Industri Keramik Indonesia Peringkat 6 Dunia

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai, industri keramik di dalam negeri telah menerapkan teknologi paling canggih di dunia dalam proses pembuatan produk dan dapat bersaing di pasar internasional yang memiliki daya saing tinggi.

“Kualitas produk keramik yang dihasilkan industri keramik di dalam negeri tidak kalah dengan negara-negara lain di dunia. Buktinya, Indonesia merupakan salah satu produsen terbaik di dunia dan menduduki peringkat keenam dunia,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W Retraubun di Jakarta, Jumat (19/4).

Industri keramik di Indonesia yang telah berkembang selama lebih dari 30 tahun, menurut Alex, merupakan salah satu industri unggulan dengan ketersediaan bahan baku melimpah. “Prospek industri keramik nasional dalam jangka panjang cukup baik seiring dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkat, terutama untuk jenis tile atau ubin dan saniter. Hal ini didukung oleh pertumbuhan pembangunan nasional, baik properti maupun perumahan,” paparnya.

Produksi keramik nasional, lanjut Alex, setiap tahunnya terus meningkat dan memberikan kontribusi yang cukup baik dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional, oleh karena itu industri keramik terus meningkatkan kualitas maupun desainnya guna merebut pangsa pasar dalam negeri maupun mancanegara.

“Industri keramik nasional juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan produsen keramik negara lain yaitu tersedianya deposit tambang bahan baku keramik yang cukup besar di berbagai daerah seperti ball clay, feldspar, zircon maupun energi gas sebagai bahan bakar proses produksi. Ini merupakan suatu keuntungan dalam upaya meningkatkan daya saing produk keramik nasional,” ujarnya.

Alex menambahkan, produksi keramik nasional setiap tahun terus meningkat dan memberikan kontribusi tinggi dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional melalui penyediaan kebutuhan domestik, perolehan devisa, dan penyerapan tenaga kerja.

“Industri keramik tile dunia tumbuh sebesar 10,1% pada 2011 dengan total produksi sebanyak 10,1 miliar meter persegi. Indonesia memproduksi keramik tile sebanyak 317 meter persegi atau 3% dari total produksi dunia, sementara China yang merupakan produsen terbesar dunia, memproduksi keramik tile sebanyak 4,8 miliar persegi atau menguasai 45,7% dari total produksi dunia,” tandasnya.

Sebelumnya Mantan Ketua Asaki, Achmad Widjaya mengungkap kalau total nilai penjualan (omzet) industri keramik di Tanah Air sepanjang kuartal 12012 mencapai Rp 4,6 triliun. Angka tersebut sama dengan perolehan periode sama tahun lalu. \"Omzet keramik tidak sampai Rp 5 triliun, hanya sekitar Rp 4,6 triliun. Padahal, target awal kami bisa mencapai Rp 6 triliim,\" kata Achmad Widjaya

Dia menjelaskan, tidak tercapainya target tersebut karena minimnya pasokan gas dan pemerintah. Gas merupakan sumber energi utama untuk industri keramik untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Kebutuhan gas untuk industri keramik ini juga mencapai 30% dari total biaya produksinya.

Dari total kebutuhan gas untuk industri kemarik yang mencapai 140 juta standar kaki kubik per hari (milemile standard cubic feet per day/mmscfd), pemerintah saat ini hanya bisa memenuhi 80 mmscfd. Pasokan gas yang masih jauh dari kebutuhan tersebut pun mengakibatkan utilisasi produksi keramik belum bisa optimal.

Semula Achmad memprediksi, omzet keramik di Indonesia tahun 2012 bisa mencapai Rp 20 triliun. Angka tersebut naik 17,6% dibandingkan tahun 2011 sebesar Rp 17 triliun. Utilisasi kapasitas terpasang industri keramik mencapai 243 juta meter persegi atau sekitar 85% dari total kapasitas pada 2011. Sementara itu, dengan penambahan kecil dan beberapa ekspansi, kapasitas terpasang bertambah mencapai 250 juta meter persegi tahun ini. \"Utilisasinya tidak jauh berbeda dari tahun lalu sekitar 85%. Tapi, itu juga tetap tergantung pasokan gas,\" katanya.

Guna mencapai target tahun ini, selain peningkatan kapasitas produksi, perbaikan kondisi infrastruktur dan tambahan pasokan gas harus dipenuhi. Tanpa itu, targettarget tersebut dipastikan tidak akan bisa tercapai. Di sisi lain, Achmad menambahkan, kondisi pasar ekspor keramik semakin memprihatinkan karena mengalami penurunan dalam tiga tahuo terakhir.

Related posts