PU: Membutuhkan Penanganan Khusus - Anggaran Wilayah V Lebih Besar dari Wilayah IV

NERACA

Tegal - Anggaran Pembelanjaan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2013 menetapkan Rp1,3 triliun dialokasikan untuk Jalan Lintas Utara Jawa, atau lebih dikenal Pantura. Dari anggaran tersebut, sebesar Rp878 miliar dialokasikan untuk Wilayah V, yakni Provinsi Jawa Tengah senilai Rp547 miliar, dan Jawa Timur Rp331 miliar. Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah V (Jateng, Jatim, dan DI Yogyakarta) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Masrianto, mengungkapkan anggaran sebesar itu wajar lantaran jenis penanganan yang berbeda antara Wilayah IV (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat) dengan Wilayah V. “Kondisi Jalan Nasional Wilayah IV jauh lebih baik ketimbang Jalan Nasional Wilayah V. Jadi, alokasi perbaikan dan perawatan Pantura di Wilayah IV tidak sebanyak Wilayah V. Untuk wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat, masing-masing mendapatkan alokasi sebesar Rp38 miliar, Rp169 miliar serta Rp201 miliar,” ujar Masrianto kepada Neraca di Tegal, Jawa Tengah, Rabu (24/4).

Berdasarkan catatan Neraca, sejak 2010, proporsi anggaran untuk Wilayah IV selalu lebih rendah daripada Wilayah V. Pada 2010, Wilayah IV alokasi anggarannya sebesar Rp330 miliar dan Wilayah V Rp872 miliar. Di 2011, Wilayah V sempat turun anggarannya menjadi Rp658 miliar, namun untuk Wilayah IV meningkat menjadi Rp343 miliar. Tahun lalu, Wilayah IV Rp483 miliar sedangkan Wilayah V Rp710 miliar. Total panjang Jalur Pantura,mulai dari Banten hingga Jawa Timur adalah 1.341 kilometer (km). Sementara panjang jalur di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat berturut-turut 106 km, 63 km, dan 273 km. Sedangkan panjang jalur Pantura di Jateng dan Jatim masing-masing 412 km dan 487 km. Total kondisi jalan di Pantura 46,47% dalam keadaan baik, 51,38% ada dalam kondisi sedang, sedangkan rusak ringan dan rusak berat masing-masing 2,12% dan 0,03%.

Rentan terendam air laut

Masrianto juga menjelaskan kalau beberapa hal teknis menjadi penyebab perbedaan alokasi anggaran. Menurut dia, Wilayah V lebih rentan dengan rendaman air laut, terutama ketika sedang pasang ketimbang Wilayah IV, karena secara geografis lebih banyak yang dekat dengan laut. Dia kemudian memberi contoh jalan di wilayah Brebes, tepatnya jalur Losari - Tegal. Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PU, Djoko Moerjanto, mengatakan dirinya baru mengetahui kalau di sepanjang jalur tersebut merupakan jalur yang rawan terlimpah air laut. “Di ruas jalan sepanjang 500 meter ini, ketika banjir, air laut langsung meluap. Makanya, sedang dilakukan rigid pavement yang direncanakan satu bulan selesai,” jelas Djoko, saat kunjungan kerja di Brebes, Jawa Tengah, kemarin.

Informasi saja, rigid pavement adalah betonisasi, bukan hanya sekadar di aspal. Secara teori, kata Djoko, pembuatan jalan dengan beton akan lebih awet daripada aspal. Biaya perawatannya pun lebih rendah, meskipun biaya untuk betonisasi lebih tinggi. Dia juga menjelaskan, selain air laut dan banjir yang lebih sering menggenangi Jalan Nasional Wilayah V, penganggaran di wilayah ini lebih tinggi juga dikarenakan kondisi jalan yang sudah lama sekali tidak dilakukan peningkatan. “Kondisinya berat. Di antaranya seperti jalan di Kendal, tepatnya jalur Weleri - Kendal di Jawa Tengah. Yang tidak kalah beratnya adalah jalur Pantura di Demak,” tambahnya. Selain itu, kata dia, banyaknya jembatan-jembatan tua di Wilayah V yang cukup menguras anggaran. Contohnya, jembatan yang berada di Pemali Jawa Tengah, yang menguras anggaran Rp15 miliar hanya untuk perbaikan.

Tahapan perbaikan

Kerusakan yang terjadi di Jembatan Pemali, ungkap Djoko, utamanya disebabkan oleh pelat lantai ortotropic yang tidak berfungsi sempurna. Lapisan aspal yang digunakan sering lepas dan sebagian connecting (las) antara plat dan profil baja sering aus. Wajar saja, ketika beban lalu lintas bekerja lalu melebihi beban standard, menyebabkan pelat bergetar melebihi toleransi dan sobek. “Kemungkinan ini semakin besar terjadi karena rangka jembatan CH (Calender Hamilton) yang sudah cukup tua. Maka dari itu, dengan anggaran Rp15 miliar ini, maka penanganan Jembatan Pemali akan dilakukan dengan beberapa hal,” terangnya.

Pertama, penguatan rangka jembatan dengan external stressing. Kedua, penggantian lantai jembatan. Ketiga, pembuatan jembatan sementara untuk menambah kapasitas. Namun, tambah Djoko, seluruh pengerjaan tersebut akan dituntaskan setelah lebaran. “Kita tidak mau mengganggu mudik lebaran dengan pengerjaan Pemali ini,” jelas dia. Secara umum, penanganan jalur Pantura mempunyai konsep dasar yang sama dengan jalan nasional lainnya. Seluruh jalan yang dalam kondisi baik dan sedang ditangani pemeliharaan rutin sepanjang tahun dengan tujuan mempertahankan kondisi yang ada. Khusus untuk jalan kondisi sedang, atau hampir rusak, maka mendapatkan pemeliharaan berkala. Sedangkan jalan dengan kondisi rusak ringan, maka akan mendapati pemeliharaan berkala atau rekonstruksi. Untuk jalan dengan kondisi rusak berat, maka harus dilakukan rekonstruksi. Khusus Pantura, diberlakukan ketentuan penutupan lubang maksimal lima hari setelah ditemukan. [iqbal]

Related posts