BII Targetkan 500 Cabang hingga 2015

NERACA

Jakarta – PT Bank Internasional Indonesia Tbk atau BII menargetkan akan mempunyai kurang lebih 500 cabang pada 2015 mendatang. Saat ini cabang BII sudah mencapai 415 kantor. “Rencana sampai 2015 akan ada 500 (kantor) cabang. Namun tentu saja kita ingin meningkatkan produktivitas cabang-cabang yang ada 415 (kantor) saat ini,” kata Dato’ Khairussaleh Ramli, Presiden Direktur BII, ketika ditemui usai acara RUPST dan RUPSLB, di Jakarta, Senin (22/4). Khairussaleh juga mengatakan kalau perseroan yang dipimpinnya akan membuka kantor cabang lagi di luar negeri, yaitu di Mumbai, India. “Sekarang cabang di luar negeri baru ada di Mauritius, sedangkan kita juga mau buka di Mumbai sekitar Juni 2013, tapi itu masih menunggu izin dari bank sentral India. Dan di sana minimum permodalan untuk membuka cabang itu sebesar US$25 juta,” tuturnya.

Sementara, kembali lagi pembukaan kantor cabang di dalam negeri, memang BII akan melakukan beberapa perubahan rencana bisnis bank (RBB) di Juni nanti. Hal ini dikarenakan adanya peraturan BI yang baru soal BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) yang berhubungan dengan pembukaan kantor cabang di zona 1 sampai 6. “Waktu kita sampaikan RBB akhir tahun kemarin (ke BI), aturannya belum ada kan, jadi sekarang semua bank akan menyesuaikan dengan aturan baru itu, dan ini sudah ada diskusi dengan BI. Kita akan sampaikan perubahan rencana di Juni 2013 seperti biasa. Yang diubah bukan dari segi jumlah tapi akan menyesuaikan lokasinya saja,” jelasnya.

Dia pun mencontohkan lokasinya yang akan diubah itu misalnya yang tadinya direncanakan buka banyak kantor cabang di Jakarta, namu ada beberapa yang akhirnya harus dipindah ke luar Jakarta. “Mungkin yang ada di Jakarta atau zona 1 mesti dipindah ke luar Jakarta. Yang dipindah terbanyak ada di zona itu, tapi yang lainnya tetap berjalan. Ini kebanyakan dipindah ke Jateng, Jabar, dan sebagainya, kemudian yang di Sumut itu tetap,” ungkapnya. Untuk pembukaan satu kantor cabang, kata Thila, dibutuhkan investasi sekitar Rp50-Rp75 juta. Dan itu ditargetkan akan mencapai break event point (BEP) dalam jangka waktu 18 sampai 30 bulan sejak didirikan. Kemudian, Thila bilang bahwa BII sudah memperhitungkan jika membuka di zona yang tidak padat yang otomastis dari segi bisnis juga tidak sepesat di zona padat atau kota besar.

“Itu menjadi obyektif BII sendiri, bukan hanya di Jabar dan Jateng, juga kita harus ada cabang di Sulawesi, Makassar, dan Manado, karena di sana banyak potensi juga. Mau tidak mau kita harus menuju ke sana. Tapi tidak terlalu banyak yang dipindah Indonesia timur. Jadi kita akan meminimalkan (cabang) di zona 1, tapi memaksimalkan jumlah cabang yang akan dibuka di 2013 itu ditempatkan di zona-zona lain,” ucapnya.

BII juga sudah mempertimbangkan mengenai kemungkinan peningkatan BOPO yang akan disebabkan oleh banyaknya pembukaan cabang di luar kota. “Itu yang menjadi pertimbangan kami juga, jadi kita mencari cara yang lebih efisien, mungkin di situ perlu transportasi yang lebih lama, komunikasi yang lebih tinggi, itu akan menjadikan kantor kami lebih kecil dan efisien. Daripada tiga ruko, ya satu ruko cukup. Daripada 20 orang, ya 5-6 orang pun cukup. Juga kami lebih terpacu untuk menggunakan komunitas di situ, serta lebih menyebarkan transaksi di e-channel, internet dan mobile banking untuk menjadikan transaksi di area itu supaya meningkatkan revenue kami,” jelasnya.

Sehingga di daerah atau zona yang tidak padat, perseroan akan memfokuskan kepada produk-produk yang khusus dibutuhkan nasabah di daerah tersebut saja. “Jadi itu tergantung cashment area-nya, kalau di situ yg dibutuhkan cuma funding ya itu saja yang kami lakukan, tapi dibantu mungkin dengan KTA atau asuransi. Itu juga tergantung dengan nasabah-nasabah yang di sana mereka bekerja di bidang apa, dan kita sesuaikan saja dengan produk-produk yang diperlukan. Produk-produk baru itu kebanyakannya tertuju kepada syariah,” paparnya.

Sebagai informasi, BII membukukan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar Rp1,2 triliun untuk tahun buku 2012, naik 81% dibandingkan 2011. Laba sebelum pajak BII juga meningkat signifikan sebesar 72% mencapai Rp1,7 triliun dibandingkan Rp985 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Kredit tercatat tumbuh sebesar 20% sepanjang tahun, dari Rp67,2 triliun pada Desember 2011 menjadi Rp80,9 triliun pada Desember 2012. Kredit UKM mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 41% dari Rp16,4 triliun menjadi Rp23,1 triliun. Kredit Korporasi tumbuh 24% menjadi Rp21,6 triliun, Komersial tumbuh 1% menjadi Rp8,0 triliun dan Konsumer tumbuh 11% menjadi Rp27,8 triliun.

RUPST BII juga menyetujui penetapan penggunaan laba bersih Perseroan untuk tahun buku yang berakhir tanggal 31 Desember 2012. Sebesar Rp120.822.315.430 digunakan sebagai cadangan umum guna memenuhi ketentuan pasal 70 Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Pasal 25 Anggaran Dasar Perseroan. Sisanya sebesar Rp1.087.400.838.874 ditetapkan sebagai laba ditahan. Sementara itu, RUPSLB BII mengesahkan berakhirnya masa jabatan Stephen Liestyo sebagai Direktur dan menyetujui pengangkatan Lani Darmawan sebagai Direktur. Serta mengesahkan berakhirnya masa bakti Putu Antara sebagai Komisaris Independen dan menyetujui pengangkatan Achjar Iljas sebagai Komisaris Independen, namun ini baru berlaku efektif setelah mendapat persetujuan dari BI. [ria]

Related posts