Daya Beli Meningkat, IHSG Hanya Tumbuh 18%

NERACA

Jakarta – Kenaikkan Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) yang telah mencapai 15% dari sebelumnya, diperkirakan akan alami kenaikkan lagi namun tidak lebih dari 18% sesuai pertumbuhan GDP.

Chief Economist and Director for Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat mengatakan, IHSG naik bisa mencapai 18% sesuai dengan GDP grows, “Kondisi ini juga didukung daya beli dan jadi tidak mungkin bisa naik lebih besar dari 18%,”katanya di Jakarta, Rabu (24/4).

Menurutnya, kenaikkan IHSG kedepan akan didorong oleh 2 faktor yang disebutnya manfaat dan martabat. Manfaat didapat dari pertumbuhan laba sedangkan martabat yaitu upgrade PE (Price Earning Ratio) yang terkait dengan kebijakan politik, misalnya terkait dengan pemangkasan subsidi BBM.

Budi juga menjelaskan mengenai kenaikkan BBM yang akan membuat positif, yaitu meredam currency risk agar suku bunga rendah. Pasalnya, pemerintah membutuhkan US$ 2 miliar per bulan untuk impor BBM. Rupiah juga dirasa aneh sekawasan oleh Budi, pasalnya, saat mata uang negara lain menguat, rupiah justru melemah.“Ekonomi kita bagus tetapi BBM tidak dampaknya ada dua, yang pertama Rupiah melemah karena butuh valas, yang kedua pemerintah harus terbitkan obligasi lebih banyak,”jelasnya.

Dirinya mengharapkan, para investor tetap bermain saham terutama di sektor infrastruktur yang dinilainya lebih bertenaga. Dia juga menjelaskan bahwa investor asing sudah menduga akan kenaikkan harga BBM, karenanya dengan indikator ini yield stabil, “Investor kita masih bersifat follower, saat asing beli saham A, investor domestik akan ikut membeli. Namun demikian saya mendukung untuk tetap berada di sektor infrastruktur,”ungkapnya.

Sementara Direktur Bahana TCW Investment Management, Edward P Lubis mengungkapkan, penguatan IHSG yang cukup signifikan sempat membuat beberapa investor cenderung menahan beli produk reksa dana, “Ketika indeks saham meningkat cukup signifikan ada beberapa investor cenderung menahan untuk masuk ke produk reksa dana. Namun, reksa dana merupakan investasi jangka pajang jadi tidak perlu khawatir,\"tuturnya.

Dia menambahkan, pasar saham bergerak cukup berfluktuasi namun investasi dalam produk reksa dana cenderung stabil. Melalui reksa dana investor kecil akan dapat menikmati hasil investasi di pasar modal.

Menurutnya, reksa dana memberikan pilihan yang luas bagi investor, mulai dari yang berisiko rendah sampai dengan tinggi, “Investor diharapkan tetap memperhatikan toleransi risiko yang ada,\" ujarnya.

Tahun ini, Bahana TCW menargetan jumlah nasabah dapat meningkat lebih dari 5.000-an investor salah satunya didorong dari program Bahana SiNar (Intestasi Benar).(nurul)

BERITA TERKAIT

Divestasi Bank Permata - Astra Luluh Ke Tawaran Bank Bangkok

NERACA Jakarta – Sikap bersikukuh PT Astra International Tbk (ASII) untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk…

Wujudkan Perusahaan Sehat - Garuda Bekukan Rute London Yang Bikin Tekor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/12) pada sesi…

Perintis Tiniti Bidik Dana IPO Rp 250 Miliar

NERACA Jakarta –Tutup tahun 2019, minat perusahaan untuk mencatatkan saham perdananya di pasar modal masih tinggi. Salah satunya, PT Perintis…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Platform Bersama e-KYC - Dukcapil Tegaskan Tak Ada Pemberian Data NIK

Era digital yang serba cepat dan agile, industri perbankan dituntut untuk menyediakan layanan berbasis teknologi digital. Layanan digital akan memudahkan…

Divestasi Bank Permata - Astra Luluh Ke Tawaran Bank Bangkok

NERACA Jakarta – Sikap bersikukuh PT Astra International Tbk (ASII) untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham di PT Bank Permata Tbk…

Wujudkan Perusahaan Sehat - Garuda Bekukan Rute London Yang Bikin Tekor

NERACA Jakarta – Perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (12/12) pada sesi…