Mengatasi Gizi Indonesia Melalui Program Pangan

Kekurangan gizi hingga saat ini masih sangat memperihatinkan di Indonesia. Untuk itu, pemerintah bersama sektor swasta bahu-membahu membuat program RANTAI (Rapid Action on Nutrition and Agriculture Initiative) aksi ini disebut juga dengan Aksi Segera Inisiatif Gizi dan Pertanian.

Pemerintah dan swasta kini tengah fokus pada wilayah yang sangat rentan terhadap pangan, yakni Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, tujuan program RANTAI ini adalah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi untuk sekitar 4.000 rumah tangga.

Ya, untuk menjalankan program ini tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sehingga pemerintah menyatakan kalau pihaknya membutuhkan dukungan serta kontribusi dari berbagai pihak, seperti sektor swasta maupun LSM.

Sebagai Ahli Gizi dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS menerangkan bahwa Kabupaten Timor Tengah Selatan sebenarnya sangatlah potensial dan memiliki lahan pekarangan yang cukup luas. Sehingga dari serangkaian kegiatan program ini sangat pas untuk diterapkan pada masyarakat Timor Tengah Selatan. \"Setiap saat, setiap waktu, dan setiap orang punya konsep ketahanan pangan. Untungnya di sana punya kebun atau ladang sekitar 0,25-0,5 hektar, jadi harus ada industri pangan,\" kata Hadi.

Dari hasil Riset kesehatan dasar (Riskesdas) beberapa tahun lalu, disebutkan prevalensi kekurangan gizi pada balita di NTT sangatlah tinggi. Angka ini sangat jauh sekali dari standar gizi seimbang, padahal yang disebut dengan gizi seimbang adalah susunan hidangan beberapa macam makanan harian yang dikonsumsi mengandung energi dan zat-zat gizi secara cukup, baik jenis maupun jumlahnya.

Ditambahkan Hadi, NTT merupakan provinsi yang mengalami kerawanan pangan dan kekurangan gizi pada balita. Alhasil, jarang sekali terlihat anak-anak di sana yang gizinya tercukupi. Jika dilihat dari tingkat kecukupan, faktor yang menyebabkan masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kekurangan gizi antara lain: Sosial ekonomi, Perilaku gizi ibu, Pendidikan ibu yang rendah, Pengetahuan gizi ibu rendah, Pengeluaran pangan, dan Perilaku hidup sehat kurang.

Hadi menjelaskan bahwa Kabupaten Timor Tengah Selatan mempunyai tiga jenis masalah kekurangan gizi, yaitu underweight (kekurangan berat badan), stunting (kekurangan tinggi badan), dan wasting (perpaduan antara kekurangan berat dan tinggi badan). \"Dalam persentasi ada 63 persen yang mengalami underweight, 69 persen mengalami stunting, dan 24 persen mengalami masalah gizi akut yaitu wasting,\" jelasnya.

Related posts