Pariwisata Tak Bertentangan dengan Budaya

Oleh: Sapta Nirwandar

Dirjen Pemasaran Kemenbudpar

Pariwisata tidak bertentangan dengan budaya dan agama, hanya saja tinggal bagaimana mengemasnya sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Budaya dan agama jangan dijadikan hambatan dalam pengembangan sektor pariwisata, karena sudah ada regulasi yang mengatur pariwisata tidak bertentangan dengan agama dan budaya.

Malahan, keunikan budaya dan tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki suatu daerah destinasi pariwisata harus dikembangkan menjadi daya tarik atau ikon untuk mengundang wisatawan.

Oleh karena itu, sektor pariwisata Sumbar hanya tinggal mengemasnya karena potensi wisatanya tak diragukan lagi, dan banyak dikagumi kalangan wisatawan. Jadi, destinasi sudah ada tinggal bagaimana melakukan pembenahan infrastruktur sambil jalan, sarana dasar pendukung seperti toilet-toilet harus diperbaiki.

Terkait permasalahan WC ini masih menjadi suatu kendala dan masih jauh dari pemenuhan standar, bila dibandingkan dengan pariwisata di sejumlah negara lain, misalnya di Prancis. Disana perilaku masyarakatnya mau membersihkan sendiri. Namun, kalau di sejumlah daerah destinasi di Indonesia, belum mencirikan suatu kebersihan. Artinya, “kebersihan sebagian dari iman” belum tergambar pada toilet yang ada.Justeru itu, dalam pengembangan dan pengemasan pariwisata sarana-sarana dasar ini harus menjadi titik perhatian.

Selain itu, patut diperhitungkan pemberdayaan masyarakat di lingkungan kawasan obyek wisata, agar terbangun kesadaran terhadap pengembangan pariwisata. Masalah transportasi juga tak kalah penting, karena merupakan akses untuk memperlancar ke lokasi-lokasi pariwisata. Jadi, Sumbar dalam pengembangan sektor pariwisatanya tidak mesti mengadopsi daerah lain, karena tonjolkan keunikan yang dimiliki.

Apa yang ada di Sumbar belum tentu terdapat di daerah lain, misalnya Bali tak akan ditemukan rumah bagontong atau kuliner seperti tunjang. Sumbar punya luas segmen pasarnya dilihat dari data kunjungan wismannya, karena ada dari Timteng, Australia, Malaysia dan Singapura.

Masalah keamanan dan kenyamanan wisman di Sumbar, sudah mulai menunjukan perbaikan karena sudah tersedianya penginapan-penginapan yang representatif. Dulu hanya beberapa hotel berbintang yang ada di Sumbar. Tapi pasca gempa malahan tumbuh cukup banyak, diantaranya ada Basko, Pangeran, Inna Muara dan yang lainnya menyusul.

Kini yang diperlukan ke depan pentingnya ditingkatkan pengemasan, promosi dan komunikasi antara pemerintah daerah dengan berbagai elemen pelaku pariwisata serta pihak berepentingan lainnya.

(Disampaikan dalam seminar bertema "Pemantapan Jaringan Promosi Pariwisata Daerah untuk Membangun Pariwisata Indonesia" di Padang, Kamis)

BERITA TERKAIT

Hadir dengan Produk Inovatif, AQUA Japan Optimistis Capai Target Market 32% pada 2018

Hadir dengan Produk Inovatif, AQUA Japan Optimistis Capai Target Market 32% pada 2018 NERACA Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasar…

Tak Ikut Danai Akuisisi Saham Freeport, Kemana Peran Bank BUMN?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) sudah memastikan, bahwa empat bank pelat merah tidak akan ikut membiayai proses…

The Fed Dinilai Tak Akan Agresif Naikkan Bunga

    NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah memprediksi Bank Sentral AS The…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Nasib Perang Dagang AS-China

  Oleh: Izzudin Al Farras Adha Peneliti INDEF   Perang dagang AS-China yang ramai sejak awal tahun ini terus berlangsung…

Membangun Industri Substitusi Impor

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dengan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tembus pada…

SK(T)M

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo SK(T)M pada judul diatas sejatinya terdiri dari 2 kata…