Regulasi Mobil Murah Tersendat di Kemenko Perekonomian - Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat akhirnya buka suara soal aturan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC). Berlarutnya penetapan Peraturan Presiden (Perpres) soal subsidi produksi mobil murah ini karena masih ada poin yang harus direvisi.

Hidayat mengatakan lima menteri terkait, termasuk dirinya dan Menteri Keuangan Agus Martowardojo sudah menandatangani draft perpres LCGC. Hanya saja, tanda tangan terakhir belum dibubuhkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Alasannya ada kalimat redaksional yang belum tepat.

\"LCGC yang akan ditandatangani presiden sudah diparaf lima menteri di bawah Kemenko, tapi Menko belum paraf. Ada perubahan sedikit dari redaksinya, yang dianggap masih kurang tepat, jadi ada koreksi,\" ujarnya di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (18/4).

Menperin menyatakan koreksi itu tidak bersifat substansial. Prinsip utama seperti pembebasan bea masuk dan penghapusan pajak barang mewah untuk komponen ramah lingkungan buat mesin mobil seperti yang dijanjikan pada industri tetap tercantum di dalamnya.

Meski demikian, mantan Ketua Umum Kadin ini enggan mengungkap kalimat apa dalam rancangan perpres LCGC yang belum disetujui Hatta Rajasa.\"Enggak substansial. Itu hanya kalimat kurang sempurna. Biasa birokrasi maunya sempurna,\" ungkap Hidayat tanpa merinci lebih lanjut.

Aturan LCGC seharusnya keluar di awal tahun ini. Pengunduran jadwal ini membuat khawatir calon pembeli mobil murah dari Agya dan Ayla yang diproduksi oleh Astra Motor.

Salah satunya PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) yang juga siap bermain di mobil murah ramah lingkungan. Menurut Executive Marketing Director (KTB) Rizwan Alamsjah peraturan LCGC semakin kedepan malah jadi membingungkan apalagi Menperin menegaskan, seluruh mobil murah dan ramah lingkungan harus menggunakan BBM Pertamax. \"Kita itu sudah siap dan terus mengkajinya tapi kok semakin kedepan regulasinya semakin membingungkan. Sekarang katanya mobil murah harus pakai Pertamax,\" keluh Rizwan.

Maka dari itu, Rizwan memprediksi volume untuk mobil murah ramah lingkungan ini akan berkurang peminatnya. Karena masyarakat akan dibebankan dengan penggunaan Pertamax. \"Volumenya saya rasa akan menjadi turun kalau peraturannya akan menjadi seperti ini,\" tandas Rizwan.

Terus Molor

Sebelumnya gara-gara aturan soal LCGC terus molor, para produsen mengaku rugi. Sebab, beberapa produsen sudah melakukan persiapan, mulai dari bangun pabrik hingga konsep produk. Salah satunya, Presiden Di­rektur PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sudirman MR meng­aku, pihaknya mengalami ke­rugian hingga Rp 6 miliar akibat mo­lornya aturan LCGC. Anak usaha Astra Group ini telah mem­­per­siapkan pabrik untuk mem­produksi Ayla-Agya.

“ADM seharusnya bisa mem­produksi mulai Januari lalu. Kapasitas produksi 1.000 unit per bulan, selanjutnya menjadi 2.000 unit dan 3.000 unit. Saat ini, seharusnya sudah mencapai 6.000 unit, tapi belum jadi,” keluh Sudirman.

Ia bahkan memperkirakan, jika mobil tersebut dijual sekitar Rp 100 juta, maka diprediksi ke­ru­gian bisa mencapai Rp 6 miliar untuk produksi Ayla.“Jumlah ini belum termasuk Agya, potensi kerugiannya di­per­kirakan naik,” katanya.

Tak hanya kerugian secara material yang akan ditanggung, menurut Sudirman, perusahaan pemasok terpaksa berhenti ber­operasi karena Agya-Ayla tidak kunjung diproduksi.“Saat ini, ADM memanfaatkan pasokan dari 114 perusahaan komponen lokal untuk mobil tersebut. Dari seluruh perusahaan, 30 perusahaan merupakan pemasok baru dan hanya memasok untuk kami. Akhirnya mereka menganggur,” cetus Sudirman.

Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra menuturkan, pihaknya masih terus menunggu kapan regulasi mobil murah tersebut keluar.“Kami menyerahkan pada ins­tansi terkait mengenai kapan re­gulasi tersebut diterbitkan. Yang pasti, regulasi tersebut meng­ham­bat produksi dua mobil LCGC keluaran Daihatsu, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla,” ucapnya.

Sementara dari pihak Toyota yang juga berkolaborasi dengan Daihatsu memproduksi Agya berbeda pendapat. Presiden Di­rek­tur TAM, Johnny Darmawan tidak sepakat atas pernyataan Su­dirman tersebut.“Itu kan dari Daihatsu. Kalau dari kami belum sampai segitu (kerugian mencapai Rp 6 miliar). Memang pasti ada kerugian, tapi saya nggak mau berspekulasi berapa jumlahnya dan seperti apa,” kata Johnny.

Johnny pun enggan menanggapi lebih dalam akibat lam­bannya aturan mobil murah, yang bisa berpotensi memberikan ke­rugian bagi perusahaannya.Selain Toyota-Daihatsu, bebe­rapa Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) lainnya yang juga ikut ambil bagian pada program tersebut, Suzuki, Honda, Nissan dan Mitsubishi.

Pengamat otomotif, Suhari Sargo menilai, lambannya keluar aturan soal LCGC tersebut me­mang disebabkan aturan yang ada saat ini tidak sesuai kondisi di masyarakat, terutama mas­yarakat perkotaan. “Jika nanti banyak produsen yang memproduksi mobil murah, maka ini akan semakin me­nam­bah kemacetan, khususnya di wilayah perkotaan,” ucap Suhari.

Related posts