Menperin Ajak Investor China Bangun Pabrik - Tekan Impor Komponen Dan Mesin Tekstil

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat akan bertandang ke China untuk mencari investor permesinan bagi industri tekstil nasional. Dia mengatakan pabrik tekstil Indonesia terlalu bergantung pada mesin impor, sehingga daya saingnnya di pasar internasional lemah.

Hidayat akan membujuk investor China untuk membuka pabrik mesin pintal dan pewarnaan kain di Indonesia. Alat-alat pabrik itu akan lebih murah bila diproduksi di Tanah Air. Apalagi, banyak pabrik saat ini butuh peremajaan mesin.

\"Dari 2.900 pabrik tekstil di Indonesia, lebih dari 500 pabrik membutuhkan peremajaan mesin berikut komponennya, kalau kita terus menerus butuh impor bisa harus dibuat roadmap pengembangan industri tekstil mulai dari mesin sampai komponen,\" ujarnya saat membuka musyawarah nasional ke XIII Asosiasi Pertekstilan Indonesia di Jakarta, Kamis (18/4).

Kementerian Perindustrian saat ini telah memberikan insentif peremajaan mesin dan peralatan industri tekstil yang usianya lebih dari 20 tahun. Program ini berhasil meningkatkan produktivitas industri garmen dan kain Tanah Air menjadi 10% sejak 2007 hingga 2011. Namun, situasi itu dianggap belum cukup meningkatkan daya saing pengusaha lokal.

Di ASEAN, tekstil Indonesia baik dari segi produksi sampai jumlah ekspor masih kalah dari Vietnam. Perusahaan Tanah Air baru menyumbang 1,8 % kebutuhan tekstil dunia. Hidayat menargetkan, industri tekstil Tanah Air bisa memenuhi 4 sampai 5 % kebutuhan tekstil dunia. \"Untuk sampai ke sana, dibutuhkan 10 tahun,\" cetusnya.

Salah satu hal yang akan menjadi strategi Menperin menggaet investor China adalah memberi tawaran pembebasan pajak. Dia juga yakin situasi perburuhan Indonesia masih lebih kompetitif dibanding China, meski di Jabodetabek sering terjadi demonstrasi serikat pekerja. Namun, Mantan Ketua Kadin ini mengakui Vietnam juga menawarkan buruh murah kepada investor.

\"Di (China) ada masalah dengan tenaga kerja, tapi masalahnya kalau dia bilang tertarik ke Asean itu maksudnya ke Vietnam atau Indonesia. Kalau mereka mempertimbangkan (faktor buruh) lebih kompetitif, kita beri tax holiday,\" ungkapnya.

Sekolah Pertekstilan

Dalam kesempatan yang sama,Kementerian Perindustrian berencana menambah sekolah tinggi pertekstilan di Jawa Barat. Sekolah serupa sudah berdiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur bekerja sama dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).

Hidayat, menyatakan masalah krusial industri tekstil Tanah Air adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Meski gaji buruh rendah dan buruh di Indonesia lebih kompetitif di mata investor, namun di masa mendatang hal itu tidak akan berguna sebab produktivitas mereka rendah. \"Di Indonesia masalah lain industri tekstil adalah skill nya (pekerja). Kami merencanakan training, memperbanyak sekolah sebagai sumber tenaga kerja,\" kata Hidayat.

Di Jawa Tengah, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil untuk diploma satu sudah berdiri sejak lima tahun terakhir. Ribuan lulusan kini menjadi pekerja pabrik tekstil di provinsi itu. Sementara sekolah serupa di Jawa Timur akan diresmikan Januari tahun depan. Lokasinya berada di Surabaya dan diharapkan lulusannya mampu menguasai proses pemintalan, perajutan, sampai evaluasi mutu.

Berkaca pada hal tersebut, Hidayat akan melobi API Jawa Barat secepatnya melakukan hal serupa. Apalagi jumlah industri tekstil lebih banyak di provinsi tersebut.\"Di Jateng sudah ribuan lulusan, di Jabar belum. Jadi memang memperbanyak SDM tekstil merupakan andalan kita,\" tegasnya.

Menurutnya, jika industri tekstil dalam negeri bisa berkembang, dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Sifat industri tekstil yang padat karya membuat sektor ini akan banyak pekerja bisa terserap.\"Tekstil itu selain padat modal juga padat karya. Jadi ibu-ibu rumah tangga bisa dilatih enggak usah ekspor mereka ke luar jadi buruh migran,\" selorohnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum API Ade Sudrajat mendesak pemerintah mempercepat pembahasan FTA dengan Uni Eropa. Pengusaha garmen dan tekstil Tanah Air juga berharap pemerintah tidak terlalu lama menimbang masuk perjanjian kerja sama Asia Pasifik yang digagas AS.

Ade sangat yakin liberalisasi ke Eropa dan Amerika akan menguntungkan industri tekstil nasional. Sebab ekspor produk ke dua kawasan itu berpotensi meningkat. Selain itu, dia mengklaim kerja sama ini akan diiringi proses alih teknologi dan peningkatan kapasitas produksi. Dengan demikian penyerapan tenaga kerja juga turut meningkat.

Related posts