Pengelolaan SDA Terpadu Mutlak Diperlukan

NERACA

Jakarta - Pemenuhan kebutuhan dasar berupa penyediaan pangan, energi, dan air tetap menjadi tantangan besar yang sedang dan akan terus dihadapi manusia. Kebutuhan ini semakin bertambah jumlahnya seiring pertambahan penduduk, sehingga pengelolaannya juga harus terpadu. \"Kita butuh pengelolaan sumberdaya air (SDA) terpadu yang dalam pengelolaan tersebut memperhatikan aspek konservasi SDA, pendayagunaan SDA, dan pengendalian SDA didukung oleh peran masyarakat serta data dan informasi sumber daya air yang akurat,\" jelas Direktur Sungai dan Pantai, Direktorat Jenderal SDA, Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (23/4).

Konflik antarkabupaten, provinsi, dan negara juga dapat dicegah dengan pengelolaan SDA terpadu. Karena di Indonesia telah terjadi sengketa pengelolaan SDA yang terjadi antar daerah aliran sungai (DAS) atau wilayah sungai (WS), contohnya sengketa antara Subak Yeh Gembrong dan PDAM di Tabanan, perebutan sumber mata air antar desa di Garut, Jawa Barat, dan konflik pengelolaan sumber air untuk pariwisata antara 2 desa yaitu di perbatasan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal. Yang terbaru adalah konflik antara Pemerintah Kota Solo dan Pemerintah Kabupaten Klaten atas mata air Cokro Tulung. Penyebab konflik tersebut adalah karena tidak adanya kerja sama antar pemangku kepentingan dalam kawasan tersebut. Tanpa mengutamakan aspek pendayagunaan dan keberlangsungan sumber daya air itu sendiri.

Pitoyo mengharapkan dengan adanya tema HAD Tahun 2013 dapat menggugah kepedulian semua pihak agar bekerja sama dalam pengelolaan sumber daya air secara terpadu. Kerja sama pengelolaan SDA juga tidak hanya terbatas meliputi wilayah Indonesia saja mengingat kita memiliki lima sungai lintas negara yaitu satu WS berbatasan dengan Malaysia, 2 WS berbatasan dengan Timor Leste, dan 2 WS berbatasan dengan Papua Nugini. \"Saat ini sangat dibutuhkan sinergi semua pihak yang terlibat mutlak diperlukan sehingga pengelolaan SDA secara terpadu, menyeluruh dan berkelanjutan dapat diwujudkan. Dan kerja sama yang dibutuhkan dapat berupa pengembangan wilayah berbasis Rencana Tata Ruang, melanisme kerjasama hulu dan hilir, pembebasan lahan, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan irigasi, pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang cost-recovery dan pemenuhan target MDG’s,\" jelas Pitoyo. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Advance Kenalkan Produk Pendamping Liburan

  NERACA   Jakarta – Akhir tahun, biasanya sudah menyusun libur akhir tahun. Agar terhindar dari rasa capek dan lelah,…

Ritase Hadirkan Layanan Multimoda Transportasi Digital

NERACA   Jakarta - Dinamika ekonomi yang makin cepat dan terintegrasi membutuhkan solusi logistik yang mampu mengikuti akselerasi itu. Pada…

Beras Bulog Terancam Dibuang, HPP Perlu Dievaluasi

      NERACA   Jakarta - Pemerintah perlu mengevaluasi penerapan Harga Pembelian pemerintah (HPP) beras. Rendahnya HPP menjadi permasalahan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Perdagangan Berjangka Komoditi Makin Menarik Buat Investor

    NERACA   Jakarta - Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK), sebagai salah satu bentuk investasi alternatif di Indonesia kian menarik…

Impor Mesin Naik, Taiwan Jadi Pemasok Alat Mesin Ketiga Terbesar

    NERACA   Jakarta - Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), mengklaim total impor Indonesia untuk peralatan mesin dan…

Properti Berbasis Transportasi Publik Jadi Pilihan Konsumen

NERACA   Jakarta - Program pemerintah dalam meningkatkan penggunaan publik transportasi sebagai moda transportasi utama masyarakat terus di tingkatkan, hal…