Telkom Akan Stock Split Saham 1:5 - Jangkau Investor

NERACA

Jakarta- PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) berencana untuk memecah nilai nominal saham alias stock split dengan rasio 1:5 yang dinilai menjadikan saham perseroan lebih likuid dan mudah dijangkau investor. “Saham kita menjadi lebih likuid, dan angka itu kan menuju persepsi. Secara konsisten rata-rata saham kita Rp10 ribu, itu angka psikologis.” kata Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Arief Yahya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, rencana ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham yang digelar perseroan. Rencananya, stock split akan segera dilakukan pada kuartal kedua 2013. Selain akan melakukan aksi stock split, perseroan juga berencana untuk melepas saham buyback yang dilakukan sejak 2005-20012. Pada tahap pertama, due date 1 Agustus 2013 dengan nilai 211,3 juta saham senilai Rp1,8 triliun.

Sementara untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja perseroan di tahun 2013, kata dia, perseroan akan fokus pada penguatan Telkomsel, pengembangan broadband, dan melakukan ekspansi internasional. “Entitas anak perusahaan, Telkomsel masih merupakan kontributor utama terhadap bisnis perusahaan.” ujarnya.

Ekspansi Bisnis

Untuk ekspansi internasional, lanjut dia, perseroan menargetkan akan dapat memperluas usahanya ke sepuluh negara sahabat, antara lain yang berada di ASEAN maupun Timur Tengah seperti Arab Saudi. “Lima di antaranya sudah diwujudkan, yaitu Singapura, Hongkong, Timur Leste, Australia, dan Malaysia, sementara lima negara lainnya sedang diupayakan,” paparnya.

Dalam ekspansi ke negara-negara tersebut menurut dia didasarkan pada pertimbangan banyaknya jumlah penduduk Indonesia yang menempati negara tersebut. Salah satu negara tujuan yang juga menjadi fokus perseroan, yaitu Myanmar. Diharapkan, ekspansi Myanmar akan dapat dilakukan pada akhir tahun ini.

Pada tahun 2013, perseroan mengalokasikan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar 20-25% dari total proyeksi pendapatan tahun 2013. “Kita berupaya untuk konsisten lebih tinggi dari industri. Kalau industri 7%, berarti kita di atas itu.” ujarnya.

Disebutkan Arief, selain beberapa aksi korporasi tersebut, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan juga menyetujui pembagian dividen tunai sebesar 55% dari laba bersih perseroan tahun buku 2012 yang mencapai Rp12,9 triliun atau senilai Rp7,1 triliun dengan nilai nominal Rp369,1 per saham.

Perhitungan tersebut, menurut dia, berdasarkan jumlah saham yang telah dikeluarkan, tidak termasuk saham yang telah dibeli kembali oleh perseroan per tanggal Rapat, yaitu sebesar 19,1 miliar lembar saham. “Spesial dividen tunai sebesar 10% dari laba bersih atau sejumlah Rp1,3 triliun dan dibukukan sebagai laba ditahan sejumlah Rp4,5 triliun untuk membiayai pengembangan usaha perseroan.” paparnya.

(lia)

Related posts