Inflasi April 2013 Diprediksi Turun

NERACA

Jakarta – Inflasi pada bulan April 2013 diperkirakan turun dari bulan-bulan sebelumnya. Hal tersebut disampaikan oleh pengamat ekonomi pertanian dari Universitas Lampung Bustanul Arifin. “Memang siklusnya Maret dan April itu deflasi karena musim panen, sehingga harga-harga produk pertanian turun,” kata Bustanul kepada Neraca, Rabu (17/4). Seperti diketahui, inflasi dalam tiga bulan di awal tahun 2013 ini masuk dalam level yang begitu tinggi. Inflasi Januari sebesar 1,03% adalah yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Inflasi Februari sebesar 0,75% adalah yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sedangkan inflasi Maret sebesar 0,63% adalah yang tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

Biang keladi dari tingginya inflasi dalam tiga bulan terakhir adalah harga produk-produk pertanian yang melambung tinggi, terutama produk hortikultura seperti bawang merah dan bawang putih.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan bahwa dalam amatannya, harga daging, beras, dan bawang sudah mulai turun, sehingga dia yakin akan terjadi deflasi pada April 2013.

“Beberapa harga pangan pada bulan April 2013 sudah mencatat penurunan. Di antaranya beras yang sudah memasuki masa panen, kemudian harga bawang putih dan daging sapi juga turun,” kata Suryamin.

Sebagian sudah terjadi penurunan harga, kata Suryamin, tentu itu ada juga yang pangan seperti beras dan yang lainnya panen. Bawang putih sudah turun, bawang merah naik tapi kenaikannya menurun. Daging naik tapi juga sudah menurun, kata Suryamin.

Dia optimistis bahwa pada bulan April akan terjadi deflasi. \\\"Kita kan masih minggu ketiga, jadi kita masih nunggu satu minggu lagi. Mudah-mudahan April deflasi,\\\" Suryamin optimis.

Menurut Bustanul, saat siklus panen, yaitu Maret dan April itu, setidaknya kenaikan harga tidak terjadi. “Tapi kita paham semua bahwa Maret kemarin memang padi atau beras memang nol atau minus kecil sekali alias tidak ada kenaikan harga. Adapun terjadi inflasi yang tinggi itu pemicunya harga produk hortikultura naik,” kata Bustanul.

Dampak harga beras itu, lanjut Bustanul, cukup signifikan kontribusinya terhadap inflasi. Sepanjang Maret-April, sedang terjadi panen raya sehingga harga beras sebagai salah satu kontributor utama inflasi tidak naik atau bahkan turun.

Kondisi ini seharusnya membuat inflasi Maret tidak tinggi seperti kemarin. Tingginya inflasi Maret lalu itu berasal dari kontribusi inflasi bawang putih sebesar 0,44% dan bawang merah sebesar 0,2%. Kalau sepanjang April ini kedua biang keladi tersebut dapat diredam, ditambah kondisi padi yang sedang panen raya, maka inflasi April dapat diredam.

Namun di balik itu semua, Bustanul merasa ada satu hal penting yang luput dari pengamatan, yaitu soal inflasi pedesaan. Di satu sisi, Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2013 turun menjadi 104,53, tetapi di sisi lain inflasi terus naik. “NTP petani itu turun karena inflasi pedesaan naik. Kalau di daerah-daerah, disparitas NTP demikian besar, itu serius. Di Jambi itu NTP nya 90, di Riau 90. Ini perlu diperhatikan,” pungkas Bustanul.

Untuk diketahui, Pada Maret 2013, NTP Provinsi Bangka Belitung mengalami kenaikan tertinggi (0,54%) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Jawa Tengah terjadi penurunan terbesar (1,05%) dibanding penurunan NTP provinsi lainnya.

NTP nasional Maret 2013 sebesar 104,53 atau turun 0,63% dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan turunnya NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,16%, NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun sebesar 0,01%, NTP Subsektor Peternakan turun sebesar 0,41%, dan NTP Subsektor Perikanan turun sebesar 0,19%. [iqbal]

Related posts