BRI Mengaku Siap Akuisisi Bukopin - Lama Terhenti

NERACA

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mengaku masih berniat mengakuisisi PT Bank Bukopin Tbk. Wakil Komisaris Utama BRI Mustafa Abubakar, mengatakan kalau dirinya sudah mengeluarkan izin akuisisi tersebut tiga tahun lalu, ketika masih menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Akan tetapi, kata dia, karena sesuatu hal maka aksi korporasi tersebut terhenti hingga sekarang. “Dahulu saya sudah keluarkan izinnya tahun 2010. Dan itu diteruskan oleh Pak Dahlan (Iskan, Menteri BUMN). Tapi karena diselingi adanya permasalahan CIMB Niaga tempo hari, jadinya terhenti,” kata Mustafa di Jakarta, Selasa (23/4).

Menurut dia, rencana BRI mengakuisisi Bukopin dalam rangka memperluas jaringannya di seluruh Indonesia. “Kan seperti Bank Mandiri, yang mempunyai Mandiri Sekuritas. BRI juga ingin (seperti itu). Termasuk juga ingin memperluas jaringan bank. Kalau ada bank lain, ya, misalnya Bukopin. Tempo hari Bank Agro kan sudah dibeli. Nah, Bukopin demikian rencananya. Apalagi izin dari Kementerian BUMN sudah dapat,” jelasnya.

Langkah akuisisi ini, lanjut Mustafa, selain untuk memperkuat dan memperluas wilayah operasional BRI, juga untuk menguatkan posisi Bank Bukopin dan Bank Agro di ranah perbankan Indonesia agar menjadi yang terdepan dalam bidang masing-masing. “Alasannya ingin memperluas operasional, termasuk memperkuat Bank Agro dengan Bank Bukopin untuk menangani sektor koperasi dan agro yang lebih luas lagi. Kalau sekarang belum besar,” terang Mustafa.

Namun, dengan adanya aturan Bank Indonesia (BI) tentang Kepemilikan Tunggal di Perbankan Indonesia, maka anak usaha yang berbentuk bank sudah diharuskan untuk di merger satu sama lain. “Benar, nanti Bank Bukopin akan di merger dengan BRI. Artinya menjadi anak perusahaan selain Bank Agro,” papar dia. Terkait jumlah saham yang dapat dimiliki BRI atas Bank Bukopin, Mustafa mengaku belum mengetahui. Pasalnya, saham Pemerintah di Bank Bukopin sudah tereduksi, dari awalnya 18% kini menjadi sekitar 13%-14%. Sementara saham kepemilikan dari Badan Urusan Logistik (Bulog) masih 44%.

“Saya belum tahu angkanya. Pak Sofyan (Basir, Direktur Utama BRI) yang tahu. Ini masih dalam proses, dan komisaris tetap harus terlibat di situ. Kalau nanti sudah ada kesepakatan baru bisa diberitahukan ke publik,” tukasnya. Selain BRI, dari pihak swasta diwakili Bosowa Corporation yang juga kepingin mengakuisisi 35% saham Bank Bukopin milik Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia (Kopelindo) dan Yayasan Bina Sejahtera Warga Bulog (Yabinstra). Kelompok usaha yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan itu telah menyampaikan penawaran resmi ke pihak penjual. “Kami ditawari untuk membeli saham Bukopin dan kami berminat. Kami tengah menunggu respons dari pihak penjual,” tutur Direktur Bosowa, Sadikin Aksa, belum lama ini.

Akan tetapi, dirinya belum dapat menyebutkan dana yang disiapkan Bosowa untuk membeli saham Bukopin. Dia juga belum bisa mengungkapkan harga penawaran yang diajukan Bosowa. Berdasarkan keterangan beberapa pelaku pasar, Bosowa menawar saham Bank Bukopin sekitar Rp1.050-Rp1.150 per saham. Sebelumnya, akuisisi saham Bank Bukopin oleh BRI ini telah memasukkan proposal tender pengakusisiannya. Menteri BUMN Dahlan Iskan, menuturkan telah sejak lama memberikan izin kepada bank pelat merah itu untuk mengakuisisi. “Mereka (BRI) sudah masukkan tender. Izinnya sudah lama. Tapi akuisisi ini sangat tergantung pada proses tender yang diselenggarakan oleh pihak Bank Bukopin. PT CIMB Securities selaku penasihat divestasi telah mengirim penawaran ke BRI,” ujar Dahlan. Dia pun menambahkan, BRI merupakan satu-satunya bank BUMN yang berpeluang mengakuisisi Bank Bukopin, karena kedua bank ini sama-sama fokus di sektor mikro dan ritel. [ria/ardi]

Related posts