Rekor Baru Indeks Picu Koreksi di Mei - WASPADAI PENGUATAN SESAAT

NERACA

Jakarta – Derasnya aksi beli selektif investor domestik dan asing membawa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (18/4), menembus rekor baru di level 5000. Posisi ini telah melewati target dari apa yang diprediksi pelaku pasar sebelumnya. Pertanyaannya, apakah angka indeks itu bertahan hingga akhir 2013?

Menurut pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila Agus S. Irfani, posisi indeks yang sudah menembus rekor tinggi akan kembali terkoreksi sebagai puncaknya di akhir April atau Mei, “Sekitar akhir bulan ini atau Mei akan terkoreksi. Pada akhir tahun, IHSG tidak akan berbeda dengan angka bulan ini atau Mei, yaitu sekitar 5.100,” katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, setelah Mei, indeks akan naik turun di antara 5.000 dan 5.100. Baru pada Desember akan meningkat lagi sampai angka tertinggi sekitar 5.100. Oleh karena itu, dia menilai saat ini return terbatas sekali dan bukan menjadi waktu yang tepat untuk investor jangka pendek dalam menanamkan modalnya, “ Tapi kalau investasi jangka panjang, silakan. Namun begitu, masih ada harapan kenaikan di tahun ini untuk sektor properti,” ujarnya.

Dia menambahkan, kenaikan IHSG sampai tembus 5.000 sebagian besarnya adalah kontribusi dari sektor properti. “Sekitar 40% itu dari properti. Selebihnya adalah kontribusi dari sektor perbankan dan aneka industri. Sektor infrastruktur juga lumayan berkontribusi,” paparnya.

Kemudian soal kenaikan BBM bersubsidi, lanjut Agus, dalam jangka pendek tentu akan berpengaruh ke pasar modal karena kenaikan BBM akan menyebabkan inflasi meningkat dalam jangka pendek, “Kenaikan inflasi ini akan menyebabkan IHSG turun,”tuturnya.

Hanya saja, dia menilai prestasi pasar modal dalam peningkatan IHSG beberapa waktu ini rupanya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ekonomi makro Indonesia. “Yang menikmati kenaikan IHSG ini ya pemain pasar modal yang 200 ribu orang itu saja. Merekalah yang mendapatkan manfaat langsung,” tegasnya.

Sementara Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengungkapkan, pencapaian IHSG mencapai level 5.000 dinilai pencapaian terbaik bagi pasar bursa. Namun hal ini terlalu cepat untuk naik. Beberapa analis memperkirakan IHSG memasuki level 5.000 pada akhir tahun ini, bahkan ada analis yang optimis akan mencapai 5.250. “Tetapi yang perlu dicermati adalah seberapa kuatnya IHSG atas sentimen yang akan terjadi yang akan datang, apabila masih kuat maka IHSG akan nyaman dalam zona kuat ini,” katanya.

Dia menambahkan, posisi IHSG sangat berpengaruh sekali atas pasar regional maupun global sehingga IHSG akan bisa terkoreksi turun apabila sentimen pasar regional maupun global menjadi negatif.

Perlu Ditopang

IHSG lanjutnya, bisa saja terkoreksi dengan penurunan yang tajam apabila mendapat sentimen negatif pasar. Oleh karena itu, IHSG harus mempunyai penopang yang kuat sehingga tidak akan mengalami penurunan yang tajam, apalagi contohnya pasar modal kita didominasi investor asing, “Apabila investor asing ini menarik dananya, maka IHSG tidak ada penopangnya dan bisa mengalami penurunan yang tajam,” tandasnya.

Reza juga sepakat dengan Agus Irfani, pencapaian IHSG ditopang dari menguatnya saham disektor properti dan disusul sektor konsumer dan perbankan. Maka tidak heran, sektor ini menjadi kontribusi besar dalam penguatan IHSG.

Menurut dia, penguatan IHSG tidak berpengaruh besar sama sekali terhadap sektor riil dalam menumbuhkan perekonomian Indonesia. Tidak adanya pengaruh signifikan yang terjadi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Pertumbuhan IHSG ini memang tidak berpengaruh besar atas pertumbuhan ekonomi yang mendasar,” ungkapnya.

Dia mengatakan, dengan adanya kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) akan berpengaruh sekali atas penguatan IHSG. Kenaikan BBM merupakan sentimen negatif pada pasar modal meskipun sentimen ini sifatnya hanya sementara saja. “Sentimen pasar seperti kebijakan pemerintah akan bisa berpengaruh besar atas penguatan atau penurunan IHSG,” jelasnya.

Reza juga menambahkan para pelaku pasar atau investor akan mencermati atas laju IHSG ini sehingga dapat memonitor ritme perdagangan di pasar modal. Pelaku pasar hanya akan mengamankan posisinya saja apabila IHSG mengalami posisi yang melemah. “Sedangkan IHSG mengalami laju kenaikan seperti saat ini maka akan memanfaatkan trading jangka pendek,”tuturnya.

Sebagai informasi, mengakhiri perdagangan kemarin, indeks BEI ditutup naik 13,99 poin atau 0,28% ke posisi 5.012,64. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 1,65 poin (0,19%) ke level 849,55.

Menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan, pembelian saham selektif itu dilakukan terkait dengan antisipasi keluarnya laporan keuangan emiten kuartal pertama 2013.

Sementaa Kepala Riset MNC Secuirites, Edwin Sebayang menambahkan setelah level psikologis indeks BEI menembus 5.000 poin di tengah gejolak bursa regional akan membawa dampak kepercayaan lebih besar bagi pelaku pasar saham di domestik. iqbal/mohar/bani

Related posts