Dunia Industri Sebabkan Pemanasan Global

Sebagai salah satu penyumbang terjadinya pemanasan global, dunia bisnis wajib turut andil menyelamatkan bumi dari perusakan secara sistematis, masif, dan cepat.

NERACA Saat ini keprihatinan mengenai Bumi telah didominasi dengan permasalah perubahan iklim. Meskipun Perubahan iklim terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang, antara 50-100 tahun, paling tidak sudah jutaan orang telah terkena dampak perubabahan iklim yang merupakan efek kelanjutan dari pemanasan global. Sebuah laporan terakhir dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa gejolak pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim telah mendekati skala gejolak yang disebabkan oleh perang. Ratusan ribu orang per tahun meninggal karena dampak iklim, dan jutaan lainnya menjadi pengungsi. Tak hanya itu, peningkatan temperatur bumi akibat pemanasan global memicu pemutihan karang yang akan berdampak mengerikan bagi kelangsungan kehidupan laut dan jutaan nelayan yang menggantungkan hidup dari sumberdaya perikanan. Hilangnya hutan-hutan alam rumah jutaan makhluk hidup yang menjadi penyeimbang iklim bumi memicu gangguan pola cuaca dan menyebabkan banjir besar di beberapa tempat di Indonesia serta intensitas badai yang meningkat. “Terkait pemanasan global, saat ini masalah yang berdampak massal dan memberikan kerugian sangat besar karena faktor alam (lingkungan),” kata Vice President Partnership ACT, Ibnu Khajar kepada Neraca. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Satu-satunya kegiatan manusia yang menimbulkan dampak besar terhadap iklim adalah pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas yang menimbulkan gas karbon dioksida. Aktifitas ini dilakukan oleh manusia semenjak revolusi industri muncul. Sejak abad 18, manusia melakukan pembakaran terhadap sejumlah besar batu bara dan minyak, sehingga jumlah karbon dioksida di atmosfer bumi mengalami peningkatan sebesar hampir 30%. Penggunaan energi yang boros hingga buangan limbah gas karbon akibat proses produksi merupakan dampak negatif operasi perusahaan yang terjadi setiap harinya. Menurut para peneliti, pembakaran bahan bakar fosil pada masa industrialisasi telah melepas CO2 dalam jumlah yang sangat besar ke atmosfer. Akibatnya, emisi karbon yang dihasilkan tetap akan terus berdampak pada atmosfer bumi selama berabad-abad ke depan. Tak pelak, tuduhan bahwa industri adalah penyumbang terbesar dari terjadinya pemanasan global jelas tidak terbantahkan lagi. Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah kelompok peneliti yang konsen meneliti dan mengamati tentang berbagai hal yang berkaitan dengan perubahan iklim mengatakan bahwa pemanasan global yang terus meningkat ini akan menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan dimuka bumi. Lihatlah saja sekeliling dunia, sana-sini berlaku bencana alam, kemusnahan, dan sebagainya. Jika dilihat dari berbagai fenomena alam yang terjadi, terlihat bahwa efek negatif dari pemanasan global semakin hari intensitasnya semakin tinggi. Dengan kata lain bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian yang khusus oleh semua pihak, termasuk oleh dunia industri itu sendiri. Oleh karena itu, sebagai salah satu penyumbang terjadinya global warming, dunia bisnis wajib turut andil dalam menangani masalah ini. Lantas apa yang bisa dilakukan perusahaan dalam isu lingkungan yang demikian pelik untuk diperhatikan? Sebagai wujud komitmen atas pembangunan berkelanjutan oleh dunia bisnis,Corporate Social Responsibility(CSR) dalam hal perubahan iklim adalah bentuk tanggung jawab perusahaan akan aktivitasnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap akselerasi perubahan iklim.“CSR yang tidak memiliki program lingkungan terkait pemanasan global akan dianggap ketinggalan zaman,” imbuh Khajar. CSR menyangkut perubahan iklim pada perusahaan terdiri atas laporan detail emisi gas rumah kaca, target pengurangan emisi, dan langkah-langkah konkrit untuk mencapai target tersebut. Selain itu, corporate climate strategy atau strategi perusahaan menghadapi perubahan iklim bagi perusahaan yang benar-benar mau menjalankan CSRnya dalam isu pemanasan global mutlak diperlukan. Dalam strategi tersebut termuat seluruh hal yang mungkin dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi dampak atas perubahan iklim, atau bahkan membuat dampak bersih positif. Seperti yang tengah dilakukan oleh dunia bisnis belum lama ini dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April lalu. Program-program efisiensi energi, reforestasi dan konservasi hutan, penggunaan listrik dari energi terbarukan dan pembelian offset karbon merupakan langkah-langkah biasa dilakukan perusahaan dalam CSR mereka.

Related posts