Kebijakan Setengah Hati - KONVERSI BBM KE BBG

Konversi BBM ke BBG

Kebijakan Setengah Hati

Untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM), pemerintah sudah mencanangkan program konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG), beberapa tahun silam. Menangkap programitu, bahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah mewajibkan mobil-mobil dinasnya untuk melakukan konversi dari BBM ke BBG dengan menggunakan converter kit.

Bajaj, angkutan rakyat di pinggiran Jakarta bahkan sudah diremajakan dan dengan menggunakan BBG. Bajaj berBBG itu disebut si kancil. Bus Transjakarta pun juga ikut menyukseskan program konversi BBM ke BBG. Ada sejumlah alasan mengapa BBG baik dipakai untuk menggerakkan mesin kendaraan.

Keuntungan pemakaian BBG dibandingkan BBM adalah, pertama, lebih ekonomis, karena harganya lebih murah. Kedua, memberikan pembakaran yang bersih dan ramah lingkungan, dapat mengurangi emisi karbon hingga 95%, emisi CO2 sebesar 25%, emisi HCl sebanyak 80%, serta emisi NOx sebanyak 30%. Ketiga, memperpanjang usia kendaraan, oli, busi. Keempat, pengurangan subsidi BBM dan impor minyak.

BBG berunsurkan gas metana (CH4)dan etana (C2H6) sekitar 90% dan sisanya gas propane (C3H8), butane (C4H10), pentane (C5H10), nitrogen, dan karbon dioksida (CO2). BBG lebih ringan dari udara dengan berat jenis 0,6036 dan mempunyai nilai oktan 120. Untuk beralih dari BBM ke BBG, diperlukan alat yang dinamakan converter. Peralatan itu meliputi solenoid gas, alat pengurang tekanan (PRV), tombol elektrik pipa gas, dan modifikasi tangki. Ada juga dua jenis bahan bakar, bensin dan elpiji.

Yang jadi masalah adalah pasokan BBG-nya. Jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) masih sangat terbatas. Akibatnya mobil-mobil mengalami kendala kesulitan mencari SPBG. Saat ini saja, untuk melayani 162 unit bus gandeng dan 471 bus pendek, hanya tersedia enam lokasi SPBG, di antaranya di Pinangranti, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Pemuda, Jalan Raya Pasar Minggu, Pancoran, dan Jalan Daan Mogot.

“Kami sudah mengatur bus-bus agar antrean di SPBG tidak terlalu panjang dan lama, tapi ya secepat-cepatnya butuh waktu sekitar dua jam pada hari kerja,” tutur Kelapa UP Transjakarta Busway M Akbar. Tadinya, di beberapa SPBG, bus Transjakarta harus berebut antrean dengan taksi dan si kancil. Kini nyaris tak ada lagi taksi yang menggunakan BBG.

Padahal, konversi BBM ke BBM ditengarai bakal menghemat subsidi BBM sekitar 300 ribu kiloliter atau setara dengan Rp 1,5 triliun. Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan terus membangun infrastruktur pendukung kebijakan itu. Di antaranya, mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,1 triliun untuk membangun 54 stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) jenis gas terkompresi (compressed natural gas/CNG) dan 108 SPBG jenis liquid gas for vehicles (LGV). SPBG tersebut akan dibangun di sejumlah daerah seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang Selatan, Bogor, dan Sidoarjo. Tahun lalu,Jero Wacik pun berjanji membagikan 25.500 unit converter kit untuk kendaraan dinas dan angkutan umum.

Kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, PT PGN berjanji akan memenuhi permintaan gas bagi SPBG baru untuk menunjang pasokan BBG bus Transjakarta. “Jangan ragukan kami untuk menyuplai gas, karena itu sudah jadi komitmen kami,\\\" tegas Direktur PGN Jobi Triananda di Jakarta, pekan lalu (12/4).

Menurut Strategic Management Office PT PGN Adi Munandir, kebutuhan gas untuk 520an armada adalah sebanyak 81.000 liter setara premium (LSP) per hari, angka tersebut setara dengan 2,5 MMScfd. Adi menjelaskan, jika jumlah armadanya mencapai 974 unit,baik bus gandeng maupun single, dibutuhkan pasokan sebanyak 173.775 liter setara premium (LSP) per hari dan setara dengan 5,35 MMScfd. “PT PGN juga siap melayani SPBU Pertamina maupun SPBU stasiun pengisian milik swasta yang ingin punya unit pengisian BBG,” kata Adi lagi.

Diua menjelaskan, pihak PGN siap menyambungkan jaringan pipa gas ke SPBG yang sudah siap.

Tahun ini, pihak Pertamina menjanjikan akan membangun SPBG baru di tujuh tempat di Jakarta, karena hanya disiapkan anggaran sebesar Rp 447 miliar. Padahal, pemerintah menargetkan pembangunan SPBG sebanyak 33 unit tahun ini. Sebelumnya, Direktur Gas Pertamina Harry Karyuliarto mengatakan sudah mengusulkan anggaran SPBG kepada pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Ketujuh SPBG itu meliputi 3 unit SPBG mother station dan daughter station, serta 4 unit SPBG Online.

Koordinator KOmite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengisyaratkan, program, konversi BBM ke BBG masih jalan di tempat. “Tak jelas targetnya, karena hal itu dilakukan tidak secara terpadu, jadi harus dievaluasi lagi,” ujar Puput, sapaan Ahmad Safrudin. (saksono)

Related posts