Pemerintah Buat Program Percontohan Pasar Aman - Banyak Kandungan Makanan Berbahaya

Banyak orang enggan berbelanja bahan makanan di pasar, karenakan banyaknya kandungan makanan yang di temukan mengandung bahan berbahanya. Akibatnya, pemerintah mengadakan program percontohan pasar aman dari kandungan bahan berbahaya.

NERACA

Demi melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat bahan berbahaya dalam pangan, pemerintah mencanangkan program percontohan pasar aman dari bahan berbahaya. Hal itu juga bertujuan memberdayakan komunitas pasar, agar berperan aktif melakukan pengawasan mandiri dan berkesinambungan.

Pencanangan pasar aman dari bahan berbahaya ini melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesehatan, dan Pemerintah Provinsi DKI yang diselenggarakan di Pasar Cibubur.

\"Hasil pengawasan BPOM menunjukkan masih maraknya penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan, seperti formalin disalahgunakan sebagai pengawet makanan, boraks disalahgunakkan jadi perenyah makanan, dan pewarna non pangan sebagai pewarna pangan,\" jelas Kepala Badan Kepala BPOM Lucky S Slamet.

Lucky menuturkan, program pasar aman dari bahan berbahaya ini mulai dicanangkan di Jakarta karena merupakan ibu kota negara yang bisa menjadi barometer bagi daerah lain. Sebab dalam 3 tahun pasar aman akan dicanangkan di 108 kota di 31 provinsi di Indonesia.

Oleh karena itu, kata Lucky, dibutuhkan kerja sama lintas sektoral agar program ini dapat berjalan. Seperti pencanangan pasar aman bahan berbahaya di Jakarta, BPOM turut menggandeng Pemprov DKI. Keterlibatan pemerintah daerah dinilai penting untuk menjamin keberlangsungan pengawasan peredaran makanan mengandung bahan berbahaya di pasar-pasar tradisional.

Percontohan di Jawa

Kementerian Perdagangan RI menetapkan tiga pasar di Jawa Tengah, yaitu Pasar Turisari di Kota Surakarta, Pasar Bengkonang di Kabupaten Sukaharjo, dan Pasar Cepogo di Kabupaten Boyolali sebagai pasar percontohan.

\"Sebagai pasar percontohan, Pasar Turisari, Pasar Bengkonang, dan Pasar Cepogo diharapkan dapat menjadi contoh bagi pasar rakyat lainnya sebagai pasar yang bersih, sehat, nyaman, dan tertib ukur, serta mampu memperlancar arus barang untuk jaga stabilisasi harga dan mengurangi disparitas harga antar daerah,\" ujar Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan.

Menurut dia, sejak tahun 2011, Kemendag telah melakukan revitalisasi pasar untuk meningkatkan daya saing pasar rakyat terutama dalam menghadapi pesatnya pertumbuhan toko modern belakangan ini.

Dari tahun 2011 hingga 2013, Kemendag telah merevitalisasi sebanyak 447 unit pasar rakyat yang terdiri dari 53 unit pasar percontohan dan 394 unit pasar non-percontohan. Untuk Provinsi Jateng, pasar yang telah direvitalisasi sebanyak 28 unit dengan anggaran sebesar Rp180 miliar. Termasuk di dalamnya adalah revitalisasi Pasar Tusari sebesar Rp10 miliar, Pasar Bekonang Rp15 miliar, dan Pasar Cepogo Rp5 miliar yang dilakukan pada tahun 2012.

\"Berdasarkan hasil evaluasi terhadap kinerja 10 pasar percontohan yang dibangun pada tahun 2011, ternyata secara bertahap ada peningkatan omzet transaksi sekitar 33 hingga 85 persen dibandingkan dengan omzet sebelum direvitalisasi,\" ujar Mendag.

Selain mengunjungi ketiga pasar percontohan tersebut, Mendag juga berkesempatan mengunjungi Pasar Sapi yang berlokasi di Kabupaten Sukoharjo. Disamping itu, Mendag juga melakukan penandatanganan prasasti di pasar-pasar tersebut, sekaligus berdialog dengan para pedagang pasar.

Pasar Cepogo, Pasar Turisari, dan Pasar Bekonang Pasar Cepogo yang berlokasi di Kabupaten Boyolali dibangun pada tahun 1952 dan menempati lahan seluas 5.010 meter persegi.

Jumlah pedagang Pasar Cepogo sebanyak 227 orang dan seluruhnya menjual sayur-sayuran. Pasar Cepogo memiliki fasilitas kios sebanyak 25 unit, los 3 unit, toilet 4 unit, CCTV 1 unit, dan pos jaga 2 unit.

Sementara itu, Pasar Turisari yang berlokasi di Kota Surakarta dibangun tahun 1986 dan menempati lahan seluas 8,799 meter persegi. Sebanyak 398 orang pedagang memanfaatkan fasilitas pasar berupa 36 unit kios, 252 unit los, 6 unit toilet, serta 1 unit CCTV.

Pasar Bekonang yang berlokasi di Kabupaten Sukoharjo dibangun tahun 1952 dan menempati lahan seluas 12.630 meter persegi. Jumlah pedagang pasar ini sebanyak 723 orang. Fasilitas pasar terdiri dari 423 unit kios, 300 unit los, 4 unit toilet, dan 1 unit CCTV.

Dengan adanya program ini di harapkan dapat menekan makanan yang tak layak konsumsi, dan kita akan terus memantau kegiatan pasar yang menjadi percontohan, mulai dari pedangan nakal. Dengan adanya program ini masyarakat akan lebih tenang untuk berbelanja di pasar.

BERITA TERKAIT

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Pemegang Saham Serap Rights Issue MDKA - Bidik Dana di Pasar Rp 1,33 Triliun

NERACA Jakarta - Aksi korporasi yang dilakukan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berupa penerbitan saham baru (rights issue) dengan…

Proyek Tol Bandung-Tasikmalaya Masih Tunggu Pemerintah Pusat

      NERACA   Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunggu aksi pemerintah pusat serta mendorong Kementerian Pekerjaan Umum…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Ini Tanda Tubuh Kurang Tidur dan Butuh Istirahat

Tidur merupakan kebutuhan yang mesti dipenuhi untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Namun, sering kali orang-orang abai pada tanda-tanda tubuh yang…

Pola Puasa Tepat untuk Pasien Diabetes

Meski diperbolehkan untuk tidak berpuasa, seringkali penderita diabetes tetap mencoba untuk berpuasa agar tetap mendapatkan keberkahan dan pahala di bulan…

Lima Kunci Penting Puasa Sehat

Tak terasa puasa sudah berjalan sekitar dua minggu. Rasanya tubuh sudah mulai terbiasa, tetapi orang sebaiknya tetap menjaga agar puasa…