Anggaran Revitalisasi Tambak Rp 260 Miliar - Sepanjang 2013

NERACA

Indramayu - Program Revitalisasi Tambak yang dilaksanakan melalui program demontration farm (demfarm) yang telah dimulai sejak tahun 2012 telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Tambak udang demfarm sampai dengan minggu ke-1 bulan April 2013 telah melakukan panen dengan total panen sebanyak 308,02 Ton.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengungkapkan untuk anggaran yang disediakan pada program revitalisasi di 2013 mencapai Rp260 miliar dengan area cakupan mencapai 2.000 hektar. Sementara itu, pada 2012 anggarannya mencapai Rp225 miliar dan telah menghasilkan sekitar 1.000 hektar di 5 kabupaten antara lain, Kerawang, Cirebon, Indramayu, Subang dan Serang.

Lebih jauh lagi Slamet memaparkan dimulainya program revitalisasi udang dimulai sejak Mei 2012 dan telah menghasilkan sekitar 390 ton udang. \"Bahkan hampir setiap Kabupaten yang masuk dalam program revitalisasi, setiap harinya dilaksanakan panen. Selain itu juga, program ini telah menghasilkan sekitar 125 hektar tambak baru. Ini artinya program ini bermanfaat buat masyarakat,\" papar Slamet usai melihat tambak udang di Pasekan, Indramayu, Rabu (17/4).

Tak hanya itu, pemerintah pun menargetkan dari sekitar 2.000 hektar bisa menghasilkan antara 11-12 ton per hektarnya. Namun, kata dia, hal itu kembali lagi pada dukungan dan teknologi yang digunakan oleh setiap petambak udang. \"Kalau teknologinya bagus dan kompeten dalam menghasilkan udang-udang yang berkualitas maka bisa saja melebihi target,\" ujar Slamet.

Daya Dukung Tambak

Sementara itu, Dr. Ir. Bambang Widigdo dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) Institut Pertanian Bogor. Dalam penelitiannya, Widigdo sempat mengutarakan bahwa daya dukung Pantura untuk tambak udang yang lumintu (berkelanjutan) hanya sekitar 46.000 ha dengan ajuran produksi produksi berkisar antara 7 - 10 ton/tahun.

“Kemungkinan pada 2012 daya dukung sudah menurun dikarenakan adanya dampak dari perubahan lingkungan akibat dari limbah kegiatan penduduk dan industri. Ini harus menjadi pertimbangan dalam perluasan revitalisasi,” tutur Bambang Widigdo.

Namun Bambang Widigdo optimis, KKP juga telah melakukan penelitian survei lapangan dan tentukan kawasan yang secara teknis memungkinkan untuk dikembangkan dengan biaya minimal. Kawasan yang telah ditentukan dilakukan uji-kaji penerapan teknologi yang tepat. Kondisi tambak baik sumber pasok air, tekstur dan kesuburan tanah, biasanya berbeda di masing-masing kawasan, sehingga dibutuhkan modifikasi teknologi di setiap kawasan.

Aspek pengembangan teknologi juga dirasakan sangat penting untuk bisa melaksanakan proses revitalisasi tambak. Meskipun begitu, beberapa petambak di Pantura sudah biasa memodifikasi teknologi.

Seperti misalnya petambak udang vananei semi intensif di Subang, Jawa Barat. Mereka sudah terbiasa sejak 2004 dengan produksi antara 20 - 37 ton/ha/musim tanam, telah menerapkan sejumlah standar operasional dan modofokasi teknologi. Standar tersebut antara lain penerapan biosekuriti yang ketat dan sistem tertutup (close system) dengan pergantian air sedikit sebanyak yang menguap sebagai dampak dari evaporasi.

Lalu ada juga standar aerasi yang cukup dengan kincir dan supercharge agar oksigen terlarut tidak kurang dari 5 ppm, dan pemakaian probiotik sebagai bakteri pengurai sisa pakan dan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri pathogen. Tidak kalah pentingnya penebaran benur (benih udang) yang bebas penyakit (Spesifik Pathogen Free/SPF) dan berkualitas baik yang diproduksi dari hatchery (pembibitan) yang telah mendapat sertifikat Cara Perbenihan Ikan yang Baik (CPIB).

Lakukan Penyiponan

Petambak di Subang juga melakukan perbaikan daya dukung lahan dengan melakukan penyiponan tambak saat budidaya berlangsung dan dasar tambak ditutup dengan plasik Hight Density Polyethilen (HDPE), plastik mulsa, terpal, atau tambak disemen/dibeton. Pola intensif dengan kepadatan tinggi (tebar awal 200 ekor/m2), sebaiknya pemanenan dilakukan secara parsial (bertahap) berdasarkan daya dukung lahan. Udang ukuran size (ukuran) 150 ekor/kg hasil panen partial umur 50 hari berharga Rp 27 - 30 ribu, sedangkan size 70 – 60 ekor/kg berharga Rp 42- 45 ribu setelah dipelihara 100 - 110 hari.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Rokhmin Dahuri yang juga merupakan guru besar bidang Perikanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan langkah pemerintah untuk melakukan proses revitalisasi tambak di beberapa daerah harus berstrategi, jangan karena mengejar target penggenjotan jumlah produksi semata.

\"Pemerintah seharusnya memperhatikan berbagai kemungkinan yang akan terjadi apabila revitalisasi dilakukan. Jangan hanya karena dikebut jumlah produksi semata hingga mengabaikan lingkungan,” ungkapnya.

Menurutnya, aspek daya dukung lingkungan seharusnya menjadi perhatian pemerintah, jika tidak ingin gagal di tengah jalan. Belum lagi tingkat kepadatan udang yang juga harus diperhatikan. \"Maksimum kepadatan 60ekor per m2 . Sehingga produktivitas bisa mencapai 7-10 ton per panen. Kalau sekarang kan kelihatannya jor-joran ada yang tambak sekitar 200 ekor per m2 nya dan itu lah yang harus diperhatikan oleh pemerintah,\" tegasnya.

Related posts