Laba Bersih BRI Rp5,01 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk memeroleh laba bersih sebesar Rp5,01 triliun pada triwulan I 2013 atau meningkat 18,76% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,22 triliun. Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) BRI, Djarot Kusumayakti, menuturkan pencapaian kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan kredit keseluruhan mencapai 27,6% pada triwulan I 2013 secara year on year (yoy). \"Revitalisasi bisnis mikro BRI juga terus membuahkan momentum pertumbuhan secara berkelanjutan. Kredit mikro BRI tumbuh sebesar 22,3%, meningkat dari pertumbuhan triwulan I 2012 yang tercatat 16,12%,\" kata dia di Jakarta, kemarin.

Djarot mengatakan segmen mikro merupakan kontributor terbesar dalam portofolio kredit BRI, yakni mencapai 31,07%. \"Kontribusi kredit mikro BRI dalam portofolio kredit BRI terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Pertumbuhan kredit mikro BRI tidak hanya menghasilkan peningkatan posisi (outstanding) pinjaman, tetapi juga menghasilkan peningkatan jumlah nasabah,\" kata dia. Sementara itu, hingga triwulan I 2013, rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BRI terus mengalami penurunan, dari 61,31% pada triwulan I 2012 menjadi 60,46% di triwulan I 2013. Djarot mengatakan, perseroan akan terus berupaya bertumbuh dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.

Landasan itu, menurut dia, dihasilkan dari rasio tingkat kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) serta struktur permodalan BRI. \"CAR BRI per akhir Maret 2013 mencapai 17,91% dengan struktur permodalan, yang 94% merupakan TIER I,\" terangnya. Menanggapi polemik kenaikan harga BBM Bersubsidi, Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, menilai rencana kenaikan harga Premium, khususnya mobil pribadi, tidak akan berpengaruh bagi bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah perbankan. \"Menurut kami, dampaknya hampir tidak ada bagi bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perbankan,\" kata Sofyan.

Dia mengatakan, kebijakan BBM Bersubsidi hanya akan berdampak pada individu, yakni kelompok kelas menengah ke atas yang memiliki mobil pribadi, kemungkinan akan melakukan penghematan dalam penggunaan kartu kredit. \"Kenaikan harga BBM bersubsidi kan hanya untuk mobil pribadi. Yang memakai mobil pribadi itu kelas menengah ke atas yang pendapatannya Rp6 juta ke atas per bulan, sehingga mungkin nanti yang dikurangi penggunaan kartu kreditnya,” tandasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

WIKA Bukukan Laba Bersih Rp 2,07 Triliun

NERACA Jakarta - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) sepanjang tahun 2018 mencetak laba bersih sebesar Rp2,07 triliun, tumbuh signifikan…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

CMNP Kantungi Laba Bersih Rp 775,85 Miliar

NERACA Jakarta - Bisnis jalan tol sepanjang tahun 2018 masih memberikan keuntungan bagi PT Citra Marga Nusaphala Tbk (CMNP). Dimana…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kredit Bank DKI Tumbuh 27,9%

      NERACA   Jakarta – Sepanjang 2018, Bank DKI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 27,95 dari semula sebesar Rp27,1…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

      NERACA   Jakarta – Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate…

Bunga The Fed Diyakini Hanya Naik Sekali

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia mengubah proyeksinya untuk kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve, Bank…