Defisit APBN Dipastikan Lewati 1,65% - EKONOMI GLOBAL MAKIN SURAM

Jakarta – Indikasi makin suramnya ekonomi global semakin jelas terlihat, setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas pertumbuhan dunia 2013 dari semula 3,5% menjadi 3,3%. Sementara Jepang mencatat rekor defisit perdagangan tahunan US$83,4 miliar atau setara Rp809,6 triliun hingga tahun anggaran 31 Maret 2013. Dari fenomena tersebut, dipastikan defisit APBN 2013 akan melewati target yang dipatok pemerintah 1,65% dari PDB.

NERACA

Menurut laporan IMF bertajuk World Economic Report, akhir pekan lalu, lembaga keuangan internasional itu memangkas proyeksi pertumbuhan dunia untuk 2013, meski pertumbuhan diprediksi mulai bangkit pada semester kedua tahun ini.

Proyeksi ini diumumkan seiring resesi zona euro yang terus terjadi dan melambatnya pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS). ”Output dunia akan berekspansi 3,3% tahun ini, dibandingkan prediksi pada Januari 3,5%,” ungkap rilis IMF seperti dikutip media asing. Ini berarti kondisi ekonomi dunia relatif flat dibandingkan pada 2012 sebesar 3,2%.

Ekonom Kepala IMF Olivier Blanchard menjelaskan, bahwa risiko jangka pendek masih membayangi khususnya di zona euro, tempat Siprus mendapat dana talangan (bailout) dan pelemahan ekonomi Italia.

Secara umum prospek lebih baik sejak tahun lalu setelah dua ancaman jangka pendek terhadap pemulihan global telah teratasi. “Dua ancaman itu adalah, risiko pecahnya zona euro dan potensi kontraksi di AS yang mengalami pemangkasan anggaran ekstrem dan pajak tinggi, “ ujar Blanchard.

Indikasi melemahnya ekonomi global juga tercermin dari defisit perdagangan Jepang yang naik lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Defisit terjadi saat penurunan yen mengakibatkan biaya impor membengkak. Penurunan permintaan global juga mengurangi jumlah ekspor, menurut laporan media asing.

Besarnya defisit itu disebabkan oleh impor Jepang naik 5,5% menjadi 6,63 triliun yen, sementara ekspornya hanya naik 1,1%. Selain itu, melemahnya yen yang turun hampir 20% terhadap dolar AS sejak November 2012 hingga Maret 2013 juga meningkatkan nilai impor negeri Sakura itu.

Tekanan Dalam Negeri

Indonesia sudah pasti akan terkena dampak dari koreksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan membengkaknya defisit Jepang tersebut. Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo memperkirakan akan adanya tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.

“Kondisi ekonomi dunia yang masih belum stabil hingga kini dilihat menjadi salah satu faktor ditambah lagi bila adanya kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi,” ujarnya di Rakernas Kadin, pekan lalu.

Agus mengakui, selain adanya tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi, Indonesia akan mengalami defisit di waktu mendatang. Defisit Indonesia diperkirakan akan lebih dari 1,65%. Hal itu terjadi dikarenakan banyak hal, salah satunya adalah masalah BBM bersubsidi.

“Aspek fiskal kita punya defisit anggaran 1,65%. Kalau sudah dapat respon dengan baik, tidak bisa menjaga di level tersebut, mungkin akan terjadi peningkatan di atas 2%, tapi tidak melebihi 2,4%”, ujarnya.

Kendati demikian, pertumbuhan AS diproyeksikan 1,9% tahun ini sebagai akibat besarnya pemangkasan belanja pemerintah. Adapun pertumbuhan zona euro diperkirakan berkontraksi 0,3%. Bahkan, di Jerman yang menjadi kekuatan ekonomi Eropa, pertumbuhan diperkirakan kurang dari 1% pada 2013. ”Meski pasar memberi harapan pada negara-negara di zona euro dalam hal keuangan, perbaikan itu tidak sampai ke bisnis dan rumah tangga, terutama karena perbankan masih mengalami jeratan utang yang buruk dan modal yang lemah,” IMF melaporkan.

Pengamat ekonomi UGM Sri Adiningsih menilai, pemerintah Indonesia harus mengurangi subsidi BBM sebagai salah satu antisipasi menghadapi prediksi IMF tersebut. \"Pemerintah harus benar-benar mengurangi subsidi agar kemudian subsidi bisa diarahkan ke daya dorong pertumbuhan ekonomi,\" ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Terkait dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia supaya berkualitas, Sri mengatakan ada tiga hal yang paling penting yang harus dibenahi yaitu, pembangunan infrastruktur, perbaikan sumber daya manusia (SDM) serta kurangi beban ekonomi biaya tinggi. \"Tiga elemen ini yang paling penting, agar pertumbuhan berkualitas,\" ujarnya.

Menurut Ketua LP3E Kadin yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Prof Dr Didiek J. Rachbini, koreksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi dunia memang hal biasa.

\"Memang koreksi seperti itu sering terjadi tapi itu biasa karena arah pertumbuhan global memang masih bingung. AS masih kesulitan dengan US$-nya, dan itu berpengaruh langsung terhadap ekspor\", ujarnya, Sabtu.

Dia memprediksi akan terjadi penurunan nilai ekspor ke negara - negara yang memang mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. \"Pasar kita di Eropa juga belum membaik, perdagangan Indonesia - Eropa masih alami defisit\", ujarnya.

Pengamat ekonomi Econit Hendri Saparini menilai, koreksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF itu tidak berpengaruh signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Hal itu karena kondisi perekonomian Indonesia sejauh ini sebagian besar dikontribusikan oleh konsumsi swasta sehingga menopang pertumbuhan ekonomi secara positif.

“Kontribusi besar ekonomi kita berasal dari konsumsi swasta yang mencapai 60% sehingga hal itu tidak akan berpengaruh banyak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.” katanya.

Menurut Direktur Indef Enny Sri Hartati, koreksi proyeksi pertumbuhan global akan mempengaruhi Indonesia meski hanya sedikit. “Ekonomi makro Jepang dan China mengalami penurunan, maka pasti permintaan produk Indonesia akan turun. Ini akan memperlemah ekspor Indonesia ke kedua negara tersebut. Dengan menurunnya ekspor, neraca perdagangan Indonesia menjadi semakin lemah yang sedikit banyak berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Yang perlu ditarik pelajaran dari kasus defisit Jepang, pemerintah Indonesia seharusnya belajar agar tidak terperosok di lubang yang sama. “Kita agak berat mengejar ekspor dengan kondisi perlambatan ekonomi dunia seperti itu. Perlu meminimalisasikan impor migas melalui campur tangan dari pemerintah,” ujarnya. nurul/sylke/lia/iqbal

Related posts