SKK Migas Klaim Produksi Minyak Terus Naik - Industri Energi

NERACA

Jakarta - Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) Rudi Rubiandini menilai bahwa sejak awal tahun 2013, produksi minyak nasional terus mengalami peningkatan. Namun, menurut Rudi, normalnya produksi minyak akan terus mengalami penurunan jika tidak ada usaha atau upaya untuk menahan laju penurunan produksi.

“Pada akhir tahun 2012 produksi minyak nasional sebesar 825.000 barel per hari dan normalnya produksi minyak akan mengalami penurunan alamiah hingga mencapai 15%. Saat ini kita telah berhasil menaikkan produksi,\" ujar Rudi di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Hingga Maret 2013, tercatat rata-rata produksi minyak nasional mencapai 840.000 barel per hari. Sementara itu rata-rata produksi minyak pada kuartal pertama tahun ini telah mencapai 830.900 barel per hari. Sebagai pembanding Desember tahun 2012, rata-rata produksi minyak sebesar 825.000 barel per hari. Pihak SKK Migas mengklaim telah berhasil menahan laju penurunan produksi hingga mencapai nol persen atau zero decline bahkan cenderung meningkat.

Menurut Rudi capaian zero decline dalam tiga bulan pertama merupakan hasil kerja keras bersama semua pemangku kepentingan baik KKKS, masyarakat, Pemerintah Daerah, Kementrian Kordinator Perekonomian, Kementrian ESDM, Kementerian Kehutanan juga dukungan dari DPR dan DPRD serta semua pihak terkait lainnya. \"Kami memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh pemangku kepentingan juga kontraktor kontrak kerja sama yang telah membantu memenuhi target yang disepakati didalam WP&B tahun ini,\" katanya.

Sejumlah KKKS yang berhasil melampaui target produksi pada kuartal pertama tahun ini antara lain ConocoPhillips lebih tinggi 20% dari target didalam Work Program and Budget (WP&B), VICO Indonesia berhasil lebih tinggi 6%, CNOOC SES Ltd lebih tinggi 5%, PHE ONWJ lebih tinggi 4% dan Total E&P Indonesia lebih tinggi 2%. Sementara Mobil Cepu Ltd berhasil memenuhi target yang telah disepakati didalam WP&B.

Dalam tiga bulan pertama, ConocoPhillips Indonesia berhasil mencapai produksi minyak sebesar 36.084 barel per hari dari target WP&B sebesar 30.100 barel minyak per hari, VICO Indonesia berhasil mencapai produksi minyak sebesar 14.661 barel per hari dari target WP&B sebesar 13.800 barel per hari, produksi minyak CNOOC SES Ltd berhasil mencapai 35.469 barel per hari dari target 33.488 barel per hari, PHE ONWJ berhasil mencapai 37.918 barel minyak per hari dari target 36.406 barel per hari dan Total E&P Indonesie berhasil memproduksi minyak sebesar 69.627 barel minyak per hari dari target sebesar 67.990 barel minyak per hari.

Sementara Mobil Cepu Ltd berhasil mencapai produksi sebesar 24.580 barel minyak per hari dari target 24.452 barel per hari. \"Kami berharap pencapaian target produksi pada kuartal berikutnya hingga akhir tahun tidak lebih rendah dari yang direncanakan, untuk itu para kontraktor kontrak kerjasama diharapkan mengidentifikasi hambatan operasi yang menyebabkan tidak tercapainya target serta segera membuat rencana tindak lanjut upaya meningkatkan kinerja sistem aliran fluida produksi migas,\" tegasnya.

Selain itu, kontraktor kontrak kerja sama juga diminta segera melakukan upaya strategis melalui kegiatan pemboran, workover dan well services guna menahan laju penurunan produksi dan atau meningkatkan produksi eksisting.

Monopoli Asing

Peneliti Institute Global for Justice (IGJ) Salamuddin Daeng menilai bahwa monopoli perusahaan minyak raksasa internasional ditenggarai menjadi faktor utama penyebab turunnya produksi minyak di Indonesia. Karena, sebanyak 85% produksi minyak nasional negara ini dikendalikan oleh perusahaan asing.

Ia mengatakan perusahaan-perusahaan asing itu berusaha menciptakan ketergantungan Indonesia pada impor. Sehingga mereka dapat mempermainkan harga, dan memperoleh tingkat keuntungan yang besar. Kasus serupa, kata dia, terjadi di Argentina. Di mana akibat dominasi perusahaan besar asing dalam produksi minyak, membuat Argentina bergantung pada keran impor. \"Setiap tahun produksi minyak negara tersebut turun 10%. Bahkan sebuah media memberitakan lebih dari US$9,4 miliar uang yang dikeluarkan negara argentina untuk membiayai impor,\" katanya.

Namun bedanya dengan Indonesia, kata Salamuddin, Pemerintah Argentina segera mengambil langkah strategis terhadap sebuah perusahaan minyak asing terbesar, yakni YPF SA dari Spanyol. Pemerintah Argentina menunding menunjuk hidung perusahaan asing sebagai biang anjloknya produksi dan pendapatan negara dari minyak, yang menyebabkan negara tergantung dari impor dan mengalami krisis bahan bakar.

Sedangkan Pemerintah Indonesia, lanjut dia, pemerintahan SBY yang menjadi presiden Indonesia sejak 2004 lalu justru membiarkan saja dominasi asing atas kekayaan minyak Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ujarnya, bahkan seperti menikmati saja produksi minyak nasional anjlok, dan membiarkan Indonesia kian tergantung pada impor minyak. Parahnya lagi, semakin lama wilayah kontrak migas nasional sebagian besar jatuh ke tangan asing.

Ditangan rezim SBY, kata dia, semua sisa-sisa kedaulatan yang dimiliki bangsa ini atas sumber energi, dihabisi sampai ke akar-akarnya. Pada saat nanti SBY berhenti jadi presiden, maka seluruh gas adalah milik Cina, Jepang dan Korea. Sedangkan seluruh lahan pertambangan Indonesia akan dimiliki Amerika, Cina, Jepang dan Australia. \"Dan untuk perkebunan dan hutan, akan dimiliki Malaysia, Eropa. Seluruh minyak indonesia milik AS, Eropa dan Cina,\" ujarnya risau.

Related posts