Bank Mega Siap Jadi “Bapak Angkat” - Ingin Gaet Lebih Banyak BPD

NERACA

Jakarta - Komisaris Utama PT Bank Mega Tbk, Chairul Tanjung, mengatakan bahwa Bank Mega sangat membuka dirinya lebar-lebar jika ada tawaran akuisisi saham dari Bank Pembangunan Daerah (BPD). Namun dengan syarat apabila BPD bersangkutan menawarkan diri terlebih dahulu.

“Kita tidak pilih-pilih BPD. Saya tekankan di sini mereka yang aktif mendatangi kita. Jadi yang lain pun kalau mau menawarkan, kita terima. Itu karena kita memandang masih banyak BPD yang bermasalah di permodalan, pengelolaan manajemen dan sebagainya,” jelas Chairul Tanjung di Jakarta, Rabu (17/4).

Pria yang akrab disapa CT ini mengaku kalau sampai saat ini sudah ada beberapa BPD yang melakukan pembicaraan dengan perusahaannya, CT Corporation. Namun sayang, dirinya enggan menyebut BPD yang dimaksud. “Tidak elok lah menyebut namanya. Tapi, selain Bank Sulawesi Tengah (Sulteng), sudah ada beberapa BPD melakukan pembicaraan dengan kita,” ungkap dia.

Menurut Chairul Tanjung, Bank Mega juga bersedia menjadi “bapak angkat” BPD, khususnya untuk membantunya menyelesaikan masalah di dalam internal mereka. Pasalnya, BPD ini membutuhkan partner yang dapat memberikan bantuan modal, bantuan manajemen, sistem dan teknologi informasi. “Itu termasuk bantuan sebagai “bapak angkat”,” tegas CT.

CT Corp, kata dia, yang sebelumnya sudah memiliki sebagian sahamnya di Bank Sulteng, menjelaskan kalau pihaknya tidak akan memaksakan menjadi pemegang saham pengendali BPD tertentu. Karena mayoritas saham BPD memang sebaiknya dipegang Pemerintah Daerah.

“Pengendalinya tetap Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota sebesar 70%. Kita hanya 30%. Kita tidak mau menjadi pemegang saham pengendali di BPD, karena mereka kan punya daerah. Tugas kita cuma membantu,” imbuhnya.

Dengan membantu permodalan di suatu BPD, CT berharap bahwa hal tersebut bisa membantu perkembangan BPD tersebut dan memajukan pembangunan daerah yang bersangkutan. “Filosofisnya, saya menginginkan semua daerah bisa maju. Karena saya percaya kalau semua daerah di Indonesia maju, otomatis negara ikut maju. Nah, kalau Indonesia maju, bisnis saya juga ikut maju, bukan begitu,” ujar CT, berkelakar.

Bank Mega, lanjut dia, juga memberikan pembiayaan channeling kepada BPD-BPD yang bekerja sama. “Yang penting adalah pembiayaan untuk end consumer. Karena itu tidak ada batasan atau bebas. Mau berapa sampai triliunan pun tidak ada masalah,” kata CT.

Chairul Tanjung juga bilang, dengan masuknya CT Corp sebesar 30% sebagai pemegang saham, maka itu secara otomatis sudah menambah modal BPD tersebut. Menambah modal, sambung dia, dapat dilakukan dengan cara rights issue atau menerbitkan saham baru, dan bukan membeli langsung.

“Jadi di sini kita (Bank Mega) yang menyetor kepada BPD. Misalnya, Bank Sulteng memerlukan dana untuk proyek pembangunan perumahan karyawan Pemda. Tapi asetnya kecil, sebut saja Rp1,5 triliun. Sementara untuk pembiayaan 1.500 rumah, kalau rata-rata harganya Rp100 juta maka bisa habis asetnya. Jadi itu kan tidak mungkin. Berarti dia membutuhkan “bapak angkat” yang bisa memberikan dana. Di sini lah Bank Mega berperan,” paparnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Jiwasraya akan Diselamatkan Anak Usaha

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan bahwa PT Asuransi Jiwasraya (Persero) akan diselamatkan oleh anak…

BI Tetap Akomodatif Antisipasi Ancaman Resesi

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan kebijakan moneter dan makroprudensial akan tetap akomodatif untuk mendorong pertumbuhan…

Lewat Bank Wakaf, OJK Bidik Penyaluran Kredit di Sektor Informal

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membidik peningkatan penyaluran kredit untuk sektor informal melalui Bank…