Kuartal I, Transaksi SBL Anjlok Jadi Rp 132,4 Miliar - Minim Permintaan

NERACA

Jakarta – PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) mencatat, fasilitas transaksi pinjam meminjam efek (Securities Borrowing Lending atau SBL) sepanjang kuartal pertama 2013 mengalami penurunan tajam dibandingkan priode yang sama tahun lalu.

Kepala Divisi Operasional Kliring dan Penyelesaian KPEI, Antonius Herman Azwar mengatakan, menurunnnya nilai transaksi pinjam meminjam efek lantaran rendahnya permintaan pelaku pasar dan minimnya suplai saham, “Rendahnya permintaan dari pelaku pasar menjadi penyebab transaksi pinjam meminjam efek turun,”katanya di Jakarta, Rabu (17/4).

Menurutnya, secara frekuensi tidak menurun yang turun itu hanya value dan volumenya itu memang lebih di sebabkan karena demand itu sendiri. Kendati pasar sedang bagus sejak awal tahun, namun nilai dan volume pinjam meminjam efek malah menurun.

Lebih lanjut lagi dia menjelaskan, dalam pelaksanaannya dibutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi antara lender (pemberi pinjaman efek) dan borrower (peminjam) juga lebih banyak digunakan pelaku pasar untuk penyelesaian settlement. Namun untuk aksi short selling dan transaksi bursa yang lain belum berjalan. Berdasarkan data KPEI tahun 2012 nilai transaksi kuartal pertama Rp 326,9 miliar sedangkan tahun ini hanya mencapai Rp 132,4 miliar.

Saat ini, dari 116 anggota bursa (AB), sebanyak 97 AB bertindak sebagai lender dan borrower dan tiga bank kustodi sebagai lender. Sisanya, sebanyak 19 AB akan disurati untuk bergabung. KPEI juga mengatur fee yang harus diberikan kepada lender sebesar 15% pertahun dari jumlah nilai saham yang dipinjam, “Kami akan mengajak sisa AB yang belum menjadi anggota untuk aktif dalam aktifitas pinjam dan meminjam efek. Untuk meningkatkan transaksi, KPEI akan menambah layanan SBL, yaitu bilateral lending and borrowing, bid and offer, dan automatic lending and borrowing,”ujarnya.

Bilateral lending and borrowing merupakan pinjam meminjam efek yang dilakukan secara bilateral, terutama untuk penanganan short selling atau aksi korporasi tertentu. Sementara bid and offer merupakan perjanjian pinjam meminjam efek di mana ketentuan besaran fee meminjam efek merupakan kesepakatan bersama dua pihak, peminjam efek dan pihak yang meminjamkan efek. Autometic Lending adalah jika penjual tidak bisa menyerahkan sahamnya, otomotis penjual tersebut menjadi borrower.

Menurut Anton, kurangnya edukasi membuat hanya sedikit AB yang aktif dalam SBL. Saat ini 70% AB yang aktif dalam SBL adalah broker asing. Menurut Anton hal itu disebabkan di negara mereka aktifitas SBL sudah biasa dan besar nilainya.

Selain kurangnya edukasi, investor institusi seperti asuransi dan dana pensiun masih khawatir jika mereka meminjamkan sahamnya akan melanggar aturan pasar modal. Di luar permasalahan itu KPEI mengusulkan adanya rekening pooling bagi saham yang berasal dari lender. Dengan adanya pooling ini maka menurut Anton akan memudahkan transaksi SBL.“Selama ini bersifat ad hoc saja. Lender memintanya begitu. Kalau ada yang pinjam, mereka baru mau mengeluarkan sahamnya,” paparnya. (nurul)

Related posts