Perizinan akan Satu Pintu - Hortikultura dan Daging Sapi

NERACA

Jakarta - Pemerintah sudah berkeputusan akan memperlebar impor daging sesuai kebutuhan dengan catatan pengawasan yang ketat. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang akan mengurusi segala perizinan untuk impor dalam satu pintu.

“Nanti orang akan ke satu tempat saja untuk mendapatkan IT(Importir Terdaftar), RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura), dan SPI (Surat Persetujuan Impor). Tadinya IT di Kementerian Perdagangan, RIPH di Kementerian Pertanian, dan SPI di Kementerian Perdagangan. Ini semua nanti jadi satu, dan dokumennya satu,” jelas Gita usai Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Pertanian Suswono, dan beberapa pihak lain di Jakarta, Rabu (17/4).

Di tempat yang sama, Hatta mengatakan bahwa untuk tata niaga yang selama ini ada di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan akan lebih disederhanakan. “Sudah ada kesepakatan bilateral antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, dalam sistem satu atap tersebut akan merespon dengan cepat mulai dari rekomendasi sampai eksekusi di pengimporan,” kata Hatta.

Begitu juga dalam pengendalian di lapangan, lanjut dia, Kementerian Pertanian akan memperketat baik bea cukai maupun pada karantina yang mengacu pada best practices dalam impor dan ekspor, terutama hortikultura yang di manapun harus dilakukan karantina.

Gita menambahkan bahwa sistem satu atap ini akan dibuat transparan. “Akan kita on line-kan dengan karantina dan bea cukai lewat platform nasional single window. Bukan hanya orang bisa tahu proses perizinannya di mana dan kapan, tapi juga kita bisa memonitor realisasinya. Anggaplah dia dapat izin 10 kilo, baru 1 kilo hari apa bulan apa, itu sangat bisa dipantau secara online,” kata dia. Sistem ini, kata Gita, akan dimulai dalam satu sampai dua bulan lagi.

Menurut Gita, yang perlu dicermati dari impor ini nantinya adalah praktek-praktek yang terjadi di lapangan. “Jangan sampai nanti dia kita kasih izin untuk impor (daging) yang premium, tapi ternyata itu disebarluaskan ke tempat-tempat yang di bawah (pasar tradisional),” kata dia.

Namun Gita yakin bahwa risiko itu bisa dijaga, karena harga daging premium itu tinggi sekali. Pasar-pasar tradisional tentu saja tidak mampu menjangkau harga-harga yang tinggi.

“Juga nanti implementasinya harus dijaga, dalam arti, kalau dia dikasih izin untuk tipe-tipe daging yang tinggi (premium), tapi yang diimpor bukan tipe-tipe tinggi. Nanti kita akan duduk bersama Kementerian Pertanian dan kawan-kawan bea cukai dan karantina,” kata Gita.

Menteri Pertanian Suswono menitikberatkan hal yang sama. “Yang penting, ketika daging masuk, pengawasannya harus ketat. Jangan sampai namanya prime cut, tapi nyatanya bukan. Pengetatan kontrol ini menjadi sangat penting,” kata Suswono.

Jumlah impor nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan. “Impor itu fleksibel. Intinya itu sesuatu yang sangat fleksibel, sesuai kebutuhan. Kalau memang kita ada kekurangan itu di mana, apa jenisnya. Prinsip dasar impor adalah untuk menutupi kekurangan,” ujar Suswono.

Menurut Suswono, nantinya pengendalian impor daging sapi akan dilakukan dengan tarif. Menurut dia, itu perlu dilakukan karena kalau tidak, maka bisa menyebabkan distorsi ke para peternak. [iqbal]

Related posts