Kesepakatan APEC Perparah Krisis Iklim - Hari Bumi Internasional 22 April

NERACA

Jakarta - Indonesia for Global Justice (IGJ) mengecam rendahnya komitmen negara-negara yang tergabung di (Asia-Pacific Economic Cooperation) atau Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik dalam upaya mencegah dan mengurangi dampak buruk perubahan iklim.Padahal, kerja sama ekonomi regional memiliki tanggung jawab besar guna mengurangi beban pelepasan emisi karbon di atmosfer. Sebelumnya, pada 7-21 April 2013 di Surabaya, Jawa Timur berlangsung pertemuan tingkat Menteri APEC atau disebut Minister Responsible for Trade (MRT) APEC. Salah satu kesepakatan negara-negara APEC adalah untuk mendorong dilanjutkannya Putaran Doha dalam perundingan di WTO Desember 2013 mendatang. Melalui Putaran Doha, APEC bersepakat untuk memperluas liberalisasi perdagangan dengan cara menghilangkan hambatan-hambatan.

\"Kesepakatan di Surabaya adalah kado buruk Peringatan Hari Bumi tahun ini. Sebab, perluasan kerjasama perdagangan yang didorong oleh APEC justru akan memperparah krisis iklim.Terdapat hubungan erat antara perdagangan dan tingkat polusi.Seperti yang terjadi di Amerika Serikat, emisi yang dikeluarkan mengalami kenaikan semenjak resesi ekonomi terjadi di tahun 2008,” kata Direktur Eksekutif IGJ, M Riza Damanik, dalam keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (22/4). Menurut dia, dengan kenyataan bahwa dua negara anggota APEC, yakni China dan Amerika Serikat (AS) adalah emitor terbesar di dunia, maka sudah semestinya Forum APEC mengambil tanggung jawab besar untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan perdagangan dan investasi. “Bukan sebaliknya memfasilitasi mobilisasi bahan mentah dan sumber daya alam dari Negara berkembang kenegara-negara industri dengan mendukung kebijakan WTO,” tandas Riza.

Dia juga menilai Pertemuan Tingkat Menteri APEC tersebut berpotensi memperparah defisit perdagangan nasional Indonesia. Alasannya, konektivitas APEC memang sengaja dimaksudkan untuk memperluas liberalisasi perdagangan di kawasan ini. “Kerangka kerja konektivitas kawasan ekonomi APEC adalah dimaksudkan untuk memperluas liberalisasi perdagangan di Kawasan Asia Pasifik dan memuluskan proposal Trade Facilitation pada Konferensi Tingkat Menteri ke-9 WTO Desember mendatang,” ujarnya.

Riza menjelaskan, berdasarkan laporan Supply Chain Connectivity Initiative APEC 2009 menyebut bahwa Konektivitas APEC adalah untuk memperlancar arus perdagangan di kawasan yang dinilai akan menstimulasi pertumbuhan perdagangan hingga US$ 21 miliar per tahun. “Pengalaman agenda integrasi ekonomi ASEAN sebelumnya, justru menyebabkan neraca perdagangan Indonesia cendrung mengalami defisit. Pada semester I 2013 ini saja sudah tercatat defisit sebesar US$ 402,1 Juta. Dengan logika yang sama, agenda Konektivitas APEC akan memperparah defisit perdagangan Indonesia,” kata Riza, menambahkan.

Oleh karena itu, IGJ mendesak Pemerintah Indonesia untuk tidak ceroboh mendorong dan menyepakati agenda Konektivitas APEC yang notabene hanya akan memperlancar masuknya berbagai produk impor ke Indonesia. Pemerintah seharusnya dapat fokus melindungi keberlanjutan ekonomi nasional dengan membatasi keterlibatan investasi asing dalam ekonomi produktif rakyat. Sebagai informasi, Forum APEC akan merealisasikan tujuan Bogor (the Bogor Goals) yang dilakukan dengan integrasi ekonomi secara regional dan diharapkan terbangunnya konektivitas diantara negara-negara ekonomi APEC sehingga mampu memfasilitasi perdagangan dengan membangun infrastruktur yang dibutuhkan. [munib]

BERITA TERKAIT

Kontainer Beroperasi Siang Hari di Bekasi

Banyak kontainer atau truk tanah yang beroperasi di siang hari meresahkan bagi pengguna jalan di Jl. Perjuangan Raya, dekat stasiun…

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

Kesepakatan Amerika dan China - Optimisme Investor Beri Sentimen Positif IHSG

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Kamis (10/1) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Sawit

  NERACA   Kampar - Masyarkat Riau mayoritas berprofesi sebagai petani sawit yang nasibnya bergantung pada harga jual buah sawit.…

Tekankan Peningkatan Kesejahteraan Pasca Inhil Jadi Kluster Kelapa di Indonesia

  NERACA   Indragiri Hilir - Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan turunan kelapa yang ada di Kabupaten Inhil, Bupati HM…

KIBIF Siapkan 20 Ribu Ekor Sapi untuk Pasar Domestik

    NERACA   Jakarta - Setelah resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Estika Tata Tiara…