KPPU Tetap Meyakini Ada "Kartel Bank”

NERACA

Jakarta – Polemik seputar ada tidaknya praktik kartel di dunia perbankan nasional, semakin meruncing. Terlebih lagi setelah empat lembaga yang dianggap \"penguasa\" perbankan di republik ini sudah tegas-tegas menyatakan bahwa tidak ada praktik tak patut seperti itu. Empat lembaga itu antara lain Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan juga Perbanas. Tak pelak, kondisi itu membuat posisi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tersudut dan dinilai mengalami kesulitan dalam membuktikan ada tidaknya kartel.

Namun, “KPPU akan bekerja semaksimal mungkin untuk membuktikan adanya kartel tersebut”, tegas Komisioner KPPU, Syarkawi Rauf, kepada Neraca, Rabu (17/4).

Dia menjelaskan, KPPU akan bekerja dalam membuktikan adanya kartel suku bunga kredit perbankan. Kasus kartel ini tidak akan terselesaikan hanya tiga sampai tiga bulan saja melainkan butuh waktu panjang dan KPPU memperkirakan akan mengeluarkan laporan atas indikasi kartel suku bunga ini pada akhir tahun ini. “Bantahan adanya kartel suku bunga merupakan pekerjaan yang dilakukan BI, OJK, dan LPS, namun praktik kartel akan dibuktikan oleh KPPU. Kita lihat nanti saja saat waktu pembuktiannya,” papar Syarkawi tak mau kalah.

Dia mengakui bahwa dalam membuktikan adanya suku bunga kredit perbankan sangatlah rumit dimana KPPU belum bisa mendekteksi sinyal apa yang dilakukan pihak bank dalam membuat kesepakatan dalam sektor perbankan. “Pembuktian kartel tidaklah semudah dalam membongkar kasus korupsi dan oleh karena itu dibutuhkan bukti yang cukup mendalam dalam membuktikannya”, tukas dia.

Hanya saja, lanjut Syarkawi, dalam membuktikan adanya kartel suku bunga dilakukan dengan melihat fenomena pasar perbankan yang dikuasai atau didominasi beberapa bank saja, kemudian hal ini bisa disebut oligopoli. “Oligopoli ini akan berpengaruh atas perilaku perbankan dimana bank-bank akan melakukan kolusi yang akan mengakibatkan adanya kesepakatan bersama untuk menentukan suku bunga kredit perbankan”, tandas Syarkawi.

Yang menjadi \"pegangan\" KPPU adalah fakta penurunan suku bunga acuan (BI Rate) yang tidak serta merta diikuti penurunan suku bunga pinjaman atau kredit secara signifikan. “Ini menjadi kecurigaan utama. Persoalan, bisa jadi dari kebijakan, BI Rate terlalu tinggi. Untuk ini, bisa dikesampingkan karena BI Rate sudah menurun, tapi suku bunga pinjaman tidak turun signifikan. Jadi, ada kemungkinan kedua, yakni perilaku koordinasi,” ketus Syarkawi.

Sedangkan menurut pengamat perbankan yang juga anggota Komisi VI DPR RI, Hendrawan Supratikno, bahwa KPPU memang mengindikasikan adanya kartel suku bunga di perbankan nasional. \"Itu bisa dilihat dari NIM yang begitu tinggi di perbankan, keuntungan perbankan yang demikian tinggi, sementara sektor riil sedang terengah-engah, serta ada sejumlah bank yang menguasai pangsa pasar yang besar. Jadi ini adanya indikasi permainan suku bunga di perbankan,\" ujarnya, Rabu.

Menurut Hendrawan, Komisi VI akan mendukung dan membantu sekali KPPU untuk menyelesaikan kasus kartel ini. \"Itu karena kami ingin dunia usaha bergerak lebih dinamis lagi, terutama SBDKM bisa menjadi satu digit. Masa perbankan seringkali mengadakan perlombahan wirausaha sementara suku bunga UMKM-nya masih tinggi, padahal itu kan stimulus untuk masyarakat mau membuka usaha sendiri,\" ujarnya.

Oligopoli Behaviour

Sementara menurut pengamat perbankan Lana Soelistyaningsih, ada banyak rumusan untuk mengindikasikan adanya kartel atau tidak, antara lain Concentration Ratio 4 (CR4) dan Hafendhal Index. “Untuk menghitung dengan rumus CR4, yaitu total seluruh aset yang dimiliki 4 bank besar dibagi total aset seluruh bank yang ada kemudian dikalikan 100%, jika hasilnya antara 85% lebih, ada indikasi kartel”, jelas dia.

Lana menambahkan bahwa hasil tersebut harus dikomparasikan dengan rumus lain, namun hasilnya pasti mendekati.

Mengenai KPPU yang menyatakan kartel 14 bank, Lana menyatakan bahwa KPPU harus membuktikan bahwa adanya kartel tersebut. “KPPU harus buktikan secara empiris indikasi kartel 14 bank tersebut. Jika tidak ada bukti sama saja menuduh. Menurut saya itu bukan mengarah kartel, melainkan oligopoli behaviour yaitu kemungkinan bergerak searah namun mereka (14 bank besar) tidak janjian untuk naik atau turunkan bunga bank atau kebijakan lainnya”, jelas dia.

Lana juga menganggap bahwa memang sudah tugas KPPU mendeteksi adanya kartel pada bank. Namun, dia juga menegaskan kembali KPPU harus memberi bukti empiris agar tidak menjadi sebuah tuduhan.

BERITA TERKAIT

Tak Ikut Danai Akuisisi Saham Freeport, Kemana Peran Bank BUMN?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) sudah memastikan, bahwa empat bank pelat merah tidak akan ikut membiayai proses…

Laba Bank Jatim Tumbuh 5,01%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) mencatatkan laba bersih mengalami…

Bank Mandiri Kantungi Laba Rp 12,2 Triliun

NERACA Jakarta – Semester pertama 2018, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih Rp 12,2 triliun. Angka ini…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Akademisi: 'Permainan' Pedagang Atas Lonjakan Harga Telur

NERACA Jakarta - Penyebab melonjaknya harga bahan pangan, seperti telur ayam yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dapat terjadi…

KURS RUPIAH MELESAT HINGGA Rp 14.442 PER US$ - BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,25%

Jakarta-Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate-7DRRR) tetap 5,25%. Sementara itu, nilai…

Perundingan Dagang Indonesia-UE Bahas Isu Khusus

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif atau "comprehensive economic partnership agreement" (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa…