Kuartal I, Industri Manufaktur Tumbuh 6,2%

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal I 2013 mencapai 6,2% ditopang oleh sektor industri baja, makanan dan minuman, otomotif, dan industri kimia. Akan tetapi, pertumbuhan sebesar 6,2% tersebut lebih rendah dari target pertumbuhan manufaktur di 2013 ini sebesar 7,01%.

“Pertumbuhan industri manufaktur pada kuartal I tahun ini sebesar 6,2% masih lebih rendah dibandingkan target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,01%. Siklusnya, kuartal I pertumbuhan industri manufaktur rendah, kemudian kuartal II dan III naik, serta kuartal IV merata,” kata Menteri Perindustrian, M.S Hidayat di Jakarta, Jumat (19/4).

Selain dipengaruhi oleh siklus tahunan, menurut Hidayat, rendahnya pertumbuhan manufaktur pada kuartal I karena melambatnya pertumbuhan ekonomi di China. Pada kuartal I 2013, China hanya mencatat pertumbuhan ekonomi 7,7%, atau berada di bawah ekspektasi internasional sebesar 8%.“Pada kuartal I tahun ini, pertumbuhan yang tinggi antara lain terjadi pada sektor industri baja, makanan dan minuman, otomotif, dan industri kimia. Sedangkan industri yang tumbuh negatif, yakni industri kayu dan hasil hutan,” paparnya.

Perlambatan pertumbuhan industri manufaktur, lanjut Hidayat, akibat tekanan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sampai dengan upah minimum provinsi (UMP).“Faktor-faktor tersebut menjadi dilema di tengah upaya untuk menekan biaya produksi industri nasional. Namun, kami optimistis tahun ini pertumbuhan industri manufaktur bisa mencapai 7,14% dan investasi masih menjadi andalan pertumbuhan, termasuk ekspor,” ujarnya.

Hidayat menambahkan, untuk menopang upaya-upaya pertumbuhan manufaktur, pemerintah akan mencari cara terbaik agar beban kenaikan tarif listrik tidak terlalu berat. Selain itu, penyelesaian masalah pasokan gas industri, terutama kelangkaan yang dialami industri di Sumatera Utara juga menjadi agenda Kemenperin tahun ini.“Kenaikan harga BBM subsidi tidak akan mengganggu kinerja industri nasional karena langkah yang ditempuh untuk menekan anggaran subsidi yang sangat membebani pemerintah,” tandasnya.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan industri manufaktur besar dan sedang sepanjang 2012 mengalami pertumbuhan sebesar 4,12 persen dibandingkan 2011. Kenaikan tersebut naik tipis dibandingkan tahun lalu yang tumbuh 4,1%.

Data BPS yang dikeluarkan (1/2/2013) menunjukan, pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal IV-2012 mengalami kenaikan 11,09% dibandingkan periode sama 2011.Secara tahunan, produksi industri manufaktur ini telah mengalami kenaikan sebesar 4,12% dibandingkan 2012.

Industri manufaktur besar dan sedang sepanjang kuartal IV-2012 diketahui mengalami kenaikan pada Oktober dan Desember 2012. Sementara pada November 2012 justru mengalami penurunan. Dibandingkan kuartal sebelumnya, industri manufaktur besar dan sedang pada periode tiga bulan terakhir 2012 mengalami kenaikan 7,65%. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal III yang hanya naik 0,1%.

Sepanjang tahun 2012, industri manufaktur yang mengalami pertumbuhan tertinggi dialami oleh pelaku usaha di bidang farmasi, produk kimia, dan obat tradisional yang naik 13,19%. Sementara industri manufatur di sektor logam dasar mencetak kinerja terburuk sepanjang 2012 dengan mengalami penurunan 8,48%. Diikuti oleh tekstil 8,32%. mesin dan perlengkapan ytdl 8,31%, kulit barang dari kulit dan alas kakai 6,96%, dan furnitur 6,6%.

Berikut adalah industri manufaktur yang mencetak pertumbuhan positif sepanjang 2012:Farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional, 13,19%. Makanan, 12,75%. Peralatan listrik 12,57%.Karet, barang dari karet, dan plastik 11,92%.Barang galian bukan logam 10,48%.Komputer, barang elektronik dan optik 10,34%.Jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan 8,61%. Bahan kimian dan barang dari bahan kimia 7,23%.Pengolahan tembakau 5,42%.Pakaian Jadi 4,91%.

Related posts