Kemenhub Usahakan Tarif KA Ekonomi Tidak Naik

NERACA

Bali - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengkaji penaikan tarif kereta api kelas ekonomi jarah jauh seiring dengan mengacu pada kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), inflasi serta daya beli. Namun, Kemenhub mengusahakan tarif kereta api kelas ekonomi tidak naik, meskipun ada kenaikan BBM. \"Tarif KA ekonomi kami upayakan tetap. Saat ini kami sedang melakukan studi ability untuk mengetahui kemampuan dan daya beli masyarakat,\" kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono seusai mengikuti Environmentally Sustainable Transport (EST) di Nusa Dua, Bali, Senin (22/4). Dia mengatakan penyesuaian tarif kereta api AC dan non AC masih dalam pengkajian terhadap daya beli masyarakat. Kajian itu, juga untuk menentukan besaran dana bantuan pemerintah kepada PT Kereta Api Indonesia dalam memberikan pelayanan publik berupa Public Service Obligation (PSO).

\"Selama ini PSO yang kami berikan adalah selisih antara biaya produksi yang ditetapkan oleh PT Kereta Api dengan daya beli masyarakat,\" ujarnya. Lebih lanjut lagi, dia menuturkan subsidi yang diberikan melalui program PSO kepada PT KAI untuk melayani penumpang kereta api kelas ekonomi tidak bisa mencapai 100%. \"Tentu kami tidak bisa memberikan subsidi sampai 100% karena PT KAI juga meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik,\" tambah Bambang. Dia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menghilangkan kereta api kelas ekonomi. \"Yang ada adalah peningkatan kualitas pelayanan kereta ekonomi. Dulunya tidak dilengkapi AC, sekarang ada,\" ungkapnya.

Namun Bambang mengakui adanya pemusnahan beberapa gerbong penumpang kelas ekonomi yang usianya sudah tua. \"Jika kami melakukan peremajaan, biayanya malah tambah mahal. Makanya gerbong-gerbong yang sudah tua itu harus dihapus,\" katanya. Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kemenhub Tundjung Inderawan mengatakan bahwa kajian penyesuaian tarif kereta api masih akan difokuskan terhadap daya beli masyarakat. “Kementerian masih belum mengetahui berapa persentase kenaikan tarif dari kereta api AC dan ekonomi jarak jauh,” tuturnya. Tundjung juga memaparkan, kenaikan dimungkinkan terjadi pada tarif kereta api AC. Adapun untuk ekonomi non AC jarak jauh, akan disesuaikan karena sejak 2002, tarifnya belum mengalami kenaikan. “Penyesuaian tarif itu, akan dirumuskan berdasarkan jarak terjauh dan pos kota pemberhentian lain,” ujarnya.

Perlu diketahui sebelumnya, pada tanggal 12 dan 13 Maret 2013 yang lalu, Paguyuban Masyarakat Pengguna & Pelanggan KA Ekonomi menggelar aksi selama dua hari di stasiun Pasar Senen, Jakarta dan Stasiun Lempuyangan Jogjakarta sebagai respons dari upaya penetapan tiket flat KA Kelas Ekonomi AC berkisar antara 157% hingga 228%. Penetapan itu sesuai dengan Telegram Direktur PT. KAI (Persero) no. C/98 tertanggal 09 April 2013. Hal tersebut bertentangan dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI No.43/2012 Tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Kelas Ekonomi dimana telah disebutkan tarif untuk masing-masing angkutan KA kelas ekonomi pada lampiran peraturan tersebut.

Selain itu, Ketua Paguyuban Masyarakat Pengguna & Pelanggan KA Ekonomi, Stefanus Dwi mengatakan kebijakan PT KAI (Persero) terkait pengenaan tambahan biaya tiket untuk anak dibawah usia 1 tahun sebesar 10%, namun tidak memperoleh kursi. “Kami melihat hal ini juga mengurangi hak penumpang untuk mendapatkan haknya atas tiket yang sudah dibeli,” katanya. Kebijakan ini tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI No.43/2012 Tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Kelas Ekonomi dimana pengenaan tarif hanya diberlakukan bagi penumpang dewasa saja untuk setiap nomor tempat duduk yang dikehendaki. [mohar]

Related posts