakukan pembelaan.

Demikian pula dengan anak perempuan. Jika orang tua atau lingkungan sekitar terlanjur membentuk dan men-judge bahwa dirinya harus lembut dan harus mengalah, sementara nilai-nilai ketangguhan, ketegasan dan keberaniannya tidak diperhatikan, maka hal ini tentu saja menuai bahaya. Mengapa dikatakan bahaya? Karena jika suatu saat anak perempuan tersebut beranjak remaja atau dewasa, lalu ada laki-laki yang menggangunya atau sampai hampir mau memperkosanya, adakah kemampuan si anak perempuan tersebut untuk melakukan perlawanan. Padahal ini adalah hal yang niscaya.

Nah, jika ketegasan dan keberanian itu tidak dibentuk dan tidak dibangun, semakin banyaklah korban-korban pelecehan dari laki-laki yang tidak berhak atas tubuhnya. Bahkan, potret mengenaskan semacam yang terjadi pada anak perempuan berumur 11 tahun yang akhirnya hamil akibat perbuatan biadab ayah kandungnya sendiri, ini adalah bagian dari ketidakberdayaan seorang perempuan untuk menolak atau melakukan perlawanan.

Adapun konstruksi nilai yang masih dianut oleh beberapa masyarakat kita adalah penyikapan terhadap anak yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Contohnya adalah ketika sepasang suami istri secara berturut-turut memiliki anak yang berjenis kelamin sama, perempuan semua atau laki-laki semua. Karena sangat berharap anak laki-laki, sementara tiga anak yang telah lahir itu semuanya perempuan, maka pasangan suami istri tersebut bersepakat untuk menyikapi anak yang keempat sebagai anak perempuan. Padahal sebetulnya laki-laki.

Hal ini tentu saja melanggar fitrah. Mengapa melanggar fitrah? Karena jenis kelamin tidak bisa dipertukarkan. Sehingga anak laki-laki tidak bisa didandani dengan cara mendandani anak perempuan. Anak laki-laki tidak bisa diperlakukan sebagai anak perempuan. Gaya berjalan anak laki-laki tidak bisa dipaksakan untuk kemudian diganti seperti gaya berjalan anak perempuan. Aksesoris anak laki-laki tidak bisa digantikan begitu saja dengan aksesoris anak perempuan seperti anting, kalung, gelang, dan atau sejenisnya.

Konstruksi nilai tersebut lagi-lagi sangat berbahaya. Karena pemberian simbol, aksesoris, dan cara penyikapan yang salah akan menjadi sebuah mental kepribadian yang tidak proporsional. Selain itu, anak akhirnya tidak memiliki citra diri yang jelas. Karena keterpaksaan dari lingkungan, membuat dirinya harus menjadi seorang laki-laki, sementara hakikatnya adalah perempuan, atau sebaliknya. Maka, semakin berbahayalah bila kemudian anak tersebut mencintai sesama jenis. Naudzubillaahimindzalik.

Selain penyikapan yang salah dari orang tua atau lingkungan sekitar, media juga cukup memberi andil negatif terhadap pemahaman anak akan perbedaan gender. Jika sekian banyak tayangan menyuguhkan profil seorang waria, ini adalah bagian dari fakta yang membingungkan bagi anak. Anak dengan segudang rasa penasarannya (kuriositas), dimana tahap perkembangannya berada pada tahap operasional konkrit (harus serba tervisualisasi dan tersimbolkan), akan memendam pertanyaan besar tentang apakah waria itu laki-laki atau perempuan.

Demikian juga dengan iklan-iklan yang mayoritas menggunakan tampilan perempuan cantik dan menarik. Bahkan yang korelasinya tidak ada sama sekali seperti iklan mesin traktor atau iklan pompa air. Ketika tayangan iklan tersebut terekam oleh memori otak anak, maka sang anak akan membuat berbagai simpulan yang salah satu diantaranya adalah, perempuan itu adalah alat. Atau, simpulan lain misalnya, jika sebuah produk itu ingin laku, maka harus dijajakan oleh perempuan cantik dan menarik. Nah, sesempit itukah penafsiran tentang gender yang kemudian muncul pada benak anak-anak kita? (haluankepri.com)

Related posts