Ketika Padi dan Udang Diikat Dalam Satu Bisnis - Untung Ganda Dengan Program Ugadi

NERACA

Jakarta - Program Minapadi sudah cukup lama dikembangkan pemerintah. Kini pemerintah melalui kembali menggalakkan program Minapadi yang dipadu dengan budidaya udang galah. Program ini disebut Ugadi dengan mengoptimalkan fungsi lahan sawah irigasi. Potensi omset usaha Ugadi lebih besar dibandingkan dengan usaha minapadi dengan komoditas lainnya.

“Omset kegiatan usaha ini mencapai puluhan juta rupiah,” ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, pada saat panen udang Galah intensif di Sukabumi pekan lalu seperti tertuang dalam keterangan resmi yang dikutip Neraca, Rabu (24/4).

Slamet menjelaskan, program Ugadi pada prinsipnya tidaklah berbeda dengan usaha minapadi dengan komoditas ikan mas dan ikan nila yang telah dilakukan oleh pembudidaya. Bedanya hanya pada komoditas yang dibudidayakan yakni udang galah. Minapadi yang dilakukan pada model Ugadi ini adalah minapadi dengan konsep minapadi tumpang sari yaitu dengan menanam padi kemudian setelah umur padi 10 hari barulah dilakukan penebaran benih udang galah dengan kepadatan tebar 5 ekor per meter persegi.

Benih padi yang ditanam adalah benih padi INPARI 13 atau INPARA 5. Keunggulan jenis padi ini adalah tahan terhadap genangan air selama pemeliharaan dan juga memiliki masa pemeliharaan tidak jauh berbeda dengan udang galah. “Pemilihan bibit padi yang tidak jauh berbeda masa pemeliharaan ini dimaksudkan agar pembudidaya dapat menikmati hasil yang berlipat karena memiliki dua pendapatan dari penen udang galah dan tanaman padi,” jelasnya.

Menurut Slamet, perputaran bisnis ugadi ini tidak memakan waktu yang lama. Pasalnya masa pemeliharaan udang galah hanya berkisar 90 hari dengan menggunakan benih seukuran 6 – 8 gram per ekor. Dari percobaan yang dilakukan didapatkan bahwa dari setiap panen dapat dihasilkan sebanyak 100 kilogram udang galah dari 1.000 meter persegi areal persawahan. Sementara padi yang dihasilkan mencapai sekitar 800 kilogram dari 1.000 meter persegi lahan sawah. Benih ditebar sebanyak 5.000 benih udang galah. Salah satu syarat keberhasilan dan kesinambungan usaha perikanan budidaya adalah ketersediaan benih.

Masalah ketersedian benih tidak menjadi kendala karena saat ini benih Udang galah tersedia melimpah. BBPBAT Sukabumi adalah salah satu pemasok benih udang galah untuk kegiatan minapadi ini. Pada tahun 2012 telah diproduksi benih udang galah sebanyak lima juta ekor benih dengan kualitas terbaik untuk mendukung usaha ini. “Ke depan, BBPBAT akan meningkatkan produksi benih udang galah untuk lebih mendukung dan memperkuat usaha ugadi ini seiring dengan digalakkannya usaha ini di tahun ini,” ujarnya.

Tingkatkan Panen

Menurut Slamet, metode Ugadi tidak hanya udang galah saja yang menjadi lebih sehat tetapi juga mampu meningkatkan hasil panen tanaman padi. Saat ini rata-rata produktivitas padi nasional masih berkisar 4,9 ton/ha. Sementara, melalui sistem minapadi, produktivitas padi naik menjadi 7-8 ton/ha. Selain itu, tanaman padi lebih sehat karena tidak perlu menggunakan bahan-bahan pestisida dan bahan-bahan kimia berbahaya dan juga padi tidak mudah terserang hama ataupun penyakit. “Pada tahun 2012 Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mencetak lahan minapadi sebanyak 200.000 ha. Sebanyak 1% dari target tersebut adalah untuk kawasan Ugadi yakni seluas 2.000 ha,” jelasnya.

Slamet menjelaskan, usaha Ugadi merupakan salah satu langkah guna memininalisasi alih fungsi lahan padi. Seperti sudah banyak diketahui bahwa banyak lahan padi yang berubah fungsi dan menggerus lahan sawah yang mengancam ketahanan pangan nasional. Dengan metode ini diharapkan alih fungsi lahan sawah dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahan pangan nasional.

Guna mendukung pengembangan budidaya minapadi dengan komoditas udang galah KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya telah membuat kegiatan percontohan ugadi di Banjarnegara dan Sukabumi. Di Banjarnegara, baru-baru ini telah dilaksanakan panen perdana udang galah di kawasan minapadi seluas 1 ha khusus untuk Ugadi.

“Begitupun di daerah Sukabumi juga sudah melakukan panen. Dengan keberhasilan kegiatan percontohan ini maka Ugadi sangat layak untuk dikembangkan sebagai salah satu alternative usaha perikanan budidaya,”ujarnya.

Slamet menegaskan, untuk pasar udang galah hingga saat ini tidak ada masalah. Bahkan permintaan udang galah dalam negeri masih cukup tinggi. Misalnya, Jakarta membutuhkan setidaknya 2 ton perhari. Selain Jakarta, daerah yang membutuhkan pasokan udang galah antara lain Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Total pasar udang galah dalam negeri bisa mencapai 20 ton per hari. Diprediksikan, setiap tahun permintaan akan komoditas udang terus meningkat, seiring berkembangnya pariwisata di Indonesia.

Related posts