Pasar Harap Cemas Menunggu Kenaikan BBM

NERACA

Jakarta- Adanya rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah dinilai akan berpengaruh terhadap investasi, baik di pasar obligasi maupun saham. “Saat ini periode koreksi, menunggu berita BBM. Kalau BBM lancar akan jadi katalis positif.” kata Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Vivian Secakusuma di Jakarta, Senin (22/4).

Menurutnya, kenaikan BBM ini akan menjadi faktor yang menentukan apakah pasar obligasi dapat mengalami pertumbuhan sekitar 6-7% atau bahkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Hal ini menjadi salah satu perhatian investor saat ini. Namun, melihat kenaikan BBM yang terjadi pada 2005, hanya akan berdampak sesaat.

Karena itu, secara umum investasi ke saham dan obligasi pada tahun ini diperkirakan masih akan mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Hingga akhir tahun ini, dia memproyeksikan IHSG secara fundamental atau di luar aliran dana asing yang masuk ke pasar modal akan berada di level 4.850 “Kalau dana asingnya banyak yah koreksi.” ujarnya.

Sementara untuk produk reksa dana, utamanya yang berbasiskan saham, kata dia, pada awal kuartal tahun ini sempat dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh investor. Hal ini terjadi hampir di seluruh manajemen investasi. “Setelah Januari, Februari kemarin investor merealisasikan keuntungannya. Namun, di bulan April ini banyak yang sudah masuk kembali dan lebih besar dari Maret sehingga sudah bisa cover itu.” paparnya.

Dana Kelola

Sepanjang kuartal pertama 2013, lanjut dia, PT BNP Paribas Investment sendiri mencatatkan dana kelolaan (AUM) sebesar Rp 37,4 triliun. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 3%-4% secara year to date atau sebesar 20% secara year on year. Hingga akhir tahun ini, pihaknya menargetkan dana kelolaan dapat mengalami pertumbuhan sebesar 10% dari pencapaian tahun lalu.

Untuk mencapai target tersebut, pada akhir kuartal kedua ini pihaknya akan mengeluarkan produk barunya untuk reksa dana saham. Sebelumnya, dirinya meyakini reksa dana saham memiliki potensi yang bagus. Dari total dana kelola tahun lalu saja, produk saham menempati porsi terbesarnya, yaitu sebesar 60%, sedang selebihnya merupakan produk reksa dana lainnya seperti pendapatan tetap, proteksi, dan campuran.

Tolok ukur prospek reksadana saham, lanjut dia, dapat dilihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus mencatatkan pertumbuhan positif. Untuk reksadana saham produk BNP Solaris saja tahun lalu mencatat return mencapai 22,08% atau jauh lebih tinggi dari deposito yang hanya 6% per tahun. Sementara pada tahun 2012, saat IHSG sudah mencatatkan kenaikan hingga 12,4%, kinerja reksadana tercatat 11%.

Sementara pada pertengahan Maret kemarin, BNP Paribas telah mengeluarkan reksa dana pendapatan tetap dalam dolar AS. “Dari produk USD ini, perusahaan mengincar target AUM USD 15 juta atau setara Rp 150 miliar, di mana kuponnya diharapkan bisa diatas acuan pasar.” imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Pemda Kabupaten Sukabumi Diminta Lakukan Operasi Pasar

Pemda Kabupaten Sukabumi Diminta Lakukan Operasi Pasar NERACA Sukabumi – Elemen masyarakat meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi, untuk melakukan…

KABUPATEN SUKABUMI - Harga Kebutuhan Pokok Terus Alami Kenaikan

KABUPATEN SUKABUMI Harga Kebutuhan Pokok Terus Alami Kenaikan NERACA  Sukabumi – Harga kebutuhan pokok masyarakat di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa…

Fasilitas PD Pasar Jaya Jatinegara Tidak Bagus

Entah mengapa fasilitas di PD Pasar Jaya Jatinegara sepertinya ada tindakan pembiaran atas fasilitas umum seperti eskalator tidak berfungsi dan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…