Indonesia Harus Hati-hati Sepakati Perdagangan Bebas - Terkait Rencana Blok Ekonomi ASEAN-Uni Eropa

NERACA

Jakarta - Guru besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Dorodjatun Kuntjoro Jakti berpendapat hubungan Uni Eropa-ASEAN tidak perlu menjadi sebuah blok ekonomi baru. Khususnya bagi Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, Dorodjatun berpendapat harus berhati-hati untuk mengikuti perjanjian kerjasama perdagangan internasional karena risikonya sangat besar.

\"Interface atau hubungan tatap muka UE dan ASEAN selama ini saya nilai kurang bagus. Dibandingkan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), perjanjian yang dulu diharapkan menjembatani kedua kawasan ini tidak efektif. Buat saya kalau sekarang hubungan kedua kawasan ini mau serius dilakukan, bagus-bagus saja. Tetapi kalau ini mau ditujukan untuk membuat pengelompokan baru lagi, padahal untuk masuk ke Trans Pacific Partnership (TPP) saja kita sudah sulit mencernanya, harus dipikir ulang,\" tutur Dorodjatun di Jakarta, Kamis (18/4).

Ia berpendapat selama ini Indonesia sangat percaya pada ASEAN dan menurut dia, itu memang sikap yang tepat. Kerjasama internasional apa pun yang akan diambil oleh Indonesia, menurut Dorodjatun, sebaiknya melalui ASEAN. \"Jadi yang selama ini dijalankan seperti ASEAN plus, itu bagus. Tetapi begitu kita dibawa ke perjanjian kerjasama bilateral akan menimbulkan winner dan loser, yang menyebabkan ada diskrimnasi,\" tutur Dorodjatun.

Dorodjatun menambahkan, ASEAN selama ini berperan sebagai filter bagi Indonesia dalam menjalin kerjasama perdagangan internasional. \"Biasanya sekali diputuskan oleh ASEAN kita akan ikut,\" tutur Dorodjatun.

Sikap hati-hati dalam menjalin kerjasama internasional, kata Dorodjatun, sangat diperlukan oleh negara berpenduduk besar seperti Indonesia. \"Negara-negara yang penduduknya besar seperti India, Brazil, China, Rusia, tidak bisa seenaknya mengikuti perjanjian-perjanjian internasional karena dampaknya akan sangat besar sekali. Social safety net yang dibutuhkan sangat besar bila terjadi krisis yang berkepanjangan seperti di Eropa. Nanti yang bayar siapa,\" tutur Dorodjatun.

Pakar Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Dewi Fortuna Anwar menganggap bahwa adanya perbedaan antara Uni Eropa (UE) dengan ASEAN dalam hal ekonomi dan politik. Atas dasar itu, Ia menilai bahwa ASEAN jangan menjadikan UE sebagai model akan tetapi dijadikan sebagai inspirasi. \"Kita melihat EU itu sebagai inspirasi, bukan sebagai model yang harus ditiru. Sejak awal EU dibangun dengan tujuan menuju integrasi dan dilandasi dengan perjanjian-perjanjian yang mengikat diantara anggotanya,\" kata Dewi.

Dewi menjelaskan UE sebagai sebuah blok kerjasama politik dan ekonomi didirikan dengan dukungan oleh institusi-institusi yang memang diserahi sebagian kedaulatan oleh negara anggotanya. \"Kedaulatan di bidang politik, misalnya mereka punya parlemen Eropa, di bidang hukum mereka punya Mahkamah Eropa. Demikian juga di administrasi mereka punya. Jadi banyak keputusan yang kalau di Asean masih diambil oleh kementerian-kementerian masing-masing negara anggota, di EU sudah ada brokrasi yang luar biasa untuk menjalankan keputusan yang diambil oleh parlemennya,\" tutur Dewi yang kini menjabat Deputi Sekretaris bidang urusan politik di kantor Wapres.

Menurut Dewi, berdasarkan fakta-fakta tersebut, ia yakin ASEAN tidak akan mengarah kepada integrasi politik dan ekonomi seperti UE. \"Dari awal ASEAN tidak ditujukan sebagai sebuah integrasi yang mengambil sebagian kedaulatan ekonomi anggotanya,\" tambah Dewi.

Ia melanjutkan hal ini memang diakui sebagai sebuah tantangan serius. \"ASEAN kemudian dihadapkan pada tantangan dimana ketika akan membangun kerjasama yang lebih erat terutama di bidang ekonomi, mereka harus mampu membuat keputusan bersama. Di satu pihak ASEAN masih enggan membagi kedaulatan, di pihak lain kenyataan pasar dan tantangan ekonomi memaksa harus melakukannya,\" tambahnya.

Perlu Kerjasama

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN Le Luong Minh memaparkan bahwa guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi di ASEAN, maka kerjasama sangat diperlukan. Guna berkembang, diperlukan peningkatan daya saing untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. \"ASEAN dapat melakukan mempertahankan pertumbuhan ekonomi berdasarkan kerjasama antara Uni Eropa (UE) dan ASEAN. Tidak hanya itu, kita juga meningkatkan daya saing,\" katanya.

Le Luong mengatakan, ASEAN memang berkembang saat ini. Oleh karena itu, dibutuhkan kompetisi daya saing untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi. \"Khususnya untuk Indonesia, ekonominya merupakan tingkat konsumen domestiknya terbaik, dan juga investasinya,\" kata dia.

Menurutnya, memasuki 2015 kedua benua ini akan meningkatkan kapasitas daya saing. Capaian ini, dilakukan dengan meningkatkan kemampuan bekerja dengan memberikan pelatihan, yang merupakan kunci mencapai tujuan Asean. \"Di samping itu, ekonomi Asean didukung oleh penduduknya yang banyak,\" tambah dia.

Related posts