Tahun 2012, Laba INCO Anjlok Jadi US$ 67,5 Juta - Dampak Harga Komoditas Dunia

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun 2012, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan penurunan laba drastis, mencapai 79,77% dari US$ 333,8 juta menjadi US$ 67,5 juta. Sama halnya dengan laba, pendapatan perseroan juga menurun 28,46% menjadi US$ 967,3 juta dari US$ 1.242,6 juta, “Penurunan tersebut terjadi akibat melemahnya harga komoditas nikel dipasar dunia. Bukan hanya itu, kontribusi dari meningkatnya biaya produksi sebagai akibat naiknya harga High Sulfur Fuel Oil atau HSFO juga berpengaruh. Kenaikan harga itu juga menyebabkan beban pokok pendapatan tahun 2012 juga meningkat 10%,”kata Presiden Direktur INCO, Nico Kanter di Jakarta. Selasa (23/4).

Meskipun kinerja perseroan tahun lalu anjlok, perseroan tetap membagikan dividen kepada pemegang saham US$ 25 juta atau US$ 0,00252 per lembar saham. Nantinya, dividen final ini akan dibayarkan pada 31 Mei 2013 mendatang kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pada 17 Mei 2013.

Dia mengatakan, besarnya dividen yang dibagikan mencerminkan komitmen perseroan dalam memberi imbal balik yang positif kepada pemegang saham. “Dividen untuk pemegang saham Indonesia akan dibayarkan dalam rupiah setara dengan jumlah dollar Amerika Serikat berdasarkan kurs tengah BI per Mei 2013,”ujarnya.

Nico juga menjelaskan bahwa pada 27 Desember 2012 lalu INCo telah membagikan dividen intern sebesar US$ 25 juta. Pembayaran ini akan membuat total pembayaran dividen kepada pemegang saham ditahun 2012 menjadi US$ 50 juta dengan rasio pembayaran dividen sebesar 74%.

Belanja Modal

Dia menambahkan, dalam rapat juga menyetujui alokasi dana sebesar 10% untuk dana cadangan umum atau setara dengan US$ 6,7 juta. Selain itu, perseroan juga menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 216 juta atau setara dengan Rp2,1 triliun. “Dana itu sepenuhnya berasal dari kas internal. Dan capex ini meningkat 44% dari tahun sebelumnya,” kata Nico.

Disebutkan, nantinya dana tersebut akan dialokasi untuk sustaining sebesar US$ 120 juta, US$ 50 juta untuk peningkatan produksi nikel perseroan dan US$ 40 juta untuk biaya riset dan pengembangan. “Sementara sisanya untuk biaya operasional perseroan,” imbuhnya.

Disamping itu, perseroan juga memutuskan untuk meningkatkan kapasitas nominal tanur dari 75 MW menjadi 90 MW, setelah memastikan pasokan listrik sudah memadai dengan beroperasinya PLTA Karebbe, “Dengan didukung kinerja operasional yang prima, penambahan kapasitas itu merupakan suatu tonggak baru bagi perseroan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Nico mengatakan, perseroan telah berhasil mencatat rekor produksi triwulan tertinggi sepanjang masa sebesar 21.306 metrik ton nikel dalam matte pada triwulan keempat 2012. Kemudian hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) juga menyetujui pengangkatan Kevin Graham sebagai Komisaris untuk menggantikan Conor Spollen. (nurul)

BERITA TERKAIT

Pengelolaan Hutan Indonesia Mendukung Pencapaian Netralitas Iklim Dunia - Menteri Siti Nurbaya

Pengelolaan Hutan Indonesia Mendukung Pencapaian Netralitas Iklim Dunia Menteri Siti Nurbaya NERACA Roma - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr.…

SAMBUT JUARA DUNIA

Atlet Indonesia juara dunia atletik nomor Lari 100 meter U-20 Lalu Muhammad Zohri (kedua kanan) mendapat sambutan dari Sesmenpora Gatot…

LABA BERSIH BNI TUMBUH

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Achmad Baiquni (ketiga kiri) berbincang dengan Direktur Bisnis Ritel Tambok P. Setyawati…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penjualan HEXA Capai 22,95% Dari Target

Di kuartal kedua 2018, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) membukukan penjualan alat berat sebanyak 495 unit atau 22,95% dari target…

Penjualan Kabelindo Murni Turun 29,45%

NERACA Jakarta - PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM) membukukan penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp221,7 miliar sepanjang kuartal I/2018. Capaian tersebut…

BTPN Bukukan Laba Bersih Rp 1,09 Triliun

NERACA Jakarta – Semester pertama 2018, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun atau…