Indonesia Ingin Jadi Produsen Otomotif Dunia

NERACA

Yogjakarta - Pesatnya pertumbuhan industri otomotif di kawasan Asia Pasifik, dalam beberapa tahun terakhir ini nampaknya ikut mengerek industri otomotif di Indonesia. Untuk itu, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi salah satu basis produksi industri otomotif dunia. Apalagi Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.

\"Bagi kita Indonesia menginginkan menjadi basis produksi, bukan hanya untuk memenuhi dalam negeri tapi bagaimana juga untuk ekspor,\" kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian, Anshari Bukhari, usai pembukaan APEC Automotive Dialogue ke 18, di Yogyakarta, Rabu (24/4).

Apalagi, kata dia, saat ini nilai ekspor Indonesia terus mengalami peningkatan ke beberapa negara seperti Timur Tengah dan lain-lain. Apalagi, dia bilang, Indonesia memiliki potensi yang mendukung untuk menjadi negara basis industri.

Menurutnya, saat ini produksi mobil terus mengalami peningkatan. Bahkan, tahun lalu produksinya tembus satu juta lebih. Pihaknya, juga menargatkan penjualan mobil pada 2015 bisa mencapai angka 1,5 juta.

Anshari menambahkan, industri otomotif dalam negeri merupakan salah satu industri besar. Menurutnya, posisi Indonesia lebih banyak untuk mensupport di spare part dan komponen otomotif. \"Itu yang akan kita perkuat. Kita ingin mempersiapkan diri ke dalam lingkup berkembangnya industri otomotif,\" jelasnya.

Lebih jauh, Anshari bilang pertemuan APEC ini bertujuan meningkatkan kerjasama anggota Apec yang selama ini memproduksi mobil. Karena, dengan adanya kerja sama tersebut bisa tercipta suatu sinergi antara produsen satu dengan yang lain termasuk adanya transfer teknologi dan standarisasi produk. \"Intinya mendorong adanya daya saing termasuk harmonisasi aturan. Apalagi, pertemuan ini diwakili pemerintah dan pelaku usaha,\" tegasnya.

Selain itu, hal ini juga membuka akses pasar tanpa merugikan satu sama lain. Misalnya dengan tidak membuat regulasi-regulasi yang bertentangan dengan semangat kebijakan yang sudah dibangun selama ini.

Pusat Produksi

Sekjen Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Juwono Andrianto mengatakan, Indonesia sangat mendukung untuk menjadi pusat produksi otomotif. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya alam pendukung seperti rubber, steel, plastik, alumunium dan lain-lain. Apalagi, bio fuel juga Indonesia pusatnya. \"Kita jangan hanya jadi market,\" jelasnya.

Dengan sumber daya alam yang dimiliki, indonesia bisa menjadi negara maju dan berkembang seperti Jepang, Korea dan China dalam sektor otomotifnya. Dia bilang, investasi lokal banyak masuk ke industri kecil dan komponen. \"Saya prihatin, masa kunci-kunci saja semuanya made in China. Harusnya Indonesia bisa,\" jelasnya.

Terkait dengan target produksi dan penjualan, dia belum bisa menyebutkan. Pasalnya, industri ini masih melihat rencana kenaikan harga BBM. Menurut dia, dengan adanya kenaikan harga akan berdampak pada penurunan penjualan. \"Pada 2005 saja ketika harga BBM dinaikan terjadinya penurunan 40 persen. Namun, semuanya belum tentu sama karena kondisi ekonominya berbeda,\" katanya.

Dia juga berharap, peraturan Low Cost Green Car (LCGC) segera keluar untuk meningkatkan penjualan otomotif. Indonesia kembali mendapat kehormatan dan kepercayaan dari masyarakat internasional untuk menjadi tuan rumah event konferensi Asia Pacific Economic Cooperation Automotive Dialogue (APEC AD) ke-18.

APEC AD pertama kali dilaksanakan di Bali pada tahun 1999 dan terus berlanjut hingga saat ini yang dilaksanakan sebanyak dua kali dalam setahun secara bergiliran di kalangan anggota ekonomi APEC. Pelaksanaan APEC AD ke-18 akan berlangsung pada tanggal 24 – 26 April 2013 di Yogyakarta, dengan melibatkan para anggota aktif APEC AD antara lain Indonesia, Australia, Amerika Serikat, China, Taiwan, Filipina, Jepang, Kanada, Korea, Malaysia, Meksiko, Thailand, dan Vietnam.

Di tempat yang sama,Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paku Alam IX mengatakan bahwa Yogyakarta siap menerima investasi khususnya untuk sektor industri otomotif. \"Kita siap untuk melayani para investor dan sudah cukup banyak investasi asing yang masuk di Yogyakarta,\" kata Paku Alam.

Paku Alam mengatakan kesiapan Yogyakarta dalam menerima para investor didukung dengan adanya karakteristik masyarakat Yogyakarta yang dikenal sebagai pekerja keras, rajin, dan tekun. \"Hal tersebut merupakan karakter yang sangat cocok dengan industri otomotif, dimana memerlukan ketelitian dalam melaksanakan pekerjaannya,\" kata Paku Alam.

Menurut Paku Alam, berdasarkan laporan Bank Dunia pada tahun 2012, Yogyakarta merupakan kota yang paling mudah untuk investasi, oleh karena itu pihaknya mengundang para investor untuk berinvestasi karena potensi yang dimiliki Yogyakarta. \"Kesiapan Yogyakarta tidak perlu diragukan,\" ujar Paku Alam.

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Provinsi Yogyakarta, beberapa perusahaan asing yang telah berinvestasi di Yogyakarta antara lain PT. Mustika Princess Hotel (Sheraton Mustika Hotel), PT. Carrefour, PT. Putra Mataram Mitra Sejahtera, PT. Purosani Sri Persada, PT. Exelindo Pratama, PT. Sari Husada, PT. GE Lighting Indonesia, PT. Makro Indonesia, PT. Sport Glove Indonesia Industri, dan PT. Adi Chandra Graha Wisata.

Related posts